Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

SURAT CINTA DARI K


.


Minggu-minggu ini saya mulai sibuk (sibuk kepikiran). Gimana engga, seminggu selepas revisi proposal tesis yang terasa tak berkesudahan dari bulan januari hingga april, akhirnya alhamdulillah, puji syukur sebesar-besarnya saya panjatkan kepada Allah Tuhan semesta alam, yang Maha dahsyat kasih sayang dan pertolongannya. Memang tidak ada yang namanya sia-sia bila kita sudah berusaha. Jatuh bangun, nangis, bingung, dan tak lelah-lelahnya berdoa kepadaNya, akhirnya semua  terbayar sudah. Thanks a lot my God, Alhamdulillah,finnaly minggu kedua di bulan april ini akhirnya saya menerima pesan melalui imel kampus. Sempat kecolongan juga sih, imel dikirim tanpa subject, dengan nama pengirim yang saya tidak kenal. HAmpir dua hari imel dari kampus itu menginap di inbox saya tanpa tersentuh, karena memang saya tidak tahu itu imel yang urgent (habis ga ada subject, kan saya pikir itu hanya imel iklan promo jualan online atau spam-spam ga jelas). Tapi alhamdulillah, Allah membimbing saya untuk membukanya. Eh ternyata, itu imel penting yang mengabarkan bahwa saya sudah dapat dosen pembimbing tesis dan bisa segera mengambil surat penunjukan dosen hari itu juga. Berhubung itu imel baru saya buka hari sabtu. Padahal dikirimnya hari kamis. Akhirnya saya harus sabar nunggu senin untuk mengambil surat tersebut.


Penasaran, deg-degan waktu surat penunjukan dosen saya terima dari admin kampus. Deg-degan gemetarannya tidak jauh beda saat ketemu sama orang yang diam-diam kita suka. Pengen ngajak ngobrol tapi lidah udah kelu, bleng, keringatan dan gemetaran (hahha … baper). Amplop yang saya terima cukup tebal dibandingkan tumpukan amplop yang ada di bawahnya. Saking tebalnya rasa penasaran saya naik berkali-kali lipat (plus ngerutin jidat). Pas saya buka. Semua tampak makin complicated. Berlembar-lembar surat tersusun di dalamnya. Saya mencoba tenang. Satu persatu saya baca. Dahi saya makin berkerut, tidak mengerti dengan surat-surat yang saya baca. Bolak balik saya mengeja tulisan yang ada disana. “Nama dosennya itu ada dibagian atasnya mba.” Seru pak dwi. Admin kampus yang sepertinya mulai memcium kekalutan yang ada didepannya. “Tapi Pak … “ suara saya tercekat (hihihihih … agak didramatisir). Ini sedikit aneh bagi saya. Saya mengerti sekali pada bagian mana nama dosen dicantumkan. Bagian atas dibold lagi, mana mungkin saya tidak melihatnya. Tapi yang menjadikansendi-sendi badan saya lemas bukan sekedar nama dosen. Tapiii, lembaran surat itu mencantumkan dua nama. Yup 2 nama. Dosen pembimbing satu dan dosen pembimbing 2. Artinya dosen pembimbing saya ada dua. Jelas?! Oh dear my God, Allah Tuhan yang luar biasa kasih sayangnya. Kenapa harus dua dosen. Setahu saya anak-anak yang lain hanya dibimbing oleh 1 orang dosen saja. Lah ini saya malah dua. Sontak saya langsung bertanya ke pak dwi. Singkat jawabannya tapi tidak melegakan pikiran saya yang makin menggalau. “Iya, dua dosen. Yang lain juga ada kok.” Tapi kenapa? Jawaban yang makin menggembungkan tanda tanya besar di kepala saya.
Kuliah senin malam itu saya jalani dengan tidak fokus, konsentrasi saya pecah buyar memikirkan penyusunan tesis nanti akan seperti apa. Dua dosen, sodara-sodara! Sepulangnya dari kampus, saya langsung mengambil air wudhu. Shalat. Selepas saya shalat, saya berdoa dan merenung. Kembali berpikir, bukankah Tuhan sudah mengabulkan doa saya, untuk segera mendapatkan dosen bagi bimbingan tesis nanti. Apalagi yang salah? 
Dua dosen? Apakah itu buruk? Mungkin dalam pandangan saya itu buruk, tapi Allah pasti punya rencana terindah. Bukankah saya sudah berdoa, agar diberikan dosen yang terbaik. Tugas saya hanya meminta dan berusaha. Harusnya saya bersyukur berkali-kali lipat. BUkannya malah mengeluh dan terus bertanya why why dan why. Kuncinya Cuma satu, saya harus belajar ikhlas menerima.  KArena dengan menerima, hal-hal positif lainnya akan menyusul. Beban akan terasa lebih ringan, hanya ada prasangka baik yang muncul. Dan keyakinan pada Allah akan semakin mengakar, bahwa Allah itu sungguh maha baik. Apapun masalahnya kita tidak pernah sendiri, ada Allah.

