Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan

Quote 13 Feb 2014


.

Berdoa .... 


Mendoakan ...


 Dan minta didoakan ... 

(Ust Yusuf Mansur)


UYM&Ibu1
Sumber gambar : www.google.com

Ayah : Kisah Buya Hamka


.


Ayah. Salah satu buku bagus yang saya rekomendasikan wajib untuk dibaca. Khususnya bagi anda yang ngaku2nya penggemar Hamka :) Buku terbitan Republika ini adalah hasil karya dari Irfan Hamka, salah seorang putra dari Buya Hamka. Tentu saja buku ini mengupas tuntas tentang sosok Buya Hamka dari sudut pandang Bapak Irfan sebagai anak Buya Hamka. Bagaimana Hamka, sebagai seorang ulama besar yang disegani di negaranya sendiri maupun dunia Internasional (Buya adalah salah satu penerima Doktor Honoris Causa dari Universitas Al Azhar tahun 1959. Kalau tidak salah, beliau adalah orang ke4 yang memperoleh gelar kehormatan tersebut, salah satunya juga adalah ayahnya H. Karim Amarullah). Beliau juga seorang pejuang kemerdekaan, politikus, penulis, sastrawan, dan bagi sebagian orang juga dianggap sebagai seorang sufi.

Begitu banyak kisah hidup Buya yang dituangkan pada buku Ayah ini. Mulai dari bagaimana Hamka muda yang sangat haus akan ilmu agama, belajar dengan gigih dan tidak malu bertanya pada orang-orang hebat. Kegigihan beliau terlihat saat Buya memberanikan diri nekat belajar agama sekaligus menunaikan rukun islam yang ke5 ke Mekah pada usia 18 tahun tanpa sepengetahuan sang ayah dan keluarga besarnya. Tak hanya pintar dan cerdas di urusan agama, Buya juga terkenal aktif berjuang melawan penjajahan, beberapa organisasi ia ikuti. Ia terjun langsung ke lapangan, bergerilya, dan harus rela berpindah-pindah tempat guna menghindari kejaran Belanda. Buya juga ahli bermain silat, khususnya silat minang. Beliau belajar dari pamannnya yang juga seorang pandeka (ahli silat) di kampungnya. Terdapat beberapa cuplikan tulisan yang menceritakan keahlian Buya dalam olahraga bela diri ini.

Buya bukan seorang yang pendendam, saya suka sekali membaca cuplikan-cuplikan kisah yang tertulis di buku ini tentang bagaimana arif dan bijaksananya seorang Buya Hamka. Sebaik apapun seseorang tentu ada saja yang tidak suka. Hal ini juga dialami oleh Buya. Beberapa lawan politik, ulama bahkan seorang wartawan pernah berseberangan dengannya. Sebut saja Soekarno, Muhammad Yamin sampai seorang Pramudia Anantatur. Bagaimana dulu tanpa alasan yang jelas Buya Hamka harus rela merasakan dinginnya penjara selama hampir 2.5 tahun pada masa pemerintahan Soekarno. Namun ia tak pernah dendam pada Soekarno,  Buya malah bersyukur dipenjara karena dengan beliau ditahan Buya berhasil merampungkan tafsir Al Quran, yang terkenal dengan tafsir Al Azhar. Keluasan hati beliau terlihat saat beliau meluluskan pesan terakhir orang yang pernah memenjarakannya itu. Soekarno berpesan bila ia meninggal nanti maka Hamkalah yang akan menjadi imam shalat jenasahnya, dan Hamka mengamininya.

