Tampilkan postingan dengan label kota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kota. Tampilkan semua postingan

MERACIK SONGGI


.

Ini adalah kali pertama saya datang ke Kendari. Kendari merupakan salah satu propinsi yang berada di pulau Sulawesi bagian tenggara. Untuk mencapai kota Kendari dari Jakarta terlebih dahulu pesawat yang saya tumpangi transit sekitar 30 menit di Bandar udara Sultan Hasanuddin Makassar, kemudian baru penerbangan dilanjutkan ke Kendari yang memakan waktu 30-45 menit saja.


Teluk Kendari

Udara di Kendari terasa cukup panas. Mataharinya terik dan menyengat. Emmm, tapi bagi saya itu bukanlah sebuah masalah. Karena banyak hal menarik yang saya temukan di Kota ini. Salah satunya adalah makanannya ... Nah kali ini saya akan ceritakan makanan khas dari kota Kendari. Bukan saja unik dari segi rasa tetapi justru cara menyantap makanannya yang tidak sembarang yang membuat makanan ini istimewa. Naaaahh, ini dia


Songgi

Songgi. Yup. Songgi adalah makanan khas Kendari, yang terbuat dari sagu. Mungkin bagi saya yang terbiasa makan nasi, makan Sagu yang kental dan lengket terasa cukup aneh. Memang butuh sedikit perjuangan untuk memakannya, hehehe. Tidak sendiri, Songgi bisa disantap bersama lauk lainnya. Bukan sembarang lauk. Biasanya orang Kendari memadupadankan Songgi dengan sayur bening, kepala ikan palumara, daging, ayam, kabengga, kambatu, ikan panggang dan ikan gabus. Cara memakan Songgi pun sangat unik. Tidak sembarangan. Saya sempat bingung dengan beragam jenis makanan yang tersaji diatas meja. Untunglah pelayan restorannya mengerti sekali muka-muka bingung kami. Wajah-wajah kelaparan, walau didepan mata ada setumpuk makanan namun tidak tahu harus berbuat apa. Hehehe ...

Dengan sigap sang pelayan langsung ber”demo” didepan kami. Eiiit, bukan demo pake aksi bakar-bakar ban, tapi demo “bagaimana cara makan Songgi yang baik dan tidak kalap”. Hehehe ... 
  • Pertama, sebutir cabe rawit dipotong dan dihaluskan dengan sendok di atas piring masing-masing
  • Kedua, baru giliran Songginya. Nah cara ngambil Songgi tidak sembarangan. Tidak pakai sendok, garpu apalagi sekop, karena setahu saya sekop biasanya buat nyeruk pasir bukan sagu. Hihihi ... Songgi diambil dengan menggunakan sumpit. Satu dikanan dan satu dikiri. Sumpit digerakan memutar sehingga Songgi tergulung oleh sumpit. Nahhh, kalau udah kayak gitu Songgi yang lengket bisa di ambil dari komunitasnya sedikit demi sedikit tanpa paksaan ... :)
  • Nah giliran lauk pauk sebagai makanan pelengkapnyalah yang kemudian dimasukkan, seperti sayur bening, daging tawa oloho (tampilannya seperti sop), ayam dll
  • Dan jangan lupa menambahkan sedikit perasan jeruk nipis. Emmmh, dijamin segerrr.
Setelah pelayan restorannya selesai beraksi, akhirnya saya dan teman-teman mulai meracik makanan kami sendiri di piring masing-masing. Dengan konsentrasi tingkat dewa akhirnya dalam waktu kurang dari 5 menit saya pun selesai. Dan hasilnya ..... taraaaaa



Saya berhasil meraciknya, temans ... hahaha (versi simpel).


Sumber gambar : Dokumen pribadi

Mba Hangernya Mana?


.



Sedikit sensi kalau dengar kata hanger. Huhuhu, begini ceritanya, waktu itu tahun 2012 bertepatan dengan bulan puasa, saya bersama seorang teman pergi ke Bandung dalam rangka tugas kantor. Kebiasaan buruk saya kumat, untuk perjalanan yang tidak terlalu jauh dari Jakarta, seperti Bandung, saya sering acuh dan ga terlalu banyak prepare. Bandung ini, dekat kok.