Well, malam ini harusnya saya nyalain laptop buat menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang sudah menumpuk dan revisi tesis (karena minggu lalu sudah ketemu sama 2 dosen pembimbing). Tapi berhubung pengen nulis akhirnya yaa … nulis ini dululah. Apalagi ini loooonggg weekend. Bagaimana pertama kali ketemu sama 2 dosen pembimbing yang belum pernah saya kenal itu juga menyisakan cerita yang luar biasa bikin geli dan menyeramkan. Menyeramkan? Yup … Penasaran? Tar diposting lagi ….


Sungguh dibalik kesulitan ada kemudahan. Diulang 2 kali dalam Al Quran. Dan saya yakini itu ….

Ingatkah kau (Kamis tengah hari, jam 12 siang itu)


.

Ingatkah kau, kamis tengah hari. Jam 12 siang itu? Kau mungkin lupa. Ah, tak mengapa. 

Sumber gambar : www.google.com

Ingatkah kau, kamis tengah hari. Jam 12 siang itu, saat matahari benar-benar merajai. Langkah kecilku lengkap menyapu lapangan sekolah kita. Bersama debu yang menghambur diantara kaki-kaki yang berlarian berebut bola. Ah, aku benci pelajaran olahraga. Saat anak-anak lain bergembira menunggu-nunggu jam pelajaran olah raga dimulai. Bagiku itulah awal derita. Tubuhku kecil, mungil tak ideal untuk pelajaran macam ini. Servis voliku tak pernah masuk-masuk, prestasi terbaikku bola menyentuh net, tak melampauinya sekali pun. Basket, apalagi. Tes memasukan bola ke dalam ring, akulah juru kuncinya. Tak jauh-jauh dari nol besar, kalaupun masuk sudah Alhamdulillah, bonus dari Tuhan.

Ingatkah kau, kamis tengah hari. Jam 12 siang itu? Ah sudahlah. Aku jujur bukan, ketika kukatakan disetiap tahunnya, akan ada hari-hari yang kubenci. Yah itulah hari dimana ada pelajaran olahraganya. Ketika pemilihan guru favorit setiap tahunnya, bisa kutebak apa yang ada di kepala anak-anak lainnya. Guru bahasa dan olahraga akan merajai puncak suara. Kau tahu, aku akan menutup rapat surat suaraku hari itu, hingga tak kuizinkan sesiapapun melihatnya. Karena pilihanku tak popular. Akan ada nama-nama langka yang bahkan bila dilafazkan orang-orang akan mengkerutkan keningnya tak mengerti nama guru-guru kami yang manakah gerangan. Dengan yakin aku tuliskan nama Bu Sita, guru matematika kami yang terkenal galak itu. Atau Pak Badrus guru biologi yang dianggap anak-anak sebagai guru yang gagal paham selera anak muda.

Ingatkah kau, kamis tengah hari. Jam 12 siang itu. Bahwa seluruh rahasia hidupku ada ditanganmu. Kau tahu aku benci olahraga namun cinta mati pada ilmu pasti. Bukan karena aku menyukai angka-angka. Bukan karena kekagumanku pada amuba yang mampu membelah diri sesukanya. Bukan karena aku paling tahu bagaimana membedakan asam dan basa. Bukan. Bukan karena aku mengidolakan eistein, newton dan sejenisnya, ah, siapa yang peduli nama-nama itu bila kau tanya pada orang-orang di kampungku. Tentu saja bukan itu. Saat pelajaran-pelajaran itu aku menemukanmu. Menemukan kelemahanmu. Kelemahan yang menarikmu kepadaku. Aku suka itu. Menatap wajah bingungmu ditengah-tengah hitungan logaritma. Menertawai gerutu dan kesalmu karena tak mampu membedakan mana gaya mana daya. Menunggu-nunggu sejumput tanyamu kepadaku tentang apa itu protozoa ataupun molusca. Haaa, aku suka tentang semua itu. Aku menjadi sempurna disana.