Begitu pula halnya di dunia sastra. Bagaimana Pramudia Anantatur yang pernah menuduh Buya sebagai seorang plagiat atas karyanya Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Hamka tetap tenang. Buya tak dendam. Hal ini terlihat saat Pramudia meminta calon menantunya yang non muslim untuk belajar agama Islam kepada Hamka. Pramudia mengakui walaupun ia dan Hamka berseberangan dalam urusan politik dan ideologi, namun urusan agama ia tetap menyerahkan kepada Hamka. Kisah lainnya seperti perbedaan cara pandang Buya dengan Muhammad Yamin. Diceritakan saat rapat penentuan dasar negara Buya pernah mengusulkan Islam sebagai dasar negara ini, dasar negara diluar Islam hanya akan mendorong manusia ke jurang neraka. Pendapat Buya ini mendapat pertentangan keras dari seorang tokoh nasional yaitu Muhammad Yamin. Beliau memusuhi Buya akibat ucapan Buya yang tergolong berani tersebut. Namun Hamka tidak pernah dendam, sekali lagi hal ini terbukti saat detik-detik kematiannya, Muhammad Yamin meminta Buya Hamka untuk datang ke Rumah Sakit. Saat itu Buya datang, dan beliaulah yang membantu tokoh nasional itu untuk mengeja kalimat suci di akhir hidupnya. Buya pula yang mengantar jenasah beliau kembali ke Sumatera Barat.

Cuplikan-cuplikan kisah pada buku ini juga menceritakan bagaimana Hamka sebagai suami dan seorang ayah di tengah-tengah keluarga besarnya. Ada cerita yang unik, lucu, dan sedih. Salah satunya seperti kisah saat Buya dengan berani dan tegas menyatakan fatwa haram bagi umat Islam untuk ikut merayakan ibadah agama umat lain. saat itu beliau menjabat sebagai ketua MUI, karena fatwa beliau berseberangan dengan pemerintah, akhirnya Buya memilih mengundurkan diri sebagai ketua MUI. Buya juga pernah menolak undangan untuk datang ke istana guna menghadiri pertemuan dengan Paus yang saat itu berkunjung ke Indonesia. Menurut saya lelaki ini sangat luar biasa, selain cerdas, pintar ia juga berani dan tegas.

Banyak kisah-kisah lain tentang Buya Hamka yang dikupas tuntas di buku ini. Membaca buku ini saya seolah melihat visualisasi Buya Hamka dengan kisahnya sendiri-sendiri. Dengan tatapan mata bijaknya, dan kedalaman ilmu agamanya, saya seolah melihat bagaimana Buya duduk pada sebuah kursi dan kemudian asyik mengukir tinta penanya pada berlembar-lembar kertas, mungkin saja itulah lembaran yang kemudian kita kenal dengan nama Tafsir Al Azhar, atau novel Merantau ke Deli.

Emmm, dari cuplikan-cuplikan kisah yang saya baca. Satu hal yang selalu saya ingat betul. Buya sangat suka mengaji Al Quran sebelum tidur, beliau bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengaji, sampai malam menjelang, sampai ia pun terlelap.

Demikian ....


Sumber gambar : www.google.com

Sister Over Flowers, Lee Seung Gi


.

Sudah lama rasanya tidak berkunjung dan mencurahkan isi hati dalam rangkaian kata (hahaha, sastra sekali ya), maksudnya nulis disini. Okeh, tidak mau memperpanjang mukadimah, kali ini saya mau kembali mengisi blog ini dengan tulisan tentang ..... Lee Seung Gi. Penting ya? Dibilang penting sih engga juga, paling tidak kali ini penting buat saya. :)

pas libur sabtu/minggu kemaren, pas nyetel tv, pencet remote sana sini sesukanya, eh malah akhirnya terdampar dengan khidmat di channel tv korea (M channel, klo ga salah), sebenarnya jujur saya udah jarang nonton yang namanya serial2 korea. Dengan satu alasan, "takut terjerumus" .... hahahha. Tenang2, maksudnya takut terjerumus ke yang namanya ketagihan, soalnya dampaknya sangat signifikan terhadap saya dan kelangsungan hidup orang-orang disekitar saya. halaaahhh ... Nonton korea, khususnya buat saya, suka bikin lupa waktu, selain itu berdampak disorientasi linguistik (bahasa serapan saya ), 7 hari 7 malam nonton korea bikin saya susah membedakan mana bahasa minang mana bahasa korea. hahaha .... entah kenapa orang2 dirumahpun serasa pada sipit semua habis nonton korea berhari-hari.