Saya dan teman saya putuskan menginap di hotel X, ini kali pertama saya menginap disana. hotel tersebut dekat dengan travel yang kami tumpangi dari jakarta.  Tinggal jalan dikiiit, nyampe deh J. Karena teman saya masih ada jadwal kuliah, makanya kami ga berangkat bareng. Kuliahnya baru selesai jam 9 malam, jadi ia berangkat dari jakarta dengan menggunakan travel kira-kira jam 10an. Sedangkan saya memilih berangkat sore, jam 3an, niatnya biar sampai di Bandung sebelum Magrib, jadi bisa buka puasa disana sekalian. Yup, akhirnya saya nyampe juga di Bandung sebelum Magrib, 5 atau 10 menit menjelang azan.

Eiiit, untuk pertama kalinya dalam sejarah perjalanan yang saya alami, di hotel ini saya sadar kalau saya sedikit pikun. Hehehe, sedikit loh. Bagaimana tidak, pas mau check in hotel, pas mba resepsionisnya minta KTP, pas pula Kartu itu raib entah kemana. saya mulai kasak kusuk buka tutup dompet. Nervous dikit, habis takut dicurigain macam-macam sama mba nya. Saya baru ingat, KTP itu tertinggal di dalam tas ransel yang saya bawa waktu ke Yogya dalam perjalanan beberapa hari yang lalu. Haduuuh, ga mungkin saya harus menunggu teman saya datang, masih lama, mungkin saja tengah malam nanti ia baru sampai. Untunglah mba resepsionisnya percaya dengan alasan saya. Tidak ada KTP akhirnya saya pakai kartu pegawai, hehehe.

Selesai dengan KTP, saya dimintai uang penginapan. Oh Tuhan, masalah lagi, karena sebelumnya teman saya bilang pembayaran akan lewat kartu kredit dia saja. Tapi saat ini dia ga disini, saya telepon ga diangkat. Emmm, saya berpikir keras, bagaimana saya bisa seceroboh ini, lupa bawa KTP sekarang juga hanya bawa atm yang isinya ala kadarnya saja. Alhamdulillah Tuhan masih sayang sama orang sabar seperti saya, hehehe, ada uang cash di dompet kira-kira 300 ribuan, sebagai DP awal penginapan. Done!

Setelah dikasih kunci, saya langsung “terbang” ke kamar. Haaahhh, melelahkan dan memalukan. Rasa-rasanya mba resepsionis itu hapal betul wajah saya. Wajah-wajah ceroboh yang patut dikasihani. Pas mau menghempaskan badan ke kasur, eiiit, saya lupa kalau kuitansi DP uang yang saya kasih belum dibalikin ke saya. Haduuuh, gimana mau ngambil balik uangnya coba, kalau bukti kuintansinya ga ada. Akhirnya saya bergegas menelepon resepsionisnya. Untunglah mereka ingat dan langsung diantar ke kamar. Tepat jam setengah satu malam, teman saya sampai di hotel. Syukurlah, sedikit khawatir dengan keputusan dia yang berangkat malam-malam ke Bandung sendirian. Saking khawatirnya saya sampai tertidur pulas ... eh salah ya. Hehehe

Pas sahur, saya terpaksa jalan sendirian ke restoran hotel, berhubung sang teman tercinta tidak puasa. Dekat lobi sebelah kanan, begitu info mba resepsionis tadi sore. Tapi kenyataan yang saya jumpai berbeda, lobi sebelah kanan memang ada restorannya, ada meja dan kursi makan, tapiiii gelap sodara-sodara, tak setitik cahaya pun yang mampu menembusnya, haiiiiaaa ... L. Saya bingung. Saking bingungnya sebuah pertanyaan besar muncul di kepala saya, Thomas Alfa Edison itu jomblo apa bukan yah? Soalnya keseringan ngutak ngatik lampu daripada ngeceng di mall, laaah, ... hehehe. Untung lagi ada tamu lain yang seperti saya. Ditengah kebingungan, datanglah pahlawan kami, mas resepsionis dengan seragam kebesarannya, tanpa babibu, dengan tatapan nanar ia langsung mengarahkan telunjuknya lurus, kami manut aja. Dan benar adanya, ternyata misteri restoran yang hilang itu berhasil dipecahkan. Ternyata resto yang digunakan adalah resto hotel sebelah yang masih satu group dengan hotel yang saya tempati. Huuuuuuhhh ....