Ingatkah kau, kamis tengah hari. Jam 12 siang itu, saat matahari tak sedikitpun toleransi pada anak-anak negeri ini. Kami dipaksa berlari mengelilingi lapangan sekolah ini sebanyak tiga kali atas nama edukasi, pemanasan sebelum latihan biar kau tak pingsan dan kejang-kejang, begitu petuah guru favorit sekolah ini. Ahh, lengkap sudah kebencianku pada pelajaran ini. Sumpah serapah menyampahi bibirku. Kau tak akan pernah tahu. Hingga pada saat pluit tanda istirahat itu pun berbunyi. Aku tersandar dengan napas satu-satu. Wajahku basah oleh keringat dan erangan. Persis lenguhan budak-budak belian di perkebunan Araruna. Aku haus, awas mencari kiranya dimana sumber pelepas dahaga. Hingga mata ini tertuju padamu. Ya engkau... disana, bersama gadis berkacamata minus itu.

Ingatkah kau, kamis tengah hari. Jam 12 siang itu. Waktu seolah berputar terbalik sejak saat itu. aku mulai tak bisa membedakan lab kimia dengan lapangan olahraga, sama-sama busuk. Pelajaran matematika seolah berisi kumpulan angka-angka setan yang memusingkan. Biologi tak lagi menyenangkan. Peduli apa aku dengan cara reproduksi binatang tak bertulang belakang. Ah, aku bahkan lupa nama-nama guru yang akan kutulis saat pemilihan nanti. Susah payah aku mengingatnya, sesusah menghapalkan nama penemu fosil-fosil manusia prasejarah dunia. Tunggulah nanti, saat waktu itu datang surat suaraku tak akan lagi tertutup rapat. Aku akan ada di tengah kerumunan, bersorak mengiyakan, setuju bukan kepalang, guru olahraga pasti menjadi pemenang.


Ingatkah kau, kamis tengah hari. Pukul 12 siang itu ... saat aku tak lagi mengutuki pelajaran olahraga. 

-Catatan usang, medio Jan 2014-

Ayah : Kisah Buya Hamka


.


Ayah. Salah satu buku bagus yang saya rekomendasikan wajib untuk dibaca. Khususnya bagi anda yang ngaku2nya penggemar Hamka :) Buku terbitan Republika ini adalah hasil karya dari Irfan Hamka, salah seorang putra dari Buya Hamka. Tentu saja buku ini mengupas tuntas tentang sosok Buya Hamka dari sudut pandang Bapak Irfan sebagai anak Buya Hamka. Bagaimana Hamka, sebagai seorang ulama besar yang disegani di negaranya sendiri maupun dunia Internasional (Buya adalah salah satu penerima Doktor Honoris Causa dari Universitas Al Azhar tahun 1959. Kalau tidak salah, beliau adalah orang ke4 yang memperoleh gelar kehormatan tersebut, salah satunya juga adalah ayahnya H. Karim Amarullah). Beliau juga seorang pejuang kemerdekaan, politikus, penulis, sastrawan, dan bagi sebagian orang juga dianggap sebagai seorang sufi.

Begitu banyak kisah hidup Buya yang dituangkan pada buku Ayah ini. Mulai dari bagaimana Hamka muda yang sangat haus akan ilmu agama, belajar dengan gigih dan tidak malu bertanya pada orang-orang hebat. Kegigihan beliau terlihat saat Buya memberanikan diri nekat belajar agama sekaligus menunaikan rukun islam yang ke5 ke Mekah pada usia 18 tahun tanpa sepengetahuan sang ayah dan keluarga besarnya. Tak hanya pintar dan cerdas di urusan agama, Buya juga terkenal aktif berjuang melawan penjajahan, beberapa organisasi ia ikuti. Ia terjun langsung ke lapangan, bergerilya, dan harus rela berpindah-pindah tempat guna menghindari kejaran Belanda. Buya juga ahli bermain silat, khususnya silat minang. Beliau belajar dari pamannnya yang juga seorang pandeka (ahli silat) di kampungnya. Terdapat beberapa cuplikan tulisan yang menceritakan keahlian Buya dalam olahraga bela diri ini.

Buya bukan seorang yang pendendam, saya suka sekali membaca cuplikan-cuplikan kisah yang tertulis di buku ini tentang bagaimana arif dan bijaksananya seorang Buya Hamka. Sebaik apapun seseorang tentu ada saja yang tidak suka. Hal ini juga dialami oleh Buya. Beberapa lawan politik, ulama bahkan seorang wartawan pernah berseberangan dengannya. Sebut saja Soekarno, Muhammad Yamin sampai seorang Pramudia Anantatur. Bagaimana dulu tanpa alasan yang jelas Buya Hamka harus rela merasakan dinginnya penjara selama hampir 2.5 tahun pada masa pemerintahan Soekarno. Namun ia tak pernah dendam pada Soekarno,  Buya malah bersyukur dipenjara karena dengan beliau ditahan Buya berhasil merampungkan tafsir Al Quran, yang terkenal dengan tafsir Al Azhar. Keluasan hati beliau terlihat saat beliau meluluskan pesan terakhir orang yang pernah memenjarakannya itu. Soekarno berpesan bila ia meninggal nanti maka Hamkalah yang akan menjadi imam shalat jenasahnya, dan Hamka mengamininya.