Sister Over Flower, nah ini acara yang saya tonton waktu itu, sebenarnya saya ga pernah tahu ini acara apa, saya kira SOF sejenis drama korea plesetan dari Boys Over Flower. Engga! Saya salah besar. Ternyata acara ini adalah reality show ala korea. Sejenis tantangan juga sih sebenarnya. Jadi ada satu bintang tamu (artis koreanya) mereka harus mendampingi 4 wanita korea biasa melakukan perjalanan ke negara2 tertentu. empat wanita ini usianya bervariasi, ada yang masih muda sampai ada yang sudah tua banget. Nah disitulah serunya.


Pas episode kemaren, pas banget bintang koreanya adalah Lee Seung Gi, bukan cuma Lee Seung Gi yang membuat saya betah duduk berlama-lama nonton SOF kali ini. Tapi karena destinasi negara yang ditujulah yang bikin saya merem melek gigit jari ... hahaha. Turki, sodara-sodara, Turkiiii .... Ahhhhh, salah satu negara tujuan wisata yang saya impi-impikan untuk didatangi. ah, kenapa dek Lee Seung Gi tak membawa saya saja, tapi oma2 ituuuuh!!

Selama perjalanan di Turki ada drama2 ala reality show korea yang disuguhkan. Tapi semua tersaji dengan apik dan baik. Mulai dari perjalanan di dalam Mesjid Biru Aya Sophia, lucunya melihat wajah lee seung gi dan 4 sisters lainnya yang takjub dan ga berhenti ternganga2 melihat keindahan dalam masjid. Banyak kejadian lucu dan unik di dalam masjid. Sayangnya ada pemahaman yang kurang dari para pemain reality show ini tentang sejarah masjid ini, tergambar dari komen-komen mereka, yang saya pikir sedikit salah. But well, gpp sih namanya juga belum tahu.

Lanjut ke tantangan dan drama ala reality show, mulai dari para sisters yang mulai keletihan, lee seung gi yang kena kutukan gasing turki, sampe kepanikan lee mengetahui salah satu sister ada yang terpisah dari mereka. Ah lucunya lagi melihat bagaimana Lee Seung Gi harus berfikir keras karena kesulitan menghitung uang yang akan ditukar ke money changer. Pada malam hari, kutukan gasing yang dibeli oleh Lee Seung Gi masih berlanjut, karena ternyata hotel tempat dia menginap kehabisan kamar. Awalnya Lee disarankan menginap bareng di kamar 2 sisters lain dengan extrabed. Tentu saja keadaan ini bikin 2 sisters bingung dan keadaan mendadak kaku sekaligus lucu. Tapiiii, Akhirnya diputuskan Lee menginap bersama para kru dan teknisi, yang kamarnya otomatis sempit dan berisik. hahahha .... Kasian kau Lee Seung Gi .....

Kalau penasaran dengan realitty show ini, ini ada sedikit previewnya (maaf linknya aja, habis ga bisa upload)

https://www.youtube.com/watch?v=up5GGj63GU4

Masih menunggu next destination, katanya sih kroasia ..... semangat Lee Seung Gi !!!

Sumber gambar : www.google.com
Sumber Video : www.youtube.com



Jodoh Itu Mutlak Rahasia Allah


.

 
Sumber gambar : Google
Ada yang sudah dekat tiba-tiba menjauh.
Ada yang jauh tiba-tiba mendekat.

Ada yang sudah sayang tiba-tiba
membenci.
Ada yang belum kenal tiba-tiba menyayangi.

Ada yang sudah direncanakan
tanggal nikahnya tiba-tiba berantakan.
Ada yang tidak direncanakan tiba-
tiba datang mengajak nikah.

Ada yang sudah dijodohkan tiba-
tiba dibatalkan.
Ada yang tidak dikenal sebelumnya
tiba-tiba menjadi jodohnya.

Itulah rahasia JODOH..