Saya dan teman saya menginap dua malam di sana. Alhamdulillah pekerjaan kami di Bandung, bertemu dengan orang-orang ITB berjalan dengan lancar. Pas mau pulang, saya dan teman saya kembali pulang sendiri-sendiri. Ia memilih balik ke Jakarta naik travel jam 5 pagi. Kalau dipikir-pikir memang aneh, mulai dari awal dia sampai di Bandung tengah malam dan balik ke Jakarta jam 5 pagi, saya mulai merinding dan bertanya-tanya, jangan-jangan dia ada hubungan kekeluargaan sama Edward Cullen, sama-sama takut matahari  ... ehmmmm

Kembali, tinggalah saya sendiri. Saya memilih pulang jam 7 pagi. Dengan semangat 45 saya langsung menuju meja resepsionis buat check out dsbnya. Wajah mba resepsionis terlihat senang, mungkin ia lega akhirnya saya keluar juga dari hotelnya. Hehehe ... DP yang pernah saya serahkan, saya terima kembali. Done!

Sesampai di travel saya langsung duduk manis dideretan bangku paling belakang. Ada dua mba-mba cantik  yang duduk di samping kanan saya. Setelah berbalas senyum seperlunya, akhirnya saya tertidur dengan khidmat. Alhamdulillah semua selesai, pekerjaan dan peristiwa di hotel yang mengharu biru, tamat juga.

15 menitan kemudian, tiba-tiba HP saya berbunyi, nomor yang tak dikenal, kode wilayah jelas-jelas punya Bandung. Saya angkat ....

Ya, hallo ...
Dengan ibu ades (suara di seberang sana)
Yup dengan saya sendiri
Maaf ibu, kami dari hotel X mau konfirmasi (suara di seberang sana)
Iya, ada apa yah mba?
Setelah kita check kamar ibu tadi, kok ada barang kita yang tidak ditemukan ya ... (suara di seberang sana)
Hah kok bisa?
Barang apa ya mba?
Satu buah Hanger .... (suara di seberang sana)

Waduuh, saya langsung panik, saking paniknya saya kembali tertidur pulas. Damn .... :(


Keterangan :
Hanger = gantungan baju

sumber gambar: www.google.com

Kesempatan Hidup Kedua


.




Degup jantungku bertubi-tubi menyentak bilik-bilik pada rongga dadaku, lidahku kelu, tak satupun kata yang bisa kueja dengan benar. Seharusnya rangkaian doa panjang lah yang bisa kudengungkan di saat seperti ini. Bahkan sebuah surat yang biasa kubaca berulang-ulang paling tidak 17 kali atau lebih sehari semalam pun ayat-ayatnya berhamburan tak jelas di bibirku. Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Seperti inikah akhir kisahku tertulis dalam catatan lauhul mahfuzMu? Ya Allah, gemetar mataku menutup, berharap semua hanya mimpi. Tapi ini nyata, Ya Allah, mungkin saja saat ini salah satu Malaikatmu ada diantara kami, Izroil, Allahu Akbar, dari ratusan nyawa ini siapa yang akan disapa olehnya? aku menggigil. Aku takut ...

Tiba-tiba aku ingat ibu, bapak, dan dosaku ...

Awal Juli 2013. Sebuah tugas dadakan mengharuskan saya untuk terbang ke Makassar, tiga hari, kamis hingga sabtu. Dadakan karena perintah untuk pergi kesana baru saya dapat pada hari rabu, yup satu hari sebelum keberangkatan. Karena penting, ga bisa ditunda lain waktu, adalah akhirnya saya buru-buru berburu tiket pesawat dan hotel. Tiket garuda full, akhirnya saya dan teman-teman memilih untuk menggunakan pesawat lain. Ada 6 (enam) orang yang berangkat. Kami sepakat untuk naik pesawat jam 5 sore. Pada hari H, pesawat yang kami tumpangi baru berangkat jam 6 lewat, dua kali delay.