Begitu pula halnya di dunia sastra. Bagaimana Pramudia Anantatur yang pernah menuduh Buya sebagai seorang plagiat atas karyanya Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Hamka tetap tenang. Buya tak dendam. Hal ini terlihat saat Pramudia meminta calon menantunya yang non muslim untuk belajar agama Islam kepada Hamka. Pramudia mengakui walaupun ia dan Hamka berseberangan dalam urusan politik dan ideologi, namun urusan agama ia tetap menyerahkan kepada Hamka. Kisah lainnya seperti perbedaan cara pandang Buya dengan Muhammad Yamin. Diceritakan saat rapat penentuan dasar negara Buya pernah mengusulkan Islam sebagai dasar negara ini, dasar negara diluar Islam hanya akan mendorong manusia ke jurang neraka. Pendapat Buya ini mendapat pertentangan keras dari seorang tokoh nasional yaitu Muhammad Yamin. Beliau memusuhi Buya akibat ucapan Buya yang tergolong berani tersebut. Namun Hamka tidak pernah dendam, sekali lagi hal ini terbukti saat detik-detik kematiannya, Muhammad Yamin meminta Buya Hamka untuk datang ke Rumah Sakit. Saat itu Buya datang, dan beliaulah yang membantu tokoh nasional itu untuk mengeja kalimat suci di akhir hidupnya. Buya pula yang mengantar jenasah beliau kembali ke Sumatera Barat.

Cuplikan-cuplikan kisah pada buku ini juga menceritakan bagaimana Hamka sebagai suami dan seorang ayah di tengah-tengah keluarga besarnya. Ada cerita yang unik, lucu, dan sedih. Salah satunya seperti kisah saat Buya dengan berani dan tegas menyatakan fatwa haram bagi umat Islam untuk ikut merayakan ibadah agama umat lain. saat itu beliau menjabat sebagai ketua MUI, karena fatwa beliau berseberangan dengan pemerintah, akhirnya Buya memilih mengundurkan diri sebagai ketua MUI. Buya juga pernah menolak undangan untuk datang ke istana guna menghadiri pertemuan dengan Paus yang saat itu berkunjung ke Indonesia. Menurut saya lelaki ini sangat luar biasa, selain cerdas, pintar ia juga berani dan tegas.

Banyak kisah-kisah lain tentang Buya Hamka yang dikupas tuntas di buku ini. Membaca buku ini saya seolah melihat visualisasi Buya Hamka dengan kisahnya sendiri-sendiri. Dengan tatapan mata bijaknya, dan kedalaman ilmu agamanya, saya seolah melihat bagaimana Buya duduk pada sebuah kursi dan kemudian asyik mengukir tinta penanya pada berlembar-lembar kertas, mungkin saja itulah lembaran yang kemudian kita kenal dengan nama Tafsir Al Azhar, atau novel Merantau ke Deli.

Emmm, dari cuplikan-cuplikan kisah yang saya baca. Satu hal yang selalu saya ingat betul. Buya sangat suka mengaji Al Quran sebelum tidur, beliau bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengaji, sampai malam menjelang, sampai ia pun terlelap.

Demikian ....


Sumber gambar : www.google.com

Sister Over Flowers, Lee Seung Gi


.

Sudah lama rasanya tidak berkunjung dan mencurahkan isi hati dalam rangkaian kata (hahaha, sastra sekali ya), maksudnya nulis disini. Okeh, tidak mau memperpanjang mukadimah, kali ini saya mau kembali mengisi blog ini dengan tulisan tentang ..... Lee Seung Gi. Penting ya? Dibilang penting sih engga juga, paling tidak kali ini penting buat saya. :)

pas libur sabtu/minggu kemaren, pas nyetel tv, pencet remote sana sini sesukanya, eh malah akhirnya terdampar dengan khidmat di channel tv korea (M channel, klo ga salah), sebenarnya jujur saya udah jarang nonton yang namanya serial2 korea. Dengan satu alasan, "takut terjerumus" .... hahahha. Tenang2, maksudnya takut terjerumus ke yang namanya ketagihan, soalnya dampaknya sangat signifikan terhadap saya dan kelangsungan hidup orang-orang disekitar saya. halaaahhh ... Nonton korea, khususnya buat saya, suka bikin lupa waktu, selain itu berdampak disorientasi linguistik (bahasa serapan saya ), 7 hari 7 malam nonton korea bikin saya susah membedakan mana bahasa minang mana bahasa korea. hahaha .... entah kenapa orang2 dirumahpun serasa pada sipit semua habis nonton korea berhari-hari.

Sister Over Flower, nah ini acara yang saya tonton waktu itu, sebenarnya saya ga pernah tahu ini acara apa, saya kira SOF sejenis drama korea plesetan dari Boys Over Flower. Engga! Saya salah besar. Ternyata acara ini adalah reality show ala korea. Sejenis tantangan juga sih sebenarnya. Jadi ada satu bintang tamu (artis koreanya) mereka harus mendampingi 4 wanita korea biasa melakukan perjalanan ke negara2 tertentu. empat wanita ini usianya bervariasi, ada yang masih muda sampai ada yang sudah tua banget. Nah disitulah serunya.


Pas episode kemaren, pas banget bintang koreanya adalah Lee Seung Gi, bukan cuma Lee Seung Gi yang membuat saya betah duduk berlama-lama nonton SOF kali ini. Tapi karena destinasi negara yang ditujulah yang bikin saya merem melek gigit jari ... hahaha. Turki, sodara-sodara, Turkiiii .... Ahhhhh, salah satu negara tujuan wisata yang saya impi-impikan untuk didatangi. ah, kenapa dek Lee Seung Gi tak membawa saya saja, tapi oma2 ituuuuh!!

Selama perjalanan di Turki ada drama2 ala reality show korea yang disuguhkan. Tapi semua tersaji dengan apik dan baik. Mulai dari perjalanan di dalam Mesjid Biru Aya Sophia, lucunya melihat wajah lee seung gi dan 4 sisters lainnya yang takjub dan ga berhenti ternganga2 melihat keindahan dalam masjid. Banyak kejadian lucu dan unik di dalam masjid. Sayangnya ada pemahaman yang kurang dari para pemain reality show ini tentang sejarah masjid ini, tergambar dari komen-komen mereka, yang saya pikir sedikit salah. But well, gpp sih namanya juga belum tahu.

Lanjut ke tantangan dan drama ala reality show, mulai dari para sisters yang mulai keletihan, lee seung gi yang kena kutukan gasing turki, sampe kepanikan lee mengetahui salah satu sister ada yang terpisah dari mereka. Ah lucunya lagi melihat bagaimana Lee Seung Gi harus berfikir keras karena kesulitan menghitung uang yang akan ditukar ke money changer. Pada malam hari, kutukan gasing yang dibeli oleh Lee Seung Gi masih berlanjut, karena ternyata hotel tempat dia menginap kehabisan kamar. Awalnya Lee disarankan menginap bareng di kamar 2 sisters lain dengan extrabed. Tentu saja keadaan ini bikin 2 sisters bingung dan keadaan mendadak kaku sekaligus lucu. Tapiiii, Akhirnya diputuskan Lee menginap bersama para kru dan teknisi, yang kamarnya otomatis sempit dan berisik. hahahha .... Kasian kau Lee Seung Gi .....

Kalau penasaran dengan realitty show ini, ini ada sedikit previewnya (maaf linknya aja, habis ga bisa upload)

https://www.youtube.com/watch?v=up5GGj63GU4

Masih menunggu next destination, katanya sih kroasia ..... semangat Lee Seung Gi !!!

Sumber gambar : www.google.com
Sumber Video : www.youtube.com



Solo Ngangenin


.

Dari beberapa kota yang pernah saya kunjungi, Solo adalah salah satu kota yang menurut saya selalu ngangenin. Berada di Solo saya merasa nyaman, udaranya yang bersih, makanannya yang enak-enak, apalagi oleh-oleh batik yang bisa dengan puas saya pilih. Satu hal yang sebenarnya belum terwujud ketika saya pergi ke Solo adalah berkeliling kota Solo dengan menggunakan sepeda. Pernah saya menginap pada salah satu Hotel di Solo yang menyediakan fasilitas penyewaan sepeda. Biayanya juga tidak terlalu mahal, Rp 10.000 selama 1 jam pemakaian. Namun sayang disayang, saat itu tinggal 1 sepeda saja yang tersisa, dua sepeda lainnya sedang disewa oleh tamu hotel lainnya. Karena kami berdua, kami putuskan untuk tidak jadi melancong keliling Solo dengan sepeda. Mungkin lain waktu.

 Tengkleng Warung Ibu Diah

Emmm, bicara kuliner, saya termasuk tipe orang yang sedikit pilih-pilih makanan. Yaaa, mungkin karena bawaan dari lahir, sudah terbiasa dengan makanan yang pedas-pedas dan bersantan. Seringkali lidah ini menolak makanan-makanan manis, khas makanan Jawa. Tapi, tidak saat saya di Solo. Memang awalnya saya sempet khawatir, ketika di Solo hanya akan bertemu dengan makanan-makanan manis sejenis gudeg dkk, tapi tidak. Justru banyak pilihan makanan enak yang bisa saya temui di Solo. Salah satunya adalah Tengkleng. Ini adalah sejenis sop daging yang gurih khas Solo. Sebenarnya saya tidak terlalu  tahu apakah Tengkleng makanan asli dari Solo atau justru dari daerah lain. Salah satu rumah makan yang selalu saya kunjungi untuk sekedar menikmati Tengkleng adalah warung makan ibu Diah. Wah, wah, penyajian Tengkleng panas-panas dengan daging yang melimpah, sungguh menggugah selera. Pada rumah makan ini, bisa dipilih apakah mau memesan Tengkleng daging sapi atau kambing. Tergantung selera. Selain tengkleng di warung makan ini juga disediakan menu lain seperti sate dan gulai. Dagingnya yang empuk dan gurih, benar-benar memuaskan selera makan saya. Warung makan ibu Diah ini berada di jalan Tanjung Anom Solo.

Selain Tengkleng, makanan Solo yang bikin saya kangen adalah bebek goreng di Warung makan bebek slamet. Walaupun warung makan ini sudah buka cabang di JAkarta, namun saya tetap prefer Bebek yang ada di Solo. Entahlah, rasanya beda, mungkin lebih karena suasana Solo yang tenang yang tidak saya dapat saat di JAkarta.  Emmmm.... Selain Tengkleng dan bebek, saya juga suka dengan makanan-makanan yang dijajakan di sekitaran jalan Slamet Riyadi, depan BTC (Beteng Trade Centre). Tempat makan ini hanya buka pada malam hari saja, mulai buka jam 7. Siang harinya jalanan dibuka untuk umum dan malamnya ditutup dan berubah fungsi menjadi tempat makan. Ada banyak pilihan makanan disini. Ada sate, soto, sop, bakso dan makanan-makanan lainnya. Yang menarik adalah, selain menyajikan makanan yang bervariasi, bersih, tempat ini juga memanjakan para pengunjungnya dengan hiburan musik dan lagu. live, penyanyi dengan organ tunggal, dimana lagu yang akan dinyanyikan juga boleh direkues oleh para pengunjung. Wah ... wah ... wah ..  lumayan kan, sembari makan dihibur sama tembang-tembang kenangan yang menyentuh jiwa, hehehe.

Satu lagi makanan yang perlu dicoba di Solo ini, gudeg ceker Bu Kasno. Walaupun saya tidak terlalu suka dengan gudeg, tapi sungguh saya penasaran sekali untuk bisa datang dan menikmati gudeg ceker bu Kasno. Setiap ke Solo, saya selalu gagal makan di tempat ini, alasanannya karena warung makan ini mulai buka tengah malam.

Untuk soal makanan memang solo tidak kalah dengan batiknya. Seperti halnya dengan kotanya, makanan-makanan yang ada di Solo juga selalu ngangenin.

Yuk, ke Solo .... :)








Sumber gambar : dokumen pribadi

Kesempatan Hidup Kedua


.




Degup jantungku bertubi-tubi menyentak bilik-bilik pada rongga dadaku, lidahku kelu, tak satupun kata yang bisa kueja dengan benar. Seharusnya rangkaian doa panjang lah yang bisa kudengungkan di saat seperti ini. Bahkan sebuah surat yang biasa kubaca berulang-ulang paling tidak 17 kali atau lebih sehari semalam pun ayat-ayatnya berhamburan tak jelas di bibirku. Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Seperti inikah akhir kisahku tertulis dalam catatan lauhul mahfuzMu? Ya Allah, gemetar mataku menutup, berharap semua hanya mimpi. Tapi ini nyata, Ya Allah, mungkin saja saat ini salah satu Malaikatmu ada diantara kami, Izroil, Allahu Akbar, dari ratusan nyawa ini siapa yang akan disapa olehnya? aku menggigil. Aku takut ...

Tiba-tiba aku ingat ibu, bapak, dan dosaku ...

Awal Juli 2013. Sebuah tugas dadakan mengharuskan saya untuk terbang ke Makassar, tiga hari, kamis hingga sabtu. Dadakan karena perintah untuk pergi kesana baru saya dapat pada hari rabu, yup satu hari sebelum keberangkatan. Karena penting, ga bisa ditunda lain waktu, adalah akhirnya saya buru-buru berburu tiket pesawat dan hotel. Tiket garuda full, akhirnya saya dan teman-teman memilih untuk menggunakan pesawat lain. Ada 6 (enam) orang yang berangkat. Kami sepakat untuk naik pesawat jam 5 sore. Pada hari H, pesawat yang kami tumpangi baru berangkat jam 6 lewat, dua kali delay.

