Nonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijknya udah lama, kira-kira awal bulan Januari kemaren. Jujur awalnya sempet ga mau nonton, dengan alasan, film sebelumnya yang pernah mengadopsi karya Hamka dengan judul Dibawah Lindungan Ka'bah yang saya tonton bergambreng-gambreng bareng sama ibu dan ponakan-ponakan saya (alias nonton berjamaah dengan niatan luhur karena penasaran), sungguh-sungguh membuat saya kecewa. Nah, makanya pas ada lagi film yang mengangkat karya Hamka dan salah satu pemainnya ada yang sama dengan film sebelumnya, makanya saya angkat tangan. Persepsi saya udah terlanjur buruk. Pas liat poster filmnya saya malah manyun. Loh kok film yang diangkat dari novel Buya Hamka posternya malah kayak "gitu". Nah kayak "gitu"nya itu mungkin sebagian orang sudah mengerti. Karena seiring dengan beredarnya film ini banyak kritik (baca: protes) yang dilayangkan oleh sebagian orang (komunitas) yang menganggap poster film TKV sama sekali tidak mencerminkan karya seorang Hamka. Apalalagi film yang diangkat dari novel ini sarat dengan cerita yang berlatar adat dan budaya Minang yang sangat kental dengan nilai-nilai agamanya.Yang menjadi pertentangan adalah pakaian yang dikenakan oleh pemain perempuan (Pevita Pierce) yang ada di poster tersebut. Saya menyebutnya dengan baju Katebe (bukan katepe yah, hehehe) yang singkatannya tentu saja bukan Kartu Tanda Benduduk, tapiiii, ah, sudahlah cukup saya dan orang-orang Minang lain saja yang tahu *bikin penasaran, Hehehe .... Rasa-rasanya baju seperti itu tidak lazim dan tidak pantas digunakan oleh gadis-gadis Minang jaman dulu. Saya setuju untuk hal ini. Well, lepas dari kontroversi yang ada. Akhirnya saya menonton juga film ini. Alasannya karena saya diracuni oleh pak gugel dan bu brosing. Di tengah kontroversi yang ada, tak sedikit komentar positif yang saya dapat dari orang-orang sehabis menonton film ini. Baguslah, luar biasalah, film of the yearlah, pokoknya bermacam-macam.
Nah, saya ingat betul, jam 22.24 pada satu malam gelap di bulan Januari (halahh), akhirnya dengan berat hati saya buat juga keputusan yang maha penting itu. Saya harus menonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk besok tepat jam 12 siang. Dan betul, saat jam 12 siang besoknya saya sudah memegang 2 tiket untuk film ini. :)
Film ini tayang hampir 3 jam (kurang). Terlalu lama memang. Kalau dibilang bosan karena kepanjangan jujur memang sempet pada scene-scene akhir (75% pemutaran) hal ini sedikit melanda saya. Namun karena keindahan tampilan gambar pada film ini yang beda dari film-film lainnya membuat saya hampir lupa dengan perasaan itu. Film ini digarap dengan serius. Tidak tanggung. Mulai dari bahasa yang digunakan (bahasa Minang dan Makassar), terlihat jelas dialog dengan dialek daerah benar-benar coba diterapkan oleh film ini, sampai-sampai ada subtitlenya. Walaupun ada beberapa bahasa Minang yang pengucapannya oleh lidah para pemain terdengar aneh, tapi bagi saya hal tersebut bisa dimaafkan. Latar berupa pemandangan alam Minang yang ditampilkan pada film memang tak bisa diabaikan. Luar biasa. Perfecto! keindahan alamnya yang menawan memiliki daya tarik tersendiri. Walaupun tak banyak scene tentang budaya dan adat istiadat Minang, namun saya bisa melihat bagaimana adat dan tradisi itu hadir dalam tutur, prilaku, dan tindak tanduk para tokoh dalam cerita. Bagaimana peran ninik mamak (paman) bagi ponakannya, perlunya musyawarah dan mufakat dalam mengambil keputusan terlihat dalam beberapa adegan di film ini. Satu yang pasti, kecanduan orang Minang jaman dulu menonton pertandingan kuda juga tersaji apik pada film ini. Untuk skenario, sepertinya film ini tidak mau jauh-jauh dari novelnya, yaitu sangat sastra sekali. Hal ini terlihat dari penggunaan bahasa yang indah mendayu-dayu yang ada di surat-surat yang dibuat oleh Hayati dan Zaenudin. Dalam film ini saya harus angkat topi untuk aktingnya Herjunot Ali yang berperan sebagai Zaenudin, pemuda miskin yang ibunya berasal dari Bugis dan ayahnya dari Minang. Bravo. Aktingnya jempolan. Herjunot berhasil terlihat sebagai seorang pemuda lugu yang gamang dan rendah diri saat ia memerankan Zaenudin diawal cerita. Namun dengan cepat ia mampu berubah menjadi seorang lelaki sukses yang penuh wibawa dan sangat disegani. Totalitas aktingnya topp. Ada juga Reza Rahadian, yang berperan sebagai Azis, lelaki kaya raya namun sombong yang akhirnya menikahi Hayati kekasih Zaenudin. Kalau untuk Reza memang tidak diragukan lagi, walau kali ini mendapat peran antagonis, tapi tetap aja superr untuk aktingnya. Untuk Hayati sendiri diperankan oleh Pevita Pierce, aktingnya lumayan. Mungkin karena Hayati diceritakan sebagai gadis kampung yang lemah dan penurut, entah kenapa saya melihat akting Pevita sedikit stak dan membosankan. Tapi satu hal, dalam film ini Pevita terlihat sangat cantik dan natural. jadi kalaupun aktingnya tak terlalu wah, saya jamin penonton apalagi yang cowok2 akan lupa dengan semua kekurangan itu karena terbius oleh kecantikannya. :)
Musik dan lagu, keseluruhan lagu di film ini dibuat oleh Nidji. Lagunya luarrrrr biasa. top markotop. Pas nonton film ini musik dan lagu yang mengiringi adegan peradegan amat sangat pas. Musik dan lagu yang diputar sangat cocok dengan cerita yang ingin disampaikan, dan mewakili perasaan apa yang sedang dirasakan oleh para tokoh dalam cerita. Jalan ceritanya menarik, kadang sedih, kadang sedih banget, dan kadang sedih bingit ... hehehe, pokoknya sedihlah. Namun ada juga lucu dan konyolnya, mixlah.