Saat take off, hujan mulai turun, rintik kecil-kecil, terlihat sapuan tetesnya yang tersangkut tipis di permukaan jendela pesawat. Sesekali kilat menyilaukan, langit terang sebentar, sepersekian detik, dan kembali menyisakan gelap yang pekat. Kira-kira 15 menit setelah take off, pesawat sedikit bergetar, saya tak terlalu ambil pusing, hal yang biasa terjadi.  Cuaca memang tak baik, mungkin saja karena hujan atau karena gesekan pesawat dengan awan yang cukup tebal. Namun getaran pada badan pesawat tak juga berhenti. Sudah hampir 5 menit, tak hanya itu, getarannya mulai terasa kencang. Tubuh saya terdorong kekiri dan kekanan. Getarnya semakin kuat dan tak wajar. Angin seolah-olah mempermainkan badan pesawat. Saya bertumpu, memegang kuat kursi yang berada tepat didepan saya. Bibir saya tak berheni-henti melafazkan tasbih, tahlil, salawat, apa saja. Saya ingat dosa.

tak sekedar bergetar, badan pesawat berkali-kali terguncang. Tubuh saya terlonjak kuat ke atas, dan kembali terhuyung ke kiri dan ke kanan. Begitu menakutkan. Pikiran dan perasaan saya mulai tak karuan. Jujur saat itu saya merasa takut sekali akan mati. Saya ga siap, saya ga mau mati seperti ini. YA Allah, saya ingin pulang saja, bertemu dengan orang tua saya, mencium dan memeluk mereka, meminta ampun dan maaf kepada mereka. Berangkai doa dan harapan saya panjatkan saat itu kepada Allah. Berharap guncangan pada pesawat yang kami tumpangi segera berhenti. Namun di tengah doa saya, tiba-tiba saya merasakan sesuatu hal yang sangat mengerikan, pesawat jatuh kira-kira setengah hingga satu meter ke bawah. Hampir seluruh penumpang berteriak. Keadaan semakin tegang. Dari arah belakang samar-samar saya mendengar suara isakan tangis. Ini memang bukan main-main, siapa yang tidak was-was dan takut dibuatnya. Saat ini kami sedang berada di atas udara dengan ketinggan ribuan kaki dari daratan. Bila pesawat ini jatuh mungkin saja di bawah sana bukan daratan yang akan kami jumpai, mungkin saja lautan, atau tempat-tempat yang tak pernah terjamah oleh manusia.

Saya merinding, disamping saya duduk seorang lelaki setengah baya. Saya tebak umurnya sudah 60 tahunan lebih, wajahnya terlihat serius, kedua bola matanya mengatup, kedua tangannya terangkat, beliau sedang khusuk berdoa. Melihat itu saya semakin kelu, seharusnya saya melakukan hal yang sama. Namun tangan saya tak sedikitpun mampu digerakkan, lemah. Saya berdoa dalam hati, sekhusuk-khusuknya ...

Perjalanan ke Makassar yang biasanya ditempuh dalam waktu hampir 2 jam itu terasa begitu lama bagi saya, mungkin begitu pula yang dirasakan oleh penumpang lainnya. Sepanjang perjalanan getar pada pesawat masih sering terjadi, walau tidak separah sebelumnya. tasbih, tahlil, takbir, solawat, dan surat-surat AlQuran tak putus-putusnya saya lafazkan. Berharap kami segera sampai di Makassar dengan selamat.

Tepat jam sepuluh (kurang lebih) waktu Indonesia Tengah (WITA) akhirnya pesawat kami mendarat juga di Bandara Hasanuddin Makassar dengan selamat. Tak henti-hentinya saya mengucap syukur kepada Allah SWT. Sungguh Ia Maha Penyayang. Hidup saya saat ini, bagi saya adalah hadiah tak terhingga dari Allah, kesempatan kedua yang tak boleh disia-siakan.

Sesungguhnya yang paling dekat dengan manusia itu adalah kematian ...
Kullunafsin dzaiqatul maut, setiap yang bernyawa pasti akan mati ...

Sumber gambar : google

Bukan Semalam di Malaysia, Tapi 2 Jam di Bukittinggi


.

