Tampilkan postingan dengan label iseng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iseng. Tampilkan semua postingan

Apa Kabar Dunia? Ehmmm ...


.


HAiii …. Apa kabar dunia? Apa kabar Indonesia? Wah… wah hampir satu tahun lebih saya ga aktif di blog ini. Rentang waktu yang cukup lama. Banyak hal yang sudah saya lewatkan. Emmm … ada yang penasaran ga kemana saja putri cantik ini pergi? Hihihi … mungkinkah sang pangeran terlalu lama ngeja peta sampai nyasar kemana-mana? Tak jua menemukan sang putri tidur yang menunggunya dalam balutan mantra. Hahaiii …. Pas bangun-bangun sudah banyak yang berubah. Ngomong2 presiden kita udah ganti yah?


 
Sumber gambar : www.google.com

Duh, banyak sudah yang saya lewatkan. Mungkin saja dalam rentang waktu tidur panjang saya kemaren sudah tak terhitung jomblowan/ti yang sudah nyetak dan nyebar undangan pernikahan, kecuali saya. Ups, curhat dikit. Haaa, baiklah. Well, sebenarnya udah lama banget pengen kembali ke blog ini. Sekedar baca-baca atau benar-benar nulis di laman blog ini. Rutinitas seolah-olah sukses  menelan saya bulat-bulat sepanjang tahun ini. Kali ini tak sekedar sebuah kata “pekerjaan” saja yang membuat saya kadang ngiri sama amoeba, berharap bisa membelah diri sesukanya. Hingga cukup waktu mengerjakan apa saja yang kudu dan “fardu” saya laksanakan sebagai konsekuensi hidup yang saya pilih sebelumnya. Emmm, pembicaraan mulai terdengar berat.

Ya, begitulah kenyataannya. Terhitung dari bulan Agustus tahun 2014 kemaren, kesibukan dan jadwal saya tak hanya sekedar shooting dan shooting seperti tahun2 sebelumnya (abaikan). Intinya, sejak bulan itu saya sudah mengikatkan diri untuk terjerumus pada kemakmuran guna stabilisasi kualitas ekonomisasi yang harmonisasi ke depannya (serasa abis kesurupan vikinisasi). Eps, kemana tuh orang y? Udah kelar nyantren lom y? (abaikan lagi). Agustus atau Septemberan lah, saya lupa tepatnya, saya kembali mendedikasikan diri untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya di bangku kuliah. Jadi mahasiswa eh mahasiswi lagi, hahaiii. Kok merasa muda lagi dan imut yah di panggil mahasiswa, gitu. Ya saya ngampus lagi. Nah-nah, dari sanalah semuanya bermula kawan. Hingga tak sedikit pun waktu yg kemudian saya punya, walau sekedar bertegur sapa, gahol sama teman-teman, sampai-sampai saya tak punya waktu untuk bergosip2 cantik dengan abang sayuran langganan saya, yang ngakunya sebagai salah satu fans garis keras acara insert investigasi dan silet. Ahhh, semuanya kini tinggal kenangan yang memang tak pantas dikenang (baca : sampah).

Pekerjaan kantor yang memang tidak sedikit, ya you knowlah. Ditambah dengan jadwal kuliah yang super padat, membuat waktu seolah mengkerut bagi saya. Jam kuliah dimulai pukul 7 dan selesai jam 9.30 malam. Walaahhh, awal-awalnya memang saya sempat kewalahan. Badan sedikit menciut walau ga ekstrim2 banget mungkin kaget dengan rutinitas baru yang agak menyita tenaga, waktu dan pikiran (berat yah ternyata, baru nyadarrr). Cuma ya begitulah. Semua harus dijalani dengan sabar dan ikhlas. Prinsipnya sederhana, harus ada yang mengalah atau dikorbankan untuk meraih sesuatu yang lebih baik. Yah mungkin kali ini, saya harus pinter2 bagi pikiran, tenaga dan waktu saya agar niat mulia yang saya cita-kan bisa tercapai. Amin

Saya ingat perkataan salah seorang dosen saya di masa-masa awal perkuliahan. Dia salut dengan orang-orang yang duduk dengan setumpuk buku beratus2 halaman yang ada dihadapannya saat ini. Ya itulah kami (baca : saya dan teman2 kampus lainnya), yang sudah mengorbankan waktu istirahat sepulang kerja dengan harus duduk mendengarkan kuliah panjang lebar dari mereka. Menahan letih dan kantuk. Mengabaikan, entah tadi siang setumpuk pekerjaan menyita jam makan siangnya, entah tadi siang si bos minta laporan ini itu, dan entah apa lagi macam ragamnya yang terjadi tadi siang di kantornya. Melupakan sejenak waktu yang mungkin tertukar dengan keluarga. Harusnya saat ini sedang bersenda gurau dengan suami/istri dan anak, dengan ayah ibu atau saudara lainnya. Semua dikorbankan demi ilmu dan sebuah tujuan. Dosen saya meminjam sebuah istilah dalam ekonomi yaitu opportunity cost.Sederhananya, saya dan teman2 kampus lainnya sudah membuat pilihan dari beberapa alternatif pilihan yang ada. Dan bagi kami (baca : saya) mungkin inilah pilihan yang terbaik.