Sebagus apapun film ini masih memiliki kekurangan, saya lebih suka menyebutnya dengan kejanggalan, salah satunya adalah cara berpakaian tokoh Hayati dalam cerita, terlalu modern, rasa-rasanya tidak pantas dikenakan oleh wanita2 minang jaman dulu. Selain itu juga terasa janggal melihat gaya hidup Azis dan keluarganya yang notabene orang Minang tulen, yang ke eropa-eropaan dan punya banyak teman orang Belanda. Hal itu mungkin saja, tapi kok bagi saya aneh aja ya, Azis digambarkan selevel dengan orang2 Belanda tersebut dan sangat dekat. Kalau dipikir2 Belanda pada zaman tersebut kan lagi jajah Indonesia, sedekat apapun Belanda itu dengan pribumi, tapi tetap ada batas. Namun dalam film ini, batas itu seolah hilang, tak terlihat mana kaum penjajah mana yang dijajah. Hiks
Kalau mengambil angka 1 sampai 10, maka saya akan memberikan angka 8 untuk film ini. Walaupun sudah tak tayang lagi di bioskop, tapi bagi saya film ini sangat rekomended. Selamat menonton ..... :)
Karenamu aku menyukai dandelion bukan mawar
Tumbuh di puncak bukit sana di dekat kastil tua, rumah para kaum bunian
Pada tanahnya mengalir darah para pemberontak
Ratusan jiwa pernah meregang nyawa di atasnya
Mati, belulang mereka terkubur oleh bungkus tipis tanah kering yang tak sengaja ditiup angin
Atau dedaunan tua yang terserak ...
Kesana, sama saja cari mati!
Aahhhh, itu hanya cerita petakut yang kau dengar sebelum tidur saja ... selamu waktu itu.
Hingga pada satu remang petang, kita berlari bersama angin menuju ke puncak bukit itu ...
Lihatlah! serumu ...
Indah ...
Ribuan tangkai dandelion terhampar diatasnya,
belukar itu tumbuh sehat disana.
Serupa mantel putih hangat di musim dingin yang menyelimuti tanah basah dibawahnya
Tunggulah barang sedetik saat angin gunung datang
Akan kau lihat dandelion-dandelion itu mengangkasa
serupa butiran-butiran awan putih nan lembut
Lupakan dulu tentang kastil tua,
lupakan dulu tentang kaum bunian
lupakan dulu tentang tanah kutukan.
ini tentang dandelion ...
Ya ...
karena mu, aku menyukai dandelion bukan mawar ....
Kasiah tak sampai artinya kasih yang ga kesampaian kurang lebih itu deh artinya. Ini bukan cerita tentang Siti Nurbaya dan Samsul Bahri yang kisah kasihnya tidak sampai, apalagi drama korea endless love yang mengisahkan kasih dua saudara Ensu dan Jusu yang juga berakhir tragis. Bukan, bukan banget. Sumber gambar : Google
Kasiah tak sampai adalah judul lagu Minang yang dipopulerkan oleh Elly Kasim (semoga tidak salah). Nah, saya yang secara de euro dan defakto adalah asli cetakan Minang, sudah akrab dengan lagu-lagu Minang. Dan salah satunya adalah Kasiah Tak sampai. Dan ini adalah salah satu lagu Minang favorit saya.
Berikut liriknya.
Kasiah Tak Sampai
Malang bacinto bintang jo bulan
Kasiah digungguang dek matoari
Bia bacarai nyao jo badan
Putuihlah tali jantuang jo hati
Cinto ka uda den baok mati
Ka dalam tanah maik bakubua
Datang malaikaik yo nan batanyo
Apo kadayo yo nan takana
Kasiah ka uda nan indak sampai
Yo nan takana, kasiah ndak sampai
Cinto den indak ado duonyo
Cinto den hanyo ka uda surang
Bia mangamuak topan jo badai
Cinto den indak ado duonyo
Bia di dunia kasiah ndak sampai
Yo di akhiraik den nanti juo
Uda den nanti dalam sarugo
Cinto den indak ado duonyo
(Ciptaan Syahrul Tarun Yusuf, Dipopulerkan oleh Elly Kasim)