Hanya Dia yang tahu kapan kita berjodoh.
Hanya Dia yang tahu dengan siapa
kita akan berjodoh.
Hanya Dia yang tahu dengan cara
apa kita bertemu jodoh.

Tugas kita adalah berusaha
dengan cara yang baik.
Tugas kita adalah berusaha
dengan menjadi baik.
Tugas kita adalah menerima
apapun keputusan terbaik menurut Allah.

Dan satu hal jangan kita abaikan.
Jangan pernah merasa lelah
meminta dan terus meminta
melalui DOA kepada-Nya.

Semoga Allah melancarkan dan meridhai serta membukakan pintu jodoh bagi siapa saja yang belum punya jodoh.
Berdoalah kepada Allah, hanya Allah-lah yang dapat memberikan semua hajat apa yang kita inginkan, termasuk dalam urusan jodoh.
Dan juga yang belum punya anak keturunan segera mendapatkan anak keturunan.
Serta yang lagi pengen usahanya meningkat, tanpa hutang yang menumpuk, dipermudahkan, dan diperlancarkan oleh Allah.

Semoga Allah mengabulkan doa kita semua. Aamiin...
Sumber Kutipan : FB Ust. Yusuf Manshur

Shield of Straw


.

Shield of Straw. Emmm, satu lagi film Jepang non romantik alias bukan film yang penuh oleh kisah cinta-cinta an ala korea yang mengharu biru, yang saya rekomendasikan wajib untuk ditonton. Sebenarnya tahu dan nonton film ini ga sengaja sih. Lagi di pesawat menuju Makassar, awalnya saya prepare buat nonton film korea yang berjudul The Miracle in the cell No. 7 yang direkomendasikan teman saya. Pas udah mulai take off pesawat, mulai gatal nih jari buat searching film korea yang dimaksud, ealaahh, ternyata film tersebut udah ga ada lagi, karena udah awal bulan, jadi film-film barulah yang diputar. Gimana lagi, akhirnya saya mulai hunting, kira-kira film mana yang bagus dan layak tonton untuk "anak" seusia saya, hehehe. Ada beberapa film holywood, satu film bolywood (Barfi) dan sudah pernah saya tonton, sisanya tinggal satu film korea, dua film china dan satu film Jepang. Dari gambarnya tak satu pun sebenarnya yang menarik perhatian. Yang korea sepertinya standar, kisah cinta, waduh engga dulu deh, lagi capek sama yang mengharu biru kelabu. 

Maka alhasil, saya menjentikkan jari ke Film Shield of Straw. Sebenarnya cukup aneh saja kalau saya memilih film ini, gambarnya depannya adalah seorang laki-laki dan perempuan berseragam jas lengkap rapi jali, berdiri saling membelakangi dan memegang pistol. Sejak kapan saya suka film ginian?! Tapi yang bikin penasaran adalah dibelakang mereka ada magnet kuat yang menarik saya, wajah salah satu aktor favorit saya Tatsuya Fujiwara, the best actor yang berani menantang arus dalam beberapa filmnya. Bagi saya,  Ia berani menjadi antagonis. Justru dari peran antagonisnya itulah ia disukai. Aktingnya total, tak takut jelek, tak takut dibenci fans. Begitulah.

Shield of Straw bercerita tentang perburuan seorang pembunuh yang paling dicari seantero Jepang. Bukan karena ia telah membunuh 7 nyawa saja yang menjadikan sang pembunuh bertitle "wanted" tapi karena salah satu korbannya adalah seorang cucu politikus dan konglomerat di Jepang, daaann tentunya kakek konglomerat ini tidak tinggal diam saja melihat cucu kesayangan dibunuh secara sadis, ia dendam kepada sang pembunuh. Karena itulah ia mengadakan sayembara bagi siapa saja yang berhasil membunuh sang pembunuh cucunya hidup atau mati akan mendapatkan uang sebesar 10 juta dolar. Lah, siapa yang tidak tertarik, coba?!