Well, begitulah sejarah singkat mengapa Belanda sampai saat ini sulit move on dari Indonesia. Kenapa? KArena eh karena, Indonesia sama Belanda itu dulu pernah punya hubungan. Emmm, nah berhubung sekarang udah putus, otomatis Indonesia jadi mantannya deh. Makanya Belanda susah move on … hahaha (khusus yg ini anggap ga pernah baca). Maksudnya begitulah sejarah singkat mengapa hampir setahun ini tulisan saya ga pernah nongol2 di blog ini. Jujur, sebenarnya saya udah ngebet2 cantik untuk nulis di blog ini. Tapia apa mau dikata. Alhamdulillah siang ini ada sedikit waktu. Eh, inget lagi kalau pernah punya blog. Untung saya masih ingat alamat dan password blog ini walau samar2. Pas ngeklik agak sedikit kaget, loh kok blog saya udah brewokan, gondrong dan kusam. Huff …. Walau sedikit ekstra kerja keras, ngelap sana sini, akhirnya blog ini terlahir kembali. Hihihihi

Next, moga tiap bulannya akan ada postingan terus yang bakal nongol di blog ini. Amin

Kebetulan itu Tak Ada : 10 Kata Ajaib di Ruang Pemeriksaan


.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan Bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (QS. Ali Imran 190)

Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri dan duduk, dan dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi sambil berkata: "Ya Tuhan kami, Engkau tidak menciptakan ini dengan sia-sia! Maha Suci Engkau! Maka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS. Ali Imran 191)


                                                       Sumber gambar : www.google.com

Suatu waktu saya ke rumah sakit untuk cek mata. Ketika menunggu cukup lama akhirnya nama saya dipanggil. Didalam ruang periksa saya tertegun dengan sebuah tulisan yang menempel pada dinding ruangan. Tulisan tersebut dipahat pada sebuah kayu sepanjang kira-kira 30 sentimeteran. Begini bunyinya, "BILA KAU KIRA ITU MUSTAHIL, MAKA UBAHLAH IA DENGAN DOA". Tidak sia-sia rasanya menunggu antrian panjang untuk cek mata siang itu, karena bagi saya tulisan yang menempel pada dinding tersebut adalah salah satu bentuk bukti kasih sayang Allah kepada saya, Dia mengajak saya berkomunikasi walaupun secara tidak langsung. Bahwa untuk mengatasi segala permasalahan yang saya alami saat ini, yang harus saya lakukan adalah BERDOA. 

Mengutip dari buku OMA karangan Pak Naqoi, saya seolah mengalami One Minute Awareness, satu menit kesadaran yang mengubah cara pandang saya terhadap masalah. Segala kekhawatiran dan kegundahan saya akan permasalahan hidup selama ini seketika meleleh berganti dengan optimisme yang tinggi setelah membaca tulisan tersebut. Saya kembali yakin sepenuhnya dengan kata-kata bahwa, Allah tidak akan memberi ujian diluar batas kemampuan manusia, saya kembali yakin bahwa Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang, saya kembali yakin bahwa menyikapi masalah dengan baik justru akan membuat manusia itu semakin dekat dengan Tuhannya. Saat manusia diberi kado berupa masalah oleh Allah, justru saat itu Allah sedang sangat dekat-dekatnya dengan kita. Bukankah dekat dengan Tuhannya adalah hal yang sangat diinginkan oleh setiap manusia yang beriman? Allah lebih intensif mengawasi, menunggu respon kita dalam menyikapi masalah tersebut, dan menunggu doa-doa kita.

Well, walaupun harus menunggu antrian pemeriksaan sampai hampir 2 jam, untuk cek mata yang hanya 5 menit, diteruskan dengan mengambil obat dan mengurus administrasi asuransi yang panjang dan lama, hehehe. Yah dihitung-hitung memakan waktu hampir 5-6 jam, tidak apa-apalah. Tidak ada yang sia-sia dan kebetulan, karena hari itu saya mendapatkan ilmu yang menjadi motivasi luar biasa. Sebuah tulisan yang tak lebih dari 10 kata yang menempel pada dinding ruang pemeriksaan. Memang bukan sebuah kebetulan tulisan itu saya baca, dan bukan kebetulan juga tulisan itu ada disana. Karena hidup memang bukanlah kebetulan. Ada hikmah dari setiap kejadian, tergantung bagaimana kita menyikapinya. 

Jakarta, 14 Feb 2014

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk


.

Sumber gambar : www.google.com

Nonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijknya udah lama, kira-kira awal bulan Januari kemaren. Jujur awalnya sempet ga mau nonton, dengan alasan, film sebelumnya yang pernah mengadopsi karya Hamka dengan judul Dibawah Lindungan Ka'bah yang saya tonton bergambreng-gambreng bareng sama ibu dan ponakan-ponakan saya (alias nonton berjamaah dengan niatan luhur karena penasaran), sungguh-sungguh membuat saya kecewa. Nah, makanya pas ada lagi film yang mengangkat karya Hamka dan salah satu pemainnya ada yang sama dengan film sebelumnya, makanya saya angkat tangan. Persepsi saya udah terlanjur buruk. Pas liat poster filmnya saya malah manyun. Loh kok film yang diangkat dari novel Buya Hamka posternya malah kayak "gitu". Nah kayak "gitu"nya itu mungkin sebagian orang sudah mengerti. Karena seiring dengan beredarnya film ini banyak kritik (baca: protes) yang dilayangkan oleh sebagian orang (komunitas) yang menganggap poster film TKV sama sekali tidak mencerminkan karya seorang Hamka. Apalalagi film yang diangkat dari novel ini sarat dengan cerita yang berlatar adat dan budaya Minang yang sangat kental dengan nilai-nilai agamanya.Yang menjadi pertentangan adalah pakaian yang dikenakan oleh pemain perempuan (Pevita Pierce) yang ada di poster tersebut. Saya menyebutnya dengan baju Katebe (bukan katepe yah, hehehe) yang singkatannya tentu saja bukan Kartu Tanda Benduduk, tapiiii, ah, sudahlah cukup saya dan orang-orang Minang lain saja  yang tahu *bikin penasaran, Hehehe .... Rasa-rasanya baju seperti itu tidak lazim dan tidak pantas digunakan oleh gadis-gadis Minang jaman dulu. Saya setuju untuk hal ini. Well, lepas dari kontroversi yang ada. Akhirnya saya menonton juga film ini. Alasannya karena saya diracuni oleh pak gugel dan bu brosing. Di tengah kontroversi yang ada, tak sedikit komentar positif yang saya dapat dari orang-orang sehabis menonton film ini. Baguslah, luar biasalah, film of the yearlah, pokoknya bermacam-macam.

Nah, saya ingat betul, jam 22.24 pada satu malam gelap di bulan Januari (halahh), akhirnya dengan berat hati saya buat juga keputusan yang maha penting itu. Saya harus menonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk besok tepat jam 12 siang. Dan betul, saat jam 12 siang besoknya saya sudah memegang 2 tiket untuk film ini. :)

Film ini tayang hampir 3 jam (kurang). Terlalu lama memang. Kalau dibilang bosan karena kepanjangan jujur memang sempet pada scene-scene akhir (75% pemutaran) hal ini sedikit melanda saya. Namun karena keindahan tampilan gambar pada film ini yang beda dari film-film lainnya membuat saya hampir lupa dengan perasaan itu. Film ini digarap dengan serius. Tidak tanggung. Mulai dari bahasa yang digunakan (bahasa Minang dan Makassar), terlihat jelas dialog dengan dialek daerah benar-benar coba diterapkan oleh film ini, sampai-sampai ada subtitlenya. Walaupun ada beberapa bahasa Minang yang pengucapannya oleh lidah para pemain terdengar aneh, tapi bagi saya hal tersebut bisa dimaafkan. Latar berupa pemandangan alam Minang yang ditampilkan pada film memang tak bisa diabaikan. Luar biasa. Perfecto! keindahan alamnya yang menawan memiliki daya tarik tersendiri. Walaupun tak banyak scene tentang budaya dan adat istiadat Minang, namun saya bisa melihat bagaimana adat dan tradisi itu hadir dalam tutur, prilaku, dan tindak tanduk para tokoh dalam cerita. Bagaimana peran ninik mamak (paman) bagi ponakannya, perlunya musyawarah dan mufakat dalam mengambil keputusan terlihat dalam beberapa adegan di film ini. Satu yang pasti, kecanduan orang Minang jaman dulu menonton pertandingan kuda juga tersaji apik pada film ini. Untuk skenario, sepertinya film ini tidak mau jauh-jauh dari novelnya, yaitu sangat sastra sekali. Hal ini terlihat dari penggunaan bahasa yang indah mendayu-dayu yang ada di surat-surat yang dibuat oleh Hayati dan Zaenudin. Dalam film ini saya harus angkat topi untuk aktingnya Herjunot Ali yang berperan sebagai Zaenudin, pemuda miskin yang ibunya berasal dari Bugis dan ayahnya dari Minang. Bravo. Aktingnya jempolan. Herjunot berhasil terlihat sebagai seorang pemuda lugu yang gamang dan rendah diri saat ia memerankan Zaenudin diawal cerita. Namun dengan cepat ia mampu berubah menjadi seorang lelaki sukses yang penuh wibawa dan sangat disegani. Totalitas aktingnya topp. Ada juga Reza Rahadian, yang berperan sebagai Azis, lelaki kaya raya namun sombong yang akhirnya menikahi Hayati kekasih Zaenudin. Kalau untuk Reza memang tidak diragukan lagi, walau kali ini mendapat peran antagonis, tapi tetap aja superr untuk aktingnya. Untuk Hayati sendiri diperankan oleh Pevita Pierce, aktingnya lumayan. Mungkin karena Hayati diceritakan sebagai gadis kampung yang lemah dan penurut, entah kenapa saya melihat akting Pevita sedikit stak dan membosankan. Tapi satu hal, dalam film ini Pevita terlihat sangat cantik dan natural. jadi kalaupun aktingnya tak terlalu wah, saya jamin penonton apalagi yang cowok2 akan lupa dengan semua kekurangan itu karena terbius oleh kecantikannya. :)

Musik dan lagu, keseluruhan lagu di film ini dibuat oleh Nidji. Lagunya luarrrrr biasa. top markotop. Pas nonton film ini musik dan lagu yang mengiringi adegan peradegan amat sangat pas. Musik dan lagu yang diputar sangat cocok dengan cerita yang ingin disampaikan, dan mewakili perasaan apa yang sedang dirasakan oleh para tokoh dalam cerita. Jalan ceritanya menarik, kadang sedih, kadang sedih banget, dan kadang sedih bingit ... hehehe, pokoknya sedihlah. Namun ada juga lucu dan konyolnya, mixlah. 

Sebagus apapun film ini masih memiliki kekurangan, saya lebih suka menyebutnya dengan kejanggalan, salah satunya adalah cara berpakaian tokoh Hayati dalam cerita, terlalu modern, rasa-rasanya tidak pantas dikenakan oleh wanita2 minang jaman dulu. Selain itu juga terasa janggal melihat gaya hidup Azis dan keluarganya yang notabene orang Minang tulen, yang ke eropa-eropaan dan punya banyak teman orang Belanda. Hal itu mungkin saja, tapi kok bagi saya aneh aja ya, Azis digambarkan selevel dengan orang2 Belanda tersebut dan sangat dekat. Kalau dipikir2 Belanda pada zaman tersebut kan lagi jajah Indonesia, sedekat apapun Belanda itu dengan pribumi, tapi tetap ada batas. Namun dalam film ini, batas itu seolah hilang, tak terlihat mana kaum penjajah mana yang dijajah. Hiks

Kalau mengambil angka 1 sampai 10, maka saya akan memberikan angka 8 untuk film ini. Walaupun sudah tak tayang lagi di bioskop, tapi bagi saya film ini sangat rekomended. Selamat menonton ..... :)

Dan ini soundtracknya yang keren ituhhh ... :)

Sumber video : www.youtube.com

Jakarta, 12 feb 2014

Dandelion Bukan Mawar


.

Karenamu aku menyukai dandelion bukan mawar
Tumbuh di puncak bukit sana di dekat kastil tua, rumah para kaum bunian
Pada tanahnya mengalir darah para pemberontak
Ratusan jiwa pernah meregang nyawa di atasnya
Mati, belulang mereka terkubur oleh bungkus tipis tanah kering yang tak sengaja ditiup angin
Atau dedaunan tua yang terserak ...

Kesana,  sama saja cari mati!
Aahhhh, itu hanya cerita petakut yang kau dengar sebelum tidur saja ... selamu waktu itu.
Hingga pada satu remang petang,  kita berlari bersama angin menuju ke puncak bukit itu ...
Lihatlah! serumu ...
Indah ...
Ribuan tangkai dandelion terhampar diatasnya,
belukar itu tumbuh sehat disana.
Serupa mantel putih hangat di musim dingin yang menyelimuti tanah basah dibawahnya
Tunggulah barang sedetik saat angin gunung datang
Akan kau lihat dandelion-dandelion itu mengangkasa
serupa butiran-butiran awan putih nan lembut

Lupakan dulu tentang kastil tua,
lupakan dulu tentang kaum bunian
lupakan dulu tentang tanah kutukan.
ini tentang dandelion ...

Ya ...
karena mu, aku menyukai dandelion bukan mawar ....

Paramore: The Only Exception

Sumber Video : www.youtube.com

MERACIK SONGGI


.

Ini adalah kali pertama saya datang ke Kendari. Kendari merupakan salah satu propinsi yang berada di pulau Sulawesi bagian tenggara. Untuk mencapai kota Kendari dari Jakarta terlebih dahulu pesawat yang saya tumpangi transit sekitar 30 menit di Bandar udara Sultan Hasanuddin Makassar, kemudian baru penerbangan dilanjutkan ke Kendari yang memakan waktu 30-45 menit saja.


Teluk Kendari

Udara di Kendari terasa cukup panas. Mataharinya terik dan menyengat. Emmm, tapi bagi saya itu bukanlah sebuah masalah. Karena banyak hal menarik yang saya temukan di Kota ini. Salah satunya adalah makanannya ... Nah kali ini saya akan ceritakan makanan khas dari kota Kendari. Bukan saja unik dari segi rasa tetapi justru cara menyantap makanannya yang tidak sembarang yang membuat makanan ini istimewa. Naaaahh, ini dia


Songgi

Songgi. Yup. Songgi adalah makanan khas Kendari, yang terbuat dari sagu. Mungkin bagi saya yang terbiasa makan nasi, makan Sagu yang kental dan lengket terasa cukup aneh. Memang butuh sedikit perjuangan untuk memakannya, hehehe. Tidak sendiri, Songgi bisa disantap bersama lauk lainnya. Bukan sembarang lauk. Biasanya orang Kendari memadupadankan Songgi dengan sayur bening, kepala ikan palumara, daging, ayam, kabengga, kambatu, ikan panggang dan ikan gabus. Cara memakan Songgi pun sangat unik. Tidak sembarangan. Saya sempat bingung dengan beragam jenis makanan yang tersaji diatas meja. Untunglah pelayan restorannya mengerti sekali muka-muka bingung kami. Wajah-wajah kelaparan, walau didepan mata ada setumpuk makanan namun tidak tahu harus berbuat apa. Hehehe ...

Dengan sigap sang pelayan langsung ber”demo” didepan kami. Eiiit, bukan demo pake aksi bakar-bakar ban, tapi demo “bagaimana cara makan Songgi yang baik dan tidak kalap”. Hehehe ... 
  • Pertama, sebutir cabe rawit dipotong dan dihaluskan dengan sendok di atas piring masing-masing
  • Kedua, baru giliran Songginya. Nah cara ngambil Songgi tidak sembarangan. Tidak pakai sendok, garpu apalagi sekop, karena setahu saya sekop biasanya buat nyeruk pasir bukan sagu. Hihihi ... Songgi diambil dengan menggunakan sumpit. Satu dikanan dan satu dikiri. Sumpit digerakan memutar sehingga Songgi tergulung oleh sumpit. Nahhh, kalau udah kayak gitu Songgi yang lengket bisa di ambil dari komunitasnya sedikit demi sedikit tanpa paksaan ... :)
  • Nah giliran lauk pauk sebagai makanan pelengkapnyalah yang kemudian dimasukkan, seperti sayur bening, daging tawa oloho (tampilannya seperti sop), ayam dll
  • Dan jangan lupa menambahkan sedikit perasan jeruk nipis. Emmmh, dijamin segerrr.
Setelah pelayan restorannya selesai beraksi, akhirnya saya dan teman-teman mulai meracik makanan kami sendiri di piring masing-masing. Dengan konsentrasi tingkat dewa akhirnya dalam waktu kurang dari 5 menit saya pun selesai. Dan hasilnya ..... taraaaaa



Saya berhasil meraciknya, temans ... hahaha (versi simpel).


Sumber gambar : Dokumen pribadi

Mba Hangernya Mana?


.



Sedikit sensi kalau dengar kata hanger. Huhuhu, begini ceritanya, waktu itu tahun 2012 bertepatan dengan bulan puasa, saya bersama seorang teman pergi ke Bandung dalam rangka tugas kantor. Kebiasaan buruk saya kumat, untuk perjalanan yang tidak terlalu jauh dari Jakarta, seperti Bandung, saya sering acuh dan ga terlalu banyak prepare. Bandung ini, dekat kok.

Saya dan teman saya putuskan menginap di hotel X, ini kali pertama saya menginap disana. hotel tersebut dekat dengan travel yang kami tumpangi dari jakarta.  Tinggal jalan dikiiit, nyampe deh J. Karena teman saya masih ada jadwal kuliah, makanya kami ga berangkat bareng. Kuliahnya baru selesai jam 9 malam, jadi ia berangkat dari jakarta dengan menggunakan travel kira-kira jam 10an. Sedangkan saya memilih berangkat sore, jam 3an, niatnya biar sampai di Bandung sebelum Magrib, jadi bisa buka puasa disana sekalian. Yup, akhirnya saya nyampe juga di Bandung sebelum Magrib, 5 atau 10 menit menjelang azan.

Eiiit, untuk pertama kalinya dalam sejarah perjalanan yang saya alami, di hotel ini saya sadar kalau saya sedikit pikun. Hehehe, sedikit loh. Bagaimana tidak, pas mau check in hotel, pas mba resepsionisnya minta KTP, pas pula Kartu itu raib entah kemana. saya mulai kasak kusuk buka tutup dompet. Nervous dikit, habis takut dicurigain macam-macam sama mba nya. Saya baru ingat, KTP itu tertinggal di dalam tas ransel yang saya bawa waktu ke Yogya dalam perjalanan beberapa hari yang lalu. Haduuuh, ga mungkin saya harus menunggu teman saya datang, masih lama, mungkin saja tengah malam nanti ia baru sampai. Untunglah mba resepsionisnya percaya dengan alasan saya. Tidak ada KTP akhirnya saya pakai kartu pegawai, hehehe.

Selesai dengan KTP, saya dimintai uang penginapan. Oh Tuhan, masalah lagi, karena sebelumnya teman saya bilang pembayaran akan lewat kartu kredit dia saja. Tapi saat ini dia ga disini, saya telepon ga diangkat. Emmm, saya berpikir keras, bagaimana saya bisa seceroboh ini, lupa bawa KTP sekarang juga hanya bawa atm yang isinya ala kadarnya saja. Alhamdulillah Tuhan masih sayang sama orang sabar seperti saya, hehehe, ada uang cash di dompet kira-kira 300 ribuan, sebagai DP awal penginapan. Done!

Setelah dikasih kunci, saya langsung “terbang” ke kamar. Haaahhh, melelahkan dan memalukan. Rasa-rasanya mba resepsionis itu hapal betul wajah saya. Wajah-wajah ceroboh yang patut dikasihani. Pas mau menghempaskan badan ke kasur, eiiit, saya lupa kalau kuitansi DP uang yang saya kasih belum dibalikin ke saya. Haduuuh, gimana mau ngambil balik uangnya coba, kalau bukti kuintansinya ga ada. Akhirnya saya bergegas menelepon resepsionisnya. Untunglah mereka ingat dan langsung diantar ke kamar. Tepat jam setengah satu malam, teman saya sampai di hotel. Syukurlah, sedikit khawatir dengan keputusan dia yang berangkat malam-malam ke Bandung sendirian. Saking khawatirnya saya sampai tertidur pulas ... eh salah ya. Hehehe

Pas sahur, saya terpaksa jalan sendirian ke restoran hotel, berhubung sang teman tercinta tidak puasa. Dekat lobi sebelah kanan, begitu info mba resepsionis tadi sore. Tapi kenyataan yang saya jumpai berbeda, lobi sebelah kanan memang ada restorannya, ada meja dan kursi makan, tapiiii gelap sodara-sodara, tak setitik cahaya pun yang mampu menembusnya, haiiiiaaa ... L. Saya bingung. Saking bingungnya sebuah pertanyaan besar muncul di kepala saya, Thomas Alfa Edison itu jomblo apa bukan yah? Soalnya keseringan ngutak ngatik lampu daripada ngeceng di mall, laaah, ... hehehe. Untung lagi ada tamu lain yang seperti saya. Ditengah kebingungan, datanglah pahlawan kami, mas resepsionis dengan seragam kebesarannya, tanpa babibu, dengan tatapan nanar ia langsung mengarahkan telunjuknya lurus, kami manut aja. Dan benar adanya, ternyata misteri restoran yang hilang itu berhasil dipecahkan. Ternyata resto yang digunakan adalah resto hotel sebelah yang masih satu group dengan hotel yang saya tempati. Huuuuuuhhh ....

Saya dan teman saya menginap dua malam di sana. Alhamdulillah pekerjaan kami di Bandung, bertemu dengan orang-orang ITB berjalan dengan lancar. Pas mau pulang, saya dan teman saya kembali pulang sendiri-sendiri. Ia memilih balik ke Jakarta naik travel jam 5 pagi. Kalau dipikir-pikir memang aneh, mulai dari awal dia sampai di Bandung tengah malam dan balik ke Jakarta jam 5 pagi, saya mulai merinding dan bertanya-tanya, jangan-jangan dia ada hubungan kekeluargaan sama Edward Cullen, sama-sama takut matahari  ... ehmmmm

Kembali, tinggalah saya sendiri. Saya memilih pulang jam 7 pagi. Dengan semangat 45 saya langsung menuju meja resepsionis buat check out dsbnya. Wajah mba resepsionis terlihat senang, mungkin ia lega akhirnya saya keluar juga dari hotelnya. Hehehe ... DP yang pernah saya serahkan, saya terima kembali. Done!

Sesampai di travel saya langsung duduk manis dideretan bangku paling belakang. Ada dua mba-mba cantik  yang duduk di samping kanan saya. Setelah berbalas senyum seperlunya, akhirnya saya tertidur dengan khidmat. Alhamdulillah semua selesai, pekerjaan dan peristiwa di hotel yang mengharu biru, tamat juga.

15 menitan kemudian, tiba-tiba HP saya berbunyi, nomor yang tak dikenal, kode wilayah jelas-jelas punya Bandung. Saya angkat ....

Ya, hallo ...
Dengan ibu ades (suara di seberang sana)
Yup dengan saya sendiri
Maaf ibu, kami dari hotel X mau konfirmasi (suara di seberang sana)
Iya, ada apa yah mba?
Setelah kita check kamar ibu tadi, kok ada barang kita yang tidak ditemukan ya ... (suara di seberang sana)
Hah kok bisa?
Barang apa ya mba?
Satu buah Hanger .... (suara di seberang sana)

Waduuh, saya langsung panik, saking paniknya saya kembali tertidur pulas. Damn .... :(


Keterangan :
Hanger = gantungan baju

sumber gambar: www.google.com

Surrender


.

 give up the fight, i surrender ......





just enjoy it ...



Sumber video : www.youtube.com

Solo Ngangenin


.

Dari beberapa kota yang pernah saya kunjungi, Solo adalah salah satu kota yang menurut saya selalu ngangenin. Berada di Solo saya merasa nyaman, udaranya yang bersih, makanannya yang enak-enak, apalagi oleh-oleh batik yang bisa dengan puas saya pilih. Satu hal yang sebenarnya belum terwujud ketika saya pergi ke Solo adalah berkeliling kota Solo dengan menggunakan sepeda. Pernah saya menginap pada salah satu Hotel di Solo yang menyediakan fasilitas penyewaan sepeda. Biayanya juga tidak terlalu mahal, Rp 10.000 selama 1 jam pemakaian. Namun sayang disayang, saat itu tinggal 1 sepeda saja yang tersisa, dua sepeda lainnya sedang disewa oleh tamu hotel lainnya. Karena kami berdua, kami putuskan untuk tidak jadi melancong keliling Solo dengan sepeda. Mungkin lain waktu.

 Tengkleng Warung Ibu Diah

Emmm, bicara kuliner, saya termasuk tipe orang yang sedikit pilih-pilih makanan. Yaaa, mungkin karena bawaan dari lahir, sudah terbiasa dengan makanan yang pedas-pedas dan bersantan. Seringkali lidah ini menolak makanan-makanan manis, khas makanan Jawa. Tapi, tidak saat saya di Solo. Memang awalnya saya sempet khawatir, ketika di Solo hanya akan bertemu dengan makanan-makanan manis sejenis gudeg dkk, tapi tidak. Justru banyak pilihan makanan enak yang bisa saya temui di Solo. Salah satunya adalah Tengkleng. Ini adalah sejenis sop daging yang gurih khas Solo. Sebenarnya saya tidak terlalu  tahu apakah Tengkleng makanan asli dari Solo atau justru dari daerah lain. Salah satu rumah makan yang selalu saya kunjungi untuk sekedar menikmati Tengkleng adalah warung makan ibu Diah. Wah, wah, penyajian Tengkleng panas-panas dengan daging yang melimpah, sungguh menggugah selera. Pada rumah makan ini, bisa dipilih apakah mau memesan Tengkleng daging sapi atau kambing. Tergantung selera. Selain tengkleng di warung makan ini juga disediakan menu lain seperti sate dan gulai. Dagingnya yang empuk dan gurih, benar-benar memuaskan selera makan saya. Warung makan ibu Diah ini berada di jalan Tanjung Anom Solo.

Selain Tengkleng, makanan Solo yang bikin saya kangen adalah bebek goreng di Warung makan bebek slamet. Walaupun warung makan ini sudah buka cabang di JAkarta, namun saya tetap prefer Bebek yang ada di Solo. Entahlah, rasanya beda, mungkin lebih karena suasana Solo yang tenang yang tidak saya dapat saat di JAkarta.  Emmmm.... Selain Tengkleng dan bebek, saya juga suka dengan makanan-makanan yang dijajakan di sekitaran jalan Slamet Riyadi, depan BTC (Beteng Trade Centre). Tempat makan ini hanya buka pada malam hari saja, mulai buka jam 7. Siang harinya jalanan dibuka untuk umum dan malamnya ditutup dan berubah fungsi menjadi tempat makan. Ada banyak pilihan makanan disini. Ada sate, soto, sop, bakso dan makanan-makanan lainnya. Yang menarik adalah, selain menyajikan makanan yang bervariasi, bersih, tempat ini juga memanjakan para pengunjungnya dengan hiburan musik dan lagu. live, penyanyi dengan organ tunggal, dimana lagu yang akan dinyanyikan juga boleh direkues oleh para pengunjung. Wah ... wah ... wah ..  lumayan kan, sembari makan dihibur sama tembang-tembang kenangan yang menyentuh jiwa, hehehe.

Satu lagi makanan yang perlu dicoba di Solo ini, gudeg ceker Bu Kasno. Walaupun saya tidak terlalu suka dengan gudeg, tapi sungguh saya penasaran sekali untuk bisa datang dan menikmati gudeg ceker bu Kasno. Setiap ke Solo, saya selalu gagal makan di tempat ini, alasanannya karena warung makan ini mulai buka tengah malam.

Untuk soal makanan memang solo tidak kalah dengan batiknya. Seperti halnya dengan kotanya, makanan-makanan yang ada di Solo juga selalu ngangenin.

Yuk, ke Solo .... :)








Sumber gambar : dokumen pribadi

Shield of Straw


.

Shield of Straw. Emmm, satu lagi film Jepang non romantik alias bukan film yang penuh oleh kisah cinta-cinta an ala korea yang mengharu biru, yang saya rekomendasikan wajib untuk ditonton. Sebenarnya tahu dan nonton film ini ga sengaja sih. Lagi di pesawat menuju Makassar, awalnya saya prepare buat nonton film korea yang berjudul The Miracle in the cell No. 7 yang direkomendasikan teman saya. Pas udah mulai take off pesawat, mulai gatal nih jari buat searching film korea yang dimaksud, ealaahh, ternyata film tersebut udah ga ada lagi, karena udah awal bulan, jadi film-film barulah yang diputar. Gimana lagi, akhirnya saya mulai hunting, kira-kira film mana yang bagus dan layak tonton untuk "anak" seusia saya, hehehe. Ada beberapa film holywood, satu film bolywood (Barfi) dan sudah pernah saya tonton, sisanya tinggal satu film korea, dua film china dan satu film Jepang. Dari gambarnya tak satu pun sebenarnya yang menarik perhatian. Yang korea sepertinya standar, kisah cinta, waduh engga dulu deh, lagi capek sama yang mengharu biru kelabu. 

Maka alhasil, saya menjentikkan jari ke Film Shield of Straw. Sebenarnya cukup aneh saja kalau saya memilih film ini, gambarnya depannya adalah seorang laki-laki dan perempuan berseragam jas lengkap rapi jali, berdiri saling membelakangi dan memegang pistol. Sejak kapan saya suka film ginian?! Tapi yang bikin penasaran adalah dibelakang mereka ada magnet kuat yang menarik saya, wajah salah satu aktor favorit saya Tatsuya Fujiwara, the best actor yang berani menantang arus dalam beberapa filmnya. Bagi saya,  Ia berani menjadi antagonis. Justru dari peran antagonisnya itulah ia disukai. Aktingnya total, tak takut jelek, tak takut dibenci fans. Begitulah.

Shield of Straw bercerita tentang perburuan seorang pembunuh yang paling dicari seantero Jepang. Bukan karena ia telah membunuh 7 nyawa saja yang menjadikan sang pembunuh bertitle "wanted" tapi karena salah satu korbannya adalah seorang cucu politikus dan konglomerat di Jepang, daaann tentunya kakek konglomerat ini tidak tinggal diam saja melihat cucu kesayangan dibunuh secara sadis, ia dendam kepada sang pembunuh. Karena itulah ia mengadakan sayembara bagi siapa saja yang berhasil membunuh sang pembunuh cucunya hidup atau mati akan mendapatkan uang sebesar 10 juta dolar. Lah, siapa yang tidak tertarik, coba?!



Sang pembunuh sadis bernama Kiyomaru diperankan oleh Tatsuya Fujiwara. Sumpah, aktingnya keren. Ia pintar mengaduk-aduk emosi, begitu licik, kadang polos dan patut dikasihani, namun kadang menjengkelkan dan memuakkan. Hebaaatttt ...Singkat cerita, Kiyomaru menyerahkan diri ke Polisi karena takut, sejak sayembara atas dirinya bergulir semua orang berlomba-lomba ingin membunuhnya. ia merasa tidak ada yang bisa dipercaya, sekalipun temannya. Nah disinilah cerita baru dimulai, 5 polisi terpilih ditugaskan untuk mengawal Kiyomaru pindah dari Fukuoka ke Tokyo untuk diadili. Perjalanan mengantar pembunuh sadis ini dari Fukuoka ke Tokyo bukan perkara gampang. Banyak rintangan. Bagaimana tidak, setiap orang berlomba-lomba untuk membunuh Kiyomaru. Tidak saja karena ingin mendapatkan hadiah sayembara, namun ada juga yang ingin membunuhnya dilatarbelakangi dendam, karena anggota keluarga mereka yang menjadi korban kekejian Kiyomaru. Konflik cerita semakin meningkat, ketika 5 anggota polisi yang ditugaskan pun diliputi rasa tidak percaya satu sama lain. 

Karena keberadaan Kiyomaru yang selalu terpantau oleh Kakek konglomerat tersebut, maka polisi-polisi itu merasa ada yang berkhianat. Sayangnya banyak korban yang berjatuhan hanya demi menjaga Kiyomaru. Perjalanan menuju Tokyo ditempuh dengan berbagai cara, mulai dari pengawalan ketat dari kepolisian, naik kereta, menumpang mobil curian, hingga berjalan kaki. sepanjang perjalanan mulailah terkuak siapa sebenarnya yang telah berkhianat. Walaupun akhir dari cerita ini bisa ditebak. Namun film ini sangat recommended, setiap adegan yang disuguhkan seolah rangkaian ketegangan yang tak putus-putus. sekali lagi hebat, baik untuk sang sutradara apalagi para pemainnya. 

Tatsuya Fujiwara, top abisss !!!

Sumber gambar : google

Barisan Sakit Hati


.

Hari ini hari baru kataku. Walaupun hampir setiap hari kuulang-ulang, meyakinkan. Sejak peristiwa itu. Sulit untuk mengikhlaskan. Menengok kembali hal-hal yang selama ini kuacuhkan. Perang telah usai kawan. Pekik merdeka telah lama redam. Musuh telah menyerah pulang ke kandang. Pengorbanan tanpa imbalan sudah tak jaman. Perjuangan, bambu runcing, tinggal sejarah yang dihapal berulang-ulang di sekolahan tanpa dipahami dan direnungkan. Yang penting saat ujian kau bisa mengisi jawaban nama pahlawan. Imam Bonjol namanya, itupun kau tahu dari uang gocengan untuk membeli sepuntung rokok. Disana ada gambar lelaki berjanggut dan bersorban. Itu dia.

Sudah lama. Deklarasi kemerdekaan sudah ditandatangan. Kertasnya pun sudah menguning bolong-bolong dan kini terbingkai rapi di gedung tua sana yang mereka bilang namanya mesium. Sudah terlalu banyak yang kutinggalkan. Di hari ini tak ada lagi yang namanya demi bangsa, semua sibuk demi mengurus perut. Kewajiban diabaikan, hak dituntut. Aku terlalu lena seperti mereka. Makanya Tuhan tak suka.

Aku seperti bangun dari tidur panjang. telah banyak yang berubah. Revolusi, reformasi. entah apalagi nanti. Sudahlah aku tak peduli. karena kini asa dipaksa sirna. Cinta sudah tak ada. Hanya duka. benci. Dan aku terlanjur sakit hati. Titik

Sumber gambar : Google

Juanda, 31052011

Cinta Cenat Cenut


.

Untuk kamu ....

Malam ini sama seperti malam2 sebelumnya, tak jelas sudah berapa lama, dua bulan ini tepatnya. Kembali kuselipkan sebuah pinsil 2B tumpul di telingaku. Dasi pramuka merah putih ponakanku yang baru dilantik jadi anggota pramuka siaga kamis petang kuikat kuat melingkar dikeningku. Ikatannya sedikit membantu mengurangi beban berat yang sekarang hinggap di kepalaku. Menyusun strategi terbaik, fokusku. Jangan sampai semua seperti yang sudah2. Aku berpikir keras. Berkali2, kutulis, kuhapus, kultulis, kuhapus, kutulis lagi, kuhapus lagi .... begitu seterusnya. Hampir satu jam lebih. Bulir2 keringat mulai membasahi wajahku, maklumlah, beberapa hari ini listrik di rumahku lagi naik turun tensinya, awalnya sedikit sensitif. Lama2 malah hidup dan mati sesukanya. Hingga penggunaan alat eletronik seperti kipas angin pun harus sedikit dikurangi dalam rangka peningkatan toleransi terhadap daya listrik yg pas2an. Mulai tahu diri, bahasa kerennnya.

Otakku mulai kendor, uapan berkali2 meluncur dari mulutku, mataku merah basah. Semangatku anjlok ke titik terbawah. Tatapanku mulai kabur, aku mulai menyerah. Hasilnya tidak bisa dibilang buruk. Coretan2 disana sini, sebuah konsep. Penuh dengan alur2 rumit yg hanya dimengerti olehku saja. SOP (Standar Operating Prosedur) untuk Para Pejuang, judulnya. Kutulis besar2. Tepat dibawahnya kutulis sebaris kalimat, Kali ini Harus Berhasil Tak Boleh Gagal Lagi, dengan 10 pentungan tanda seru di belakangnya. Memang tak jauh beda dari yg sebelum2nya. Cuma ada perbaikan sedikit disana sini. Walaupun sudah kukerahkan segala macam ilmu dan pengalaman, mulai dari baca artikel dikoran, majalah, internet, minta asupan nasihat sana sini, dengan sedikit menekan rasa malu, bahkan aku juga belajar dari cerita2 yg ada di drama. Tapi tetap saja konsep strategi ini masih compang camping kurasa.

Pagi ini, semangatku menyala2, tubuhku panas, menggelinjang tak bisa tenang. Kertas konsep itu, SOP untuk Para Pejuang masih tergenggam rapat ditanganku. Resah bukan main. Persis seperti menunggu pembagian raport kenaikan kelas. Lamat2 kulatih hapalan yang kukonsep semalam suntuk. Sekali2 kucuri lihat salinan mantra sakti SOP. Mataku mengerjit mengingat2 bila ada bagian yg terlewati, karena hari ini harus sempurna. Apapun itu, pilihan kata, mimik wajah, intonasi suara, bahasa tubuh sampai helaan nafas jangan sampai ada yg meleset dari yg telah direncanakan. Aku anggukkan kepala mencoba meyakinkan diri. memberi semangat diantara keraguan yang hilang timbul.

"Hai, selamat pagi. Kebetulan saya bawa makanan nih, kamu mau?" Sebuah suara mengagetkanku. Lelaki itu. SOP sang pejuang lepas dari genggamanku. Aku kalut. Udara tiba2 beku menyesakkan. Tak ada oksigen, terlalu berat dan padat. Napasku memburu berhembus cepat2. Detak jantungku kacau balau. Tubuhku seolah menciut hingga seujung kuku, tinggal dilentingkan atau terinjak, tamatlah aku. Aku seperti orang tasapo atau terkena si jundai. Resah. Konsep yang kukarang semalam suntuk rontok satu persatu.

"Kamu kenapa?' Tanya lelaki itu lagi.
"Engga". Sebuah suara pendek datar, kaku, seperti baru saja keluar dari alam kubur, mengerikan, terngiang2 di telingaku. Oh tidak, suara itu adalah milikku, keluar begitu saja. Intonasinya jauh dari yg direncanakan. Persis seperti sebuah suara penolakan seorang istri yang diminta balik oleh mantan suaminya setelah ditalak 3 kali dan diselingkuhi berulang2. semua menjadi tidak karuan. Tubuhku menegang, tulang2ku seolahbermetamorfosis menjadi besi2 tua rongsok. gerakku kaku. Berderik2. Wajahku nanar. Hawa panas mengitar senang diatas ubun2ku. Aku siap meledak.

"Beneran ga mau?" Suara lelaki itu lagi. terdengar mulai tida antusias. Mungkin ia menyesal luar biasa telah menawariku sebelumnya. ia menatapku serius.
"Emmm, engga. Makasih." Tolak suaraku lagi. Kali ini lebih santun tapi tetap terdengar aneh. Persis seperti suara si inem pelayan seksi yang menolak ajakan mesum majikan prianya. Lelaki itu beranjak cepat tak berani kulihat. Mungkin saja ia setengah berlari meninggalkanku. Menyelamatkan diri tepatnya. Tempatku ini terlalu horor baginya.

Kini tinggalaah aku sendiri. Lunglai. sedih bukan kepalang. Kemana konsep2 gila itu. Aku meradang. Perih sungguh. Lamat2 kembali kulafazkan hapalanku. Hai, apa kabar? Weekend kemana aja? Wah, kangen nih sama kamu. Udah sarapan belum? aku bawa roti nih khusus buat kamu. Enak kan? Suaraku terdengar normal, ringan dan renyah. Tidak seperti suara istri yang ditalak 3 kali atau suara memelas inem si pelayan seksi.

Untuk kamu yang tak pernah tahu. Malam ini kembali ku berpikir keras. Pinsil 2B tumpul menyelip betah di kupingku. Tak lupa lilitan dasi pramuka terikat kuat di keningku. Aku frustasi.

Siapa bilang jatuh cinta berjuta rasanya. Bagiku, cenat cenut.



Jakarta 24022011