Ini judul apa curhat ya, panjang amat …. Hehehe. Ya tapi begitulah kenyataannya. Ini bukan tentang Malaisya negara yang terkenal dengan menara kembarnya itu, bukan tentang lagu “semalam di Malaisya” apalagi tentang ipin upin kartun buatan Malaisya yang bisa tembus Disney channel. BUkaann. Ini adalah tentang Bukittinggi dan Aku, aiiiiih, romantisnya. Jadi begini ceritanya, kata ustad, kalau ngaku beriman sama Allah maka harus yakin dan percaya kalau jumlah rejeki yang kita dapat setiap bulan atau tahunnya tak pernah bisa diprediksi. Alias ga bisa dihitung secara tepat. Artinya ada yang namanya rejeki  yang Allah siapkan melalui cara atau jalan yang tak terduga atau tanpa disangka-sangka. JAdi ga cuman mengharapkan gaji bulanan tok, tapi yakin dan percaya pintu rejeki itu bisa darimana saja.

Nah, tanpa diduga dan dinyana justru rejeki itu menghampiri saya. Tepat tanggal 1-3 Juli kemaren sebuah titah pun turun dari langit, ahaiii, sebuah surat yang cukup bikin hati cenat cenut berantakan, bikin pegel linu di badan lenyap seketika, bahkan saking senangnya saya tidak lagi memikirkan terjemahan kata “galau” dalam bahasa sanskerta. Bagai punguk merindukan bulan, bagai burung lepas dari sangkar, akhirnya salah satu impian saya terwujud juga. Senangnyaaa. Allah Maha Baik, sebuah surat dinas mengharuskan saya terbang ke kota kelahiran, ranah bundo kanduang. Padang.

Karena tak punya waktu banyak, kesempatan untuk singgah ke BUkittingi tidak saya sia-siakan. Saya sengaja mengambil penerbangan paling pagi ke Padang, boarding jam 6.20 WIB. Huhuhu, butuh perjuangan yang luar biasa. Sebelum subuh sehabis sahur, saya sudah harus mandi dan packing. Tepat jam setengah 4 pagi saya langsung tancap gas menuju gambir, dengan diantar sepeda motor. Gambir, masih sepi, ya iyalahhh, masih pagiii. Damri menuju bandara sudah stand by, ada 5 sampai 6 bis yang parkir. Saya melirik jam, 4 kurang 15. Belum imsak apalagi subuh. Karenanya dengan soknya saya memperlambat tempo, artinya kecepatan berjalan saya tak lagi seganas waktu berangkat dari rumah. Saya malah sok-sok an pakai mampir beli makanan ke minimarket. Memperlambat tempo ceritanya, toh damrinya juga belum jalan, masih jam 4 masih keburu, pikir saya. Eh, ternyata lagi asyik belanja saya ditinggal damri.

Saya berlari melambai-lambai, sampai mengirim sinyal SOS kepada drivernya, tapi tetap tak digubris. Akhirnya saya pasrah naik bis berikutnya yang jalan setangah jam kemudian. Walau penuh harcem (harap cemas), akhirnya sampai juga dibandara jam 5.15an. Saya langsung check in dan memilih langsung ke ruang tunggu dan menuju ke mushala untuk shalat subuh. Tepat jam 6.20 pemberitahuan untuk masuk ke pesawatpun terdengar. Dengan nasionalisme yang tinggi dan merah putih didada, saya akhirnya masuk airline yang selalu mengingatkan saya pada lagu Garuda di Dadaku itu … hehehe.

Tepat jam 8.15 pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Internasional Minangkabau. Wuiiih senangnya. Berdasarkan instruksi dan arahan dari beberapa pakar perkampungan (baca: orang yang sering pulang kampung), saya bisa naik ojek atau pun taksi dari bandara menuju ke travel tujuan Bukittinggi. Dengan nasionalisme yg mulai tergerus oleh sukuisme akhirnya saya memilih naik ojeg dengan harga 10 ribu saja. Sebenarnya juga bisa naik taksi dengan harga 15 ribu ke travel. Mencari ojeg memang sedikit susah. Jadi pilihan tergantung pada keuangan anda-anda sekalian. Sesampai di travel saya beli tiket tujuan BUkittinggi seharga 40 ribu, sayangnya bis ke BUkittinggi baru berangkat jam 10. Adalah saya akhirnya menunggu, untungnya ada teman ngobrol, seorang ibu sekitaran 60 tahun lebih. Bis datang tepat waktu, atas anjuran ibu teman ngobrol saya itu, akhirnya saya setuju untuk duduk didepan berdua dengannya, disebelah supir. Tidak rugi, karena sepanjang perjalanan mata saya puas menikmati keindahan alam yang dilalui selama perjalanan. Bukit dengan lembah yang terbentang dikiri dan kanan jalan. Semua tampak hijau, menenangkan mata yang melihat. Amboiii, rancak bana. Bis juga melewati lembah anai, salah satu objek wisata berupa air terjun. Perjalanan memakan waktu hampir 2 jam setengah. Pada travel ini, penumpang bisa rekues untuk diantar sampai alamat. Namun sekali lagi, dengan congkaknya saya lebih memilih turun di pul-terminal akhir bis travel. Saya berjalan sekitar 20 meter menuju aur kuning, karena bingung mencari angkutan umum yang dulu biasa saya tumpangi waktu sekolah menuju rumah, akhirnya saya mutar-mutar tak tentu arah. Hampir setengah jam, akhirnya tanpa rasa berdosa angkot putih bulukan itu nyengir-nyengir kuda tepat ditempat yang pertama kali saya lalui. Halahhh ….