Saat take off, hujan mulai turun, rintik kecil-kecil, terlihat sapuan tetesnya yang tersangkut tipis di permukaan jendela pesawat. Sesekali kilat menyilaukan, langit terang sebentar, sepersekian detik, dan kembali menyisakan gelap yang pekat. Kira-kira 15 menit setelah take off, pesawat sedikit bergetar, saya tak terlalu ambil pusing, hal yang biasa terjadi.  Cuaca memang tak baik, mungkin saja karena hujan atau karena gesekan pesawat dengan awan yang cukup tebal. Namun getaran pada badan pesawat tak juga berhenti. Sudah hampir 5 menit, tak hanya itu, getarannya mulai terasa kencang. Tubuh saya terdorong kekiri dan kekanan. Getarnya semakin kuat dan tak wajar. Angin seolah-olah mempermainkan badan pesawat. Saya bertumpu, memegang kuat kursi yang berada tepat didepan saya. Bibir saya tak berheni-henti melafazkan tasbih, tahlil, salawat, apa saja. Saya ingat dosa.

tak sekedar bergetar, badan pesawat berkali-kali terguncang. Tubuh saya terlonjak kuat ke atas, dan kembali terhuyung ke kiri dan ke kanan. Begitu menakutkan. Pikiran dan perasaan saya mulai tak karuan. Jujur saat itu saya merasa takut sekali akan mati. Saya ga siap, saya ga mau mati seperti ini. YA Allah, saya ingin pulang saja, bertemu dengan orang tua saya, mencium dan memeluk mereka, meminta ampun dan maaf kepada mereka. Berangkai doa dan harapan saya panjatkan saat itu kepada Allah. Berharap guncangan pada pesawat yang kami tumpangi segera berhenti. Namun di tengah doa saya, tiba-tiba saya merasakan sesuatu hal yang sangat mengerikan, pesawat jatuh kira-kira setengah hingga satu meter ke bawah. Hampir seluruh penumpang berteriak. Keadaan semakin tegang. Dari arah belakang samar-samar saya mendengar suara isakan tangis. Ini memang bukan main-main, siapa yang tidak was-was dan takut dibuatnya. Saat ini kami sedang berada di atas udara dengan ketinggan ribuan kaki dari daratan. Bila pesawat ini jatuh mungkin saja di bawah sana bukan daratan yang akan kami jumpai, mungkin saja lautan, atau tempat-tempat yang tak pernah terjamah oleh manusia.

Saya merinding, disamping saya duduk seorang lelaki setengah baya. Saya tebak umurnya sudah 60 tahunan lebih, wajahnya terlihat serius, kedua bola matanya mengatup, kedua tangannya terangkat, beliau sedang khusuk berdoa. Melihat itu saya semakin kelu, seharusnya saya melakukan hal yang sama. Namun tangan saya tak sedikitpun mampu digerakkan, lemah. Saya berdoa dalam hati, sekhusuk-khusuknya ...

Perjalanan ke Makassar yang biasanya ditempuh dalam waktu hampir 2 jam itu terasa begitu lama bagi saya, mungkin begitu pula yang dirasakan oleh penumpang lainnya. Sepanjang perjalanan getar pada pesawat masih sering terjadi, walau tidak separah sebelumnya. tasbih, tahlil, takbir, solawat, dan surat-surat AlQuran tak putus-putusnya saya lafazkan. Berharap kami segera sampai di Makassar dengan selamat.

Tepat jam sepuluh (kurang lebih) waktu Indonesia Tengah (WITA) akhirnya pesawat kami mendarat juga di Bandara Hasanuddin Makassar dengan selamat. Tak henti-hentinya saya mengucap syukur kepada Allah SWT. Sungguh Ia Maha Penyayang. Hidup saya saat ini, bagi saya adalah hadiah tak terhingga dari Allah, kesempatan kedua yang tak boleh disia-siakan.

Sesungguhnya yang paling dekat dengan manusia itu adalah kematian ...
Kullunafsin dzaiqatul maut, setiap yang bernyawa pasti akan mati ...

Sumber gambar : google

Lelaki Kertas


.

Sumber Gambar : Google

Tubuhnya tipis dengan tinggi yang menjulang hingga mendekati tiga rentang tangan orang dewasa. Bila berjalan ia sempoyongan, meliuk-liuk seperti sehelai kertas yang dipermainkan angin. Pasrah menunggu sang bayu penat dan menghamburkan tubuh cekingnya terserak lemah. Angin tak sepenuhnya musuh baginya, karena angin jugalah yang membantunya mendorong sendi tubuh lusuhnya bergerak. Menggoda aliran darahnya untuk terus berkonvoi, menyentak saraf dan menyadarkan otak kalau tubuh kertas itu masih bernyawa. Angin dan ia adalah sebentuk simbiosis mutualisma, kerjasama dua makhluk alam yang membutuhkan dan dibutuhkan. Saat angin berbisik, lelaki kertas itulah pendengar setianya. Menaikkan daun telinga caplangnya, serius mendengarkan tanpa interupsi. Itulah keistimewaannya dibanding manusia lainnya, tak banyak cincong. Ia penyimpan rahasia yang baik, tahu cerita mana yang harus dikabarkan dan mana yang harus disimpannya sendiri.

Beralih ke wajah lelaki kertas itu. Satu kata cukup mewakilkan roman pemilik tubuh tipis kering itu. Kacau. Tidak ada keseimbangan disana. Timpang, centang perenang. Bola matanya besar laksana gajah jumbo yang dipaksa masuk dalam kerangkeng monyet. Membiarkan bokong besarnya menyembul keluar. Biji mata itu tertanam dalam lubang yang sempit dan pengap. Seakan ingin meloncat keluar meninggalkan sarangnya. Bulu kudukmu akan berdiri bila lama-lama menatap mata itu. Hidungnya bulat besar. Sangat memakan tempat di area wajah lonjongnya. Menggusur anggota wajah yang lain untuk menepi. Bibirnya seperti kerucut. Kecil, tipis. Ketika berbicara seperti mulut ikan yang megap-megap di permukaan tabek mencari udara yang tidak sepekat dibawahnya. Didalamnya teronggok deretan gigi yang tidak rata. Laksana barisan rumah yang porak poranda akibat hempasan angin puting beliung. Menyisakan puing-puing atau bangunan miring tak beratap. Bicaranya tidak begitu jelas. Kalau kau malas bertanya untuk yang kedua kalinya, berarti kau harus mengira-ngira dan menebak apa yang sedang dibicarakan oleh lelaki kertas itu. Kusarankan untuk menjaga pendengaran dan penglihatan agar tak keliru.

Kepalanya sulah dengan rambut tipis bewarna merah kecoklatan. Tandus, helaian rambut tumbuh ala kadarnya. Membentuk lingkaran tepat diubun-ubunnya seperti bekas pendaratan pesawat UFO di ladang gandum. Kulitnya kering terbalut warna coklat tua pekat. Jari-jari tangannya suka bergetar sendiri, tak mau diam, tak terkendali. Gemetar. Seolah punya dunia sendiri yang terpisah dari induk semangnya. Maka tak jarang lelaki itu sering menjatuhkan benda-benda yang sedang berada dalam genggamannya.

Maik, begitulah orang kampung sering memanggilnya. Aku tak tahu pasti nama panjang lelaki kertas itu. Aku mengenalnya telah berada di kampung aur ini dengan nama yang tak ubahnya seperti sebuah gelar. Sindiran nyata tentang roman dan perawakannya yang tak jauh beda dengan mayit atau mayat. Ia sering meracau tak jelas, tapi tak mengganggu. Dengarlah sekali-kali racauan itu. Ada sejuta makna disana. Tak asal. Bukan sekadar gurauan. Ada peringatan, nasihat, petuah, sindiran halus bahkan kekocakan yang membuat kau tersenyum.

Maik tak pernah protes dengan hidupnya. Sepi interupsi. Bahkan ia terlihat senang dengan kondisinya. Tak menyalahkan Tuhan. Apapun itu sempurna dimatanya. Tak ada hitam apalagi abu2. Semua bersih, suci, putih. Maik yang tak sempurna di mata awam kami, adalah manusia terpilih. Pilihan Zat yang maha tinggi. Pemilik jagat semesta. Mungkin karena itu pulalah ia diberi keistimewaan. Ia tak pernah alpa. Tak pernah lupa diri, tak pernah lupa kami, tak pernah lupa sembahyang, tak pernah lupa untuk saling mengingatkan. Ia laksana dengungan alarm penyentak.

Maik lelaki kertas itu. Si yatim yang dicintai orang kampung justru karena kekurangannya ... Helaian kertas berterbangan terserak di angkasa. Udara dingin menusuk2, angin bertiup tenang. Di ranah ini, di tanah jirek tanah wakaf lokalisasi peristirahatan abadi lelaki kertas itu kini berbaring. Lelaki kertas itu telah menulis sendiri amal2 baiknya di helaian kertasnya. Ia telah siap melapor kepada pemilik hidup. Maik, Ahmad ... Lahir Jumat 12 Januari, Wafat Jumat 12 Januari ...



Juanda, 27012011