Sang pembunuh sadis bernama Kiyomaru diperankan oleh Tatsuya Fujiwara. Sumpah, aktingnya keren. Ia pintar mengaduk-aduk emosi, begitu licik, kadang polos dan patut dikasihani, namun kadang menjengkelkan dan memuakkan. Hebaaatttt ...Singkat cerita, Kiyomaru menyerahkan diri ke Polisi karena takut, sejak sayembara atas dirinya bergulir semua orang berlomba-lomba ingin membunuhnya. ia merasa tidak ada yang bisa dipercaya, sekalipun temannya. Nah disinilah cerita baru dimulai, 5 polisi terpilih ditugaskan untuk mengawal Kiyomaru pindah dari Fukuoka ke Tokyo untuk diadili. Perjalanan mengantar pembunuh sadis ini dari Fukuoka ke Tokyo bukan perkara gampang. Banyak rintangan. Bagaimana tidak, setiap orang berlomba-lomba untuk membunuh Kiyomaru. Tidak saja karena ingin mendapatkan hadiah sayembara, namun ada juga yang ingin membunuhnya dilatarbelakangi dendam, karena anggota keluarga mereka yang menjadi korban kekejian Kiyomaru. Konflik cerita semakin meningkat, ketika 5 anggota polisi yang ditugaskan pun diliputi rasa tidak percaya satu sama lain. 

Karena keberadaan Kiyomaru yang selalu terpantau oleh Kakek konglomerat tersebut, maka polisi-polisi itu merasa ada yang berkhianat. Sayangnya banyak korban yang berjatuhan hanya demi menjaga Kiyomaru. Perjalanan menuju Tokyo ditempuh dengan berbagai cara, mulai dari pengawalan ketat dari kepolisian, naik kereta, menumpang mobil curian, hingga berjalan kaki. sepanjang perjalanan mulailah terkuak siapa sebenarnya yang telah berkhianat. Walaupun akhir dari cerita ini bisa ditebak. Namun film ini sangat recommended, setiap adegan yang disuguhkan seolah rangkaian ketegangan yang tak putus-putus. sekali lagi hebat, baik untuk sang sutradara apalagi para pemainnya. 

Tatsuya Fujiwara, top abisss !!!

Sumber gambar : google

HAMKA


.

Sumber : Wikipedia, the free encyclopedia

Haji Abdul Malik Karim Amrullah, known as Hamka (born in kampung Molek Sungai Batang Maninjau, West Sumatra February 17, 1908 - and died in Jakarta July 24, 1981) was a prominent Indonesian author, ulema and politician. His father, syekh Abdul Karim Amrullah, known as Haji Rasul, led and inspired the reform movement in Sumatra upon his arrival from the holy land Mecca in 1906.. In 1970's, Hamka was the leader of Majelis Ulama Indonesia, the biggest Muslim organizations in Indonesia besides Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah.

In the Dutch colonial era, Hamka was the chief editor of Indonesian magazines, such as Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, and Gema Islam.

He was given the title Buya, derived from the Arabic word Abi or Abuya meaning Father or someone respectable. Hamka was only getting a relatively low education in Maninjau Elementary School. He reached only until grade 2. But when he was about 10 years old, his father founded the Thawalib or religious teaching school in his hometown Padang Panjang. Hamka then learned and mastered Arabian language. He also took mentors from famous Muslim scholars such as Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto and Ki Bagus Hadikusumo.

At the beginning Hamka worked as a religion teacher in 1927 at a plantation in Tebing Tinggi, Medan and also in Padang Panjang around the year 1929. Hamka then worked as a teacher in University of Islam, Jakarta and University of Muhammadiyah, Padang Panjang from 1957 to 1958. After that, he became the rector in High Institute of Islam, Jakarta and given the title Professor from University of Mustopo, Jakarta. From 1951 to 1960, he was given in the position as a Religion High Officer by the Ministry of Religion, Indonesia, but he deliberately step off from the position when the former Indonesian first President Sukarno asked him to choose between taking up with the position of civil employee or becoming a political activist in Muslim organization Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

Hamka was an autodidact in many subjects such as philosophy, literature, history, sociology and politics, both from Islamic side and Western side. With his skillful ability in Arabic language, he mastered the works from those Middle Easterners high scholars such as Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti and Hussain Haikal.

Through his skill in Arabic Language also he examined the works of French, British and German scholars such as Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx and Pierre Loti. Hamka was a hungry reader and like to do discussions with famous figures in Jakarta such as HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur and Ki Bagus Hadikusumo, while sharpen his talent as a gifted and talented public speaker.

Islamic Activist

Hamka also active in the Islamic movement through Muhammadiyah Organization. He was following the belief of Muhammadiyah since 1925 to fight off ‘khurafat’, ‘bidaah’, ‘tarekat’ and other misinterpretation and mistreatments of the Islamic teachings for the Padang Panjang region. Starting the year 1928, he became the leader of Muhamadiyah Organization branch in Padang Panjang. In 1929, Hamka established a training center for preaching in Muhammadiyah and two years later he became Muhamadiyah Consul in Makassar. Following the year, Hamka was elected to be the leader of Leadership Committee of Muhammadiyah in West Sumatera by the Muhammadiyah Conference, replacing S.Y. Sutan Mangkuto in the year 1946. He had reorganized the development in the 31st Muhammadiyah Congress in Yogyakarta in the year 1950. In 1953, Hamka was chosen to be the counselor in Muhammadiyah Center. On July 26, 1977, the Indonesian Religion Minister Prof. Dr. Mukti Ali elected Hamka as the Leader of Majlis Ulama Indonesia (The Counsel of Muslim Scholars of Indonesia) but then Hamka resigned from this post in the year 1981 when his advices were ignored by the Indonesia government.

Politician

Hamka’s political activities started in 1925 when he became the party member in Islamic Trade Political Party. In 1945, he helped to fight-off the efforts from Netherlands to return to Indonesia through campaigns, speeches and participated in guerrillas’ war in the jungle. In 1947, Hamka was elected leader of Indonesian National Defence Force. He then became Masyumi Constituent and became the main speaker in The Grand Public Election in 1955. Masyumi Party was then banned by the Indonesian Government in 1960. There was a misunderstanding between Hamka and then Indonesian President Sukarno about whose side was Hamka in, in the controversy pro-contra Malaysia. From the year 1964 to 1966, Hamka was imprisoned with in-house prison by President Sukarno. Hamka was actually felt grateful for his time in jail. He was always saying, “If I wasn’t in prison, then I wouldn’t have had the time to finish writing the Al Azhar’s Tafsir (translation and teachings of the ‘Koran’). Hamka started to write and finish the Tafsir, which then would turn out to be his greatest scientific work. When he was out from jail Hamka was elected as a member of the National Committee of Integrity Conference, Indonesia, a member of The Indonesian Hajj Travel Committee and a member of National Culture Association, Indonesia.

Author

Other than his activities in the religious and political sectors, Hamka was also a journalist, a writer, and a publisher. Since the 1920s, Hamka was working as the journalist of several newspaper such as Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam and Seruan Muhammadiyah. In 1928, he was the editor-in-chief of the magazine ‘Kemajuan Masyarakat’. In 1932, he became the editor of the magazine ‘Al-Mahdi’ in Makasar. Hamka also once became the editor for the magazine Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat and Gema Islam.

Hamka also wrote a number of Islamic scientific works, novels and short stories. His biggest scientific works, ‘Tafsir al-Azhar (5 volumes) and many of his novels captured the public’s attention and became the standard text books all the way to Singapore and Malaysia. Among these works are the novel ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’, ‘Di Bawah Lindungan Ka’abah’ and ‘Merantau ke Deli’.

Hamka was awarded with several titles, both national and international scope such as the title ‘Doctor Honoris Causa, from University of Al-Azhar Cairo Egypt, 1958; Doctor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; and the title ‘Datuk Indono’ and dan ‘Prince Wiroguno’ from Indonesian government.

Hamka died on July 24, 1981, but his works and influence are still present until today, especially in the growth and modernization of Islam. Not just as a scholar and a writer in his country, but he was also highly appreciated in Malaysia and Singapore.