Jam 1 teng, akhirnya saya menginjakkan kaki di rumah kelahiran saya. Sedikit haru biru, melow, nangis-nangis bawang bombai, saya lihat setiap jengkal rumah yang pernah saya tinggali hampir 18 tahun itu. Banyak kenangan, pasti dong. Setelah lepas kangen dengan etek (adik ibu saya) akhirnya jam didinding berdentang dengan sadisnya. Tiga kali. Apa artinya? Artinya Cinderella harus segera pulang, melepas sepatu kaca, dan mengikuti instruksi sutradara untuk pura-pura rela dizolimi ibu tirinya. Hehehe … artinya saya harus segera kembali ke travel yang mengantarkan saya ke Padang. Haaaah, perjalanan yang cukup singkat, tapi lumayan menyenangkan, lumayan kembali mencairkan kenangan-kenangan yang sempat terlupakan, atau sengaja dilupakan.

Nah, untuk ke Padang, saya dikenakan biaya 35 ribu, diantar sampai ke alamat. Tepat jam 7 lebih dikit, diantara malam yang gelap dan pekat, disertai hujan lebat saya sampai juga di Hotel tempat saya menginap di Padang. Bertemu teman-teman yang telah dengan setia menahan lapar, menunggu kedatangan saya untuk makan malam bersama. Ahhhh senangnya.


Allah memang Maha baik, Maha keren … Moga next time rejeki yang ga diduga-duga itu datang lagi yah, Paling tidak jangan cuma 2 jam, tapi semalam di Bukittinggi. Amiiin. 

Kasiah Tak Sampai


.

Kasiah tak sampai artinya kasih yang ga kesampaian kurang lebih itu deh artinya. Ini bukan cerita tentang Siti Nurbaya dan Samsul Bahri yang kisah kasihnya tidak sampai, apalagi drama korea endless love yang mengisahkan kasih dua saudara Ensu dan Jusu yang juga berakhir tragis. Bukan, bukan banget.
Sumber gambar : Google
Kasiah tak sampai adalah judul lagu Minang yang dipopulerkan oleh Elly Kasim (semoga tidak salah). Nah, saya yang secara de euro dan defakto adalah asli cetakan Minang, sudah akrab dengan lagu-lagu Minang. Dan salah satunya adalah Kasiah Tak sampai. Dan ini adalah salah satu lagu Minang favorit saya.


Berikut liriknya.
Kasiah Tak Sampai
Malang bacinto bintang jo bulan
Kasiah digungguang dek matoari
Bia bacarai nyao jo badan
Putuihlah tali jantuang jo hati
Cinto ka uda den baok mati
Ka dalam tanah maik bakubua
Datang malaikaik yo nan batanyo
Apo kadayo yo nan takana
Kasiah ka uda nan indak sampai
Yo nan takana, kasiah ndak sampai
Cinto den indak ado duonyo
Cinto den hanyo ka uda surang
Bia mangamuak topan jo badai
Cinto den indak ado duonyo
Bia di dunia kasiah ndak sampai
Yo di akhiraik den nanti juo
Uda den nanti dalam sarugo
Cinto den indak ado duonyo
(Ciptaan Syahrul Tarun Yusuf, Dipopulerkan oleh Elly Kasim)

Sumber video : www.youtube.com

Bila Ku Pulang Nanti ... Hopefully!!!


