Tampilkan postingan dengan label Memoar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memoar. Tampilkan semua postingan

Ingatkah kau (Kamis tengah hari, jam 12 siang itu)


.

Ingatkah kau, kamis tengah hari. Jam 12 siang itu? Kau mungkin lupa. Ah, tak mengapa. 

Sumber gambar : www.google.com

Ingatkah kau, kamis tengah hari. Jam 12 siang itu, saat matahari benar-benar merajai. Langkah kecilku lengkap menyapu lapangan sekolah kita. Bersama debu yang menghambur diantara kaki-kaki yang berlarian berebut bola. Ah, aku benci pelajaran olahraga. Saat anak-anak lain bergembira menunggu-nunggu jam pelajaran olah raga dimulai. Bagiku itulah awal derita. Tubuhku kecil, mungil tak ideal untuk pelajaran macam ini. Servis voliku tak pernah masuk-masuk, prestasi terbaikku bola menyentuh net, tak melampauinya sekali pun. Basket, apalagi. Tes memasukan bola ke dalam ring, akulah juru kuncinya. Tak jauh-jauh dari nol besar, kalaupun masuk sudah Alhamdulillah, bonus dari Tuhan.

Ingatkah kau, kamis tengah hari. Jam 12 siang itu? Ah sudahlah. Aku jujur bukan, ketika kukatakan disetiap tahunnya, akan ada hari-hari yang kubenci. Yah itulah hari dimana ada pelajaran olahraganya. Ketika pemilihan guru favorit setiap tahunnya, bisa kutebak apa yang ada di kepala anak-anak lainnya. Guru bahasa dan olahraga akan merajai puncak suara. Kau tahu, aku akan menutup rapat surat suaraku hari itu, hingga tak kuizinkan sesiapapun melihatnya. Karena pilihanku tak popular. Akan ada nama-nama langka yang bahkan bila dilafazkan orang-orang akan mengkerutkan keningnya tak mengerti nama guru-guru kami yang manakah gerangan. Dengan yakin aku tuliskan nama Bu Sita, guru matematika kami yang terkenal galak itu. Atau Pak Badrus guru biologi yang dianggap anak-anak sebagai guru yang gagal paham selera anak muda.

Ingatkah kau, kamis tengah hari. Jam 12 siang itu. Bahwa seluruh rahasia hidupku ada ditanganmu. Kau tahu aku benci olahraga namun cinta mati pada ilmu pasti. Bukan karena aku menyukai angka-angka. Bukan karena kekagumanku pada amuba yang mampu membelah diri sesukanya. Bukan karena aku paling tahu bagaimana membedakan asam dan basa. Bukan. Bukan karena aku mengidolakan eistein, newton dan sejenisnya, ah, siapa yang peduli nama-nama itu bila kau tanya pada orang-orang di kampungku. Tentu saja bukan itu. Saat pelajaran-pelajaran itu aku menemukanmu. Menemukan kelemahanmu. Kelemahan yang menarikmu kepadaku. Aku suka itu. Menatap wajah bingungmu ditengah-tengah hitungan logaritma. Menertawai gerutu dan kesalmu karena tak mampu membedakan mana gaya mana daya. Menunggu-nunggu sejumput tanyamu kepadaku tentang apa itu protozoa ataupun molusca. Haaa, aku suka tentang semua itu. Aku menjadi sempurna disana.

Ingatkah kau, kamis tengah hari. Jam 12 siang itu, saat matahari tak sedikitpun toleransi pada anak-anak negeri ini. Kami dipaksa berlari mengelilingi lapangan sekolah ini sebanyak tiga kali atas nama edukasi, pemanasan sebelum latihan biar kau tak pingsan dan kejang-kejang, begitu petuah guru favorit sekolah ini. Ahh, lengkap sudah kebencianku pada pelajaran ini. Sumpah serapah menyampahi bibirku. Kau tak akan pernah tahu. Hingga pada saat pluit tanda istirahