Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan

Ayah : Kisah Buya Hamka


.


Ayah. Salah satu buku bagus yang saya rekomendasikan wajib untuk dibaca. Khususnya bagi anda yang ngaku2nya penggemar Hamka :) Buku terbitan Republika ini adalah hasil karya dari Irfan Hamka, salah seorang putra dari Buya Hamka. Tentu saja buku ini mengupas tuntas tentang sosok Buya Hamka dari sudut pandang Bapak Irfan sebagai anak Buya Hamka. Bagaimana Hamka, sebagai seorang ulama besar yang disegani di negaranya sendiri maupun dunia Internasional (Buya adalah salah satu penerima Doktor Honoris Causa dari Universitas Al Azhar tahun 1959. Kalau tidak salah, beliau adalah orang ke4 yang memperoleh gelar kehormatan tersebut, salah satunya juga adalah ayahnya H. Karim Amarullah). Beliau juga seorang pejuang kemerdekaan, politikus, penulis, sastrawan, dan bagi sebagian orang juga dianggap sebagai seorang sufi.

Begitu banyak kisah hidup Buya yang dituangkan pada buku Ayah ini. Mulai dari bagaimana Hamka muda yang sangat haus akan ilmu agama, belajar dengan gigih dan tidak malu bertanya pada orang-orang hebat. Kegigihan beliau terlihat saat Buya memberanikan diri nekat belajar agama sekaligus menunaikan rukun islam yang ke5 ke Mekah pada usia 18 tahun tanpa sepengetahuan sang ayah dan keluarga besarnya. Tak hanya pintar dan cerdas di urusan agama, Buya juga terkenal aktif berjuang melawan penjajahan, beberapa organisasi ia ikuti. Ia terjun langsung ke lapangan, bergerilya, dan harus rela berpindah-pindah tempat guna menghindari kejaran Belanda. Buya juga ahli bermain silat, khususnya silat minang. Beliau belajar dari pamannnya yang juga seorang pandeka (ahli silat) di kampungnya. Terdapat beberapa cuplikan tulisan yang menceritakan keahlian Buya dalam olahraga bela diri ini.

Buya bukan seorang yang pendendam, saya suka sekali membaca cuplikan-cuplikan kisah yang tertulis di buku ini tentang bagaimana arif dan bijaksananya seorang Buya Hamka. Sebaik apapun seseorang tentu ada saja yang tidak suka. Hal ini juga dialami oleh Buya. Beberapa lawan politik, ulama bahkan seorang wartawan pernah berseberangan dengannya. Sebut saja Soekarno, Muhammad Yamin sampai seorang Pramudia Anantatur. Bagaimana dulu tanpa alasan yang jelas Buya Hamka harus rela merasakan dinginnya penjara selama hampir 2.5 tahun pada masa pemerintahan Soekarno. Namun ia tak pernah dendam pada Soekarno,  Buya malah bersyukur dipenjara karena dengan beliau ditahan Buya berhasil merampungkan tafsir Al Quran, yang terkenal dengan tafsir Al Azhar. Keluasan hati beliau terlihat saat beliau meluluskan pesan terakhir orang yang pernah memenjarakannya itu. Soekarno berpesan bila ia meninggal nanti maka Hamkalah yang akan menjadi imam shalat jenasahnya, dan Hamka mengamininya.

Begitu pula halnya di dunia sastra. Bagaimana Pramudia Anantatur yang pernah menuduh Buya sebagai seorang plagiat atas karyanya Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Hamka tetap tenang. Buya tak dendam. Hal ini terlihat saat Pramudia meminta calon menantunya yang non muslim untuk belajar agama Islam kepada Hamka. Pramudia mengakui walaupun ia dan Hamka berseberangan dalam urusan politik dan ideologi, namun urusan agama ia tetap menyerahkan kepada Hamka. Kisah lainnya seperti perbedaan cara pandang Buya dengan Muhammad Yamin. Diceritakan saat rapat penentuan dasar negara Buya pernah mengusulkan Islam sebagai dasar negara ini, dasar negara diluar Islam hanya akan mendorong manusia ke jurang neraka. Pendapat Buya ini mendapat pertentangan keras dari seorang tokoh nasional yaitu Muhammad Yamin. Beliau memusuhi Buya akibat ucapan Buya yang tergolong berani tersebut. Namun Hamka tidak pernah dendam, sekali lagi hal ini terbukti saat detik-detik kematiannya, Muhammad Yamin meminta Buya Hamka untuk datang ke Rumah Sakit. Saat itu Buya datang, dan beliaulah yang membantu tokoh nasional itu untuk mengeja kalimat suci di akhir hidupnya. Buya pula yang mengantar jenasah beliau kembali ke Sumatera Barat.

Cuplikan-cuplikan kisah pada buku ini juga menceritakan bagaimana Hamka sebagai suami dan seorang ayah di tengah-tengah keluarga besarnya. Ada cerita yang unik, lucu, dan sedih. Salah satunya seperti kisah saat Buya dengan berani dan tegas menyatakan fatwa haram bagi umat Islam untuk ikut merayakan ibadah agama umat lain. saat itu beliau menjabat sebagai ketua MUI, karena fatwa beliau berseberangan dengan pemerintah, akhirnya Buya memilih mengundurkan diri sebagai ketua MUI. Buya juga pernah menolak undangan untuk datang ke istana guna menghadiri pertemuan dengan Paus yang saat itu berkunjung ke Indonesia. Menurut saya lelaki ini sangat luar biasa, selain cerdas, pintar ia juga berani dan tegas.

Banyak kisah-kisah lain tentang Buya Hamka yang dikupas tuntas di buku ini. Membaca buku ini saya seolah melihat visualisasi Buya Hamka dengan kisahnya sendiri-sendiri. Dengan tatapan mata bijaknya, dan kedalaman ilmu agamanya, saya seolah melihat bagaimana Buya duduk pada sebuah kursi dan kemudian asyik mengukir tinta penanya pada berlembar-lembar kertas, mungkin saja itulah lembaran yang kemudian kita kenal dengan nama Tafsir Al Azhar, atau novel Merantau ke Deli.

Emmm, dari cuplikan-cuplikan kisah yang saya baca. Satu hal yang selalu saya ingat betul. Buya sangat suka mengaji Al Quran sebelum tidur, beliau bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengaji, sampai malam menjelang, sampai ia pun terlelap.

Demikian ....


Sumber gambar : www.google.com

Negeri 5 Menara


.

Ditengah gempuran pekerjaan yang terkadang takut-takut membuat alzaimer ini, syukurlah masih ada waktu untuk membaca novel Negeri Lima Menara. sebenarnya kenal novel ini baru satu minggu ini. Itu pun tidak diniatkan, maksudnya? Awalnya membeli novel ini bukanlah tujuan utama. Karena sebelumnya sama sekali ga pernah dengar apalagi liat ini novel. Udah lama ga beli buku lagi, trus iseng2 buka web jualan buku online, baris paling atas tertera daftar buku2 baru. Daaaaan novel N5M tidak ada dalam urutannya!!! Lah?!

Justru novel terbaru milik Andrea Hirata berjudul Padang Bulan dan Cinta dalam Gelaslah yang menjadi incaran. Nah, cerita punya cerita. Kalo beli buku online ini harga buku yang udah didiskon ditambahin sama ongkos kirim. Daaaan, kalau mau ongkos kirimnya free harus beli buku dengan harga diatas seratus ribu rupiah. Karena harga buku yang mau aku beli dibawah 100 ribu makanya aku putar otak. Tiiiiiiiing, secercah cahaya datang ... hehhehe. Angkat telpon dan mulailah nanya sana sini siapa diantara anak-anak yang mungkin pengen/ngebet/kebelet beli buku.

Sayang hasilnya nihil, pada bokek. Tapi tunggu dulu, dari mangsa terakhir yang aku telp, sebut saja namanya bunga. Baru terungkaplah siapa/apa makhluk yang bernama N5M ini.
"Boleh, aku mau beli Negeri 5 Menara. Aku nitip yah." Seru suara di seberang sana yang terdengar merdu, setidaknya untuk kali ini saja.
"Emang bagus yah bukunya?" Tanyaku sekadar basa basi basi.
"Kamu ga tau yah, itu kan buku yang suka dibaca sama si bos." Referensi yang tak cukup meyakinkan. seringkali selera bos dan anak buah jaauuuuuuuuh berbeda.
"Cerita tentang anak pesantren gitu." jawaban dari seberang. Wah standar pikirku lagi. Mulai tak antusias.

Tapi sayang seribu kali sayang. Toko buku onlinenya ga jualan makhluk yang bernama N5M ini. Akhirnya adalah aku sendiri. Dengan uang sendiri, belanja sendiri ditambah membayar ongkos kirim sendiri pula. Membeli Padang bulan andrea hirata.

Pas pulang kerja, ceritanya singgah dulu ke Gunung Agung. Eeeeeh, ga dinyana ternyata didepan mata terpampang indah tuh makhluk. Negeri 5 Menara. Ragu-ragu, maju mundur maju mundur. Ngintip2. Bolak balik novel ini muka belakang. Wuiiiih banyak testimoninya. Nama-nama yang memang bukan sembarang. sepertinya okeh tuh. Akhirnya tanpa tedeng aling2 kusambarlah ia.

Singkat cerita, Padang Bulan telat dikirim sampai 1 minggu lebih. aku yang kutuan buku akhirnya mulai mencoba mengkhatamkan N5M. Hasilnya dalam jangka waktu 3 hari 2 malam, makhluk ini tertelanjangi juga. Ups, kebaca tuntas.

Hasilnya, Baguuuuuuuuuuuuuuuus luar biasa. Kalau meminjam kata motivator Mario Teguh, super. Tidak biasa, dan pantas untuk dibaca. Penuh inspirasi dan motivasi.

Naaaah untuk review novel ini akan coba aku bahas next time yah. Soalnya sudah harus kerja lagi nih. Oke ^ ^

Jakarta, 2 juli 10

Maryamah Karpov (Ending yang mengecewakan!!!)


.

Dua hari yang lalu, buku itu masih terbungkus rapi dalam balutan plastik tipis. Kutatap lama. Kutimbang2, tak jauh beda ketebalannya dengan kakak sulungnya Laskar Pelangi. Rasa penasaran tentu saja berdenyut2 di otakku. Bagaimana ending dari perjalanan panjang kisah seorang Ikal. Sampul depan tetap konsisten memampang gambar seorang gadis yang sedang memegang sebuah biola. Ada tambahan kata2 dibuku itu. Tak cuma Maryamah Karpov. Ada deret kata baru yang dibubuhkan dibawahnya. Mimpi2 LIntang. Terdengar cukup menarik buatku. Setelah cukup lama, dari dua buku sebelumnnya (sang pemimpi dan edensor) tokoh yang bernama LIntang absen. Dan kali ini malah namanya nyata2 diukir dibawah judul buku terakhir ini. Aku berpikir awam, di buku ini Lintang akan kembali dikupas tuntas.

Ternyata persepsi awamku salah besar. Hampir separuh buku telah ku baca. Sayang tokoh lintang masih belum kutemukan. Aku seperti seorang pendatang baru di tanah asing yang menumpang sebuah bis dan diajak berkeliling2 tanpa tahu sebenarnya kemana tujuan akhirnya. Sebentar kemudian aku mulai menemukan tokoh Arai. Sayang ia hanya muncul sebentar. Aku merasa tokoh arai mati dalam buku ini. Seakan numpang lewat saja. Menutup kisah arai dengan mendepaknya keluar dari area cerita. Memaku tokoh ini hingga tak bergerak leluasa. Aku tidak menemukan semangat seorang simpai keramat disana.

Penulis lebih banyak bercerita pada hal yang terkadang tidak terlalu penting. Penat mata ini. Akhirnnya tokoh2 dalam Laskar Pelangi hadir. Tidak ada yang surprise bagiku. Semua datar2 saja. Hingga tokoh Aling yang selama ini dicari ditemukan.

Dan tibalah pada endingnya, inilah yang paling menyesakkan dan membuat aku kecewa. Ikal memilih Aling sebagai sebuah pilihan hidup selanjutnya, dibandingkan mengikuti keinginan ayahnya. Bukankah penulis sering menggaungkan kalau, ayahnya adalah ayah juara satu di dunia. Dan bukankah ini adalah sebuah memoar. Rasanya pembaca akan sangat mengerti sekali bila cinta ikal dan aling memang tak pernah bisa bersatu. Wallahualam... Semua kembali kepada penulis yang punya hak sepenuhnya atas tulisannya.


Juanda, 1 Des 2008