.

Duh dah kebelet pengen pulang kampung. Smoga ada rezeki dan ada umur tahun ini pengeeeeen banget balik ke kampuang halaman. Delapan tahun buuuu !!! 30 Juni 2001 silam ... T_T
Bakalan berubah total tuh kampuang nan jauh dimato. Kayak apa ya? Wondering ... hehehe. Iseng-iseng berhayal kalo nanti kesampean pulang (hopefully), dah punya planning neh mau kemana ... Dah terjadwal, ruapiiii .....


1. Pengen nengok SD Terang Benderang (SD Negeri 26 Kubang Putih) ketemu sama guru2nya * Bu Ros (guru kelas 1ku), Bu Nur, Bu Yeni, Bu Lis (Guru agama yang super duper baik hati) dsbnya ... SMP Negeri Tercinta (SLTP Negeri 3 Banuhampu Sei Puar) dekat pasar Padang luar, nah disini penuh cerita cinta dan persahabatan. Sama SMU Favoritku (SMU Negeri 1 Bukittinggi) klo disini penuh persaingan akademik, menguras otak tapi still happy kok ... Nah disekolah2 kenangan ini aku pengen Poto2 dan mengingat kembali segala memoar yang pernah terjadi disana. Hik ... hik ... hik

2. Jalan-jalan ke sawah, menghirup udara kampuang yang masih perawan jauh dari polusi ... Lari2 di tengah sawah wakakaka *serasa indiaheeee ... aca2*

3. jalan-jalan ke Ngarai Sianok, menikmati panorama dan pemandangan alamnya yang asri. Terakhir kesana klo ga salah pas SD. Dah lama bo'. Pernah nonton acara wisata kuliner di tv, ternyata di bawah ngarai ada restoran yang jualan itik lado hijau ... yummmy, sekalian mau nyobain.

4. Belanja ke pasar bukittinggi, di pasar bawah makan sate yang dekat ngetemnya bendi2. Bau kotoran kuda sih, cuma tetep aja eunak. Semua makanan khas bukittinggi ada disini, lemang, cindua, wiiiiihhhhh. Puas deh pokoke. Nah klo Pasar atas, bisa belanja souvenir, baju, jilbab, sendal khas Bukittinggi, pokoke pernak-pernik minang lah. Lukisan, gantungan tas, dsbnya ....

5. Ke jam gadang. Pengen tau udah berubah seperti apa. Jangan2 angka empatnya udah ditukar menjadi IV bukan IIII lagi. Dan ga lupa poto2 disana.

6. Mifan, MInang Fantasy. Nah klo yang ini belum pernah liat sich. Baru liat di Inet katanya di Padang panjang udah ada tempat semacam Dufan kecil di Jakarta. Perlu juga nih ditengok, walaupun ga ngebet banget.

Yup ... Kira2 tempat2 inilah yang paling pengen aku datangin. Semoga tahun ini bisa ... tak cuma tempat, pun orang-orangnya seperti Fabio Rosa (gadis berkumis tipis), Fan, tuan muda Oryza Sativa, Tek Mas, Cimung, Ipat, Cayi. Dan Teman-teman masa kecil ku ....


Juanda, 16022009

Raun-raun ke Batam


.

Jadi malu, klo mau dibilang raun. Sadar buuuu .... ini kan dalam rangka dinas. Emmmhh ... ya ya ya. Jam 18.20 teng, pesawat Garuda yang membawa gue dan tim sampe juga di Bandara Hang Nadim Batam. Alhamdulillah. Bagi gue setiap kali naik pesawat selalu teringat sama Film Final Destination. Tanya kenapa?
Biar ga pada penasaran, gue bawa in viewnya Batam. Hasil hunting ke pulau Bintan dan kota Batam sekitarnya ....
Gambar ini diambil dari atas Planet Holiday hotel lantai 19 pagi-pagi .....Nah dibawah ini pemandangan di Tanjung Uban kep Bintan. Kita kesana ke depotnya Pertamina. Jreeeeeeeeeeenggggggggggg. Nah ini gambarnya ...
Bagus kan ??!! Emmmmmhhh, coba mampir sebentar ke Singapura, pasti lebih keren ... weleh2

Juanda, 17 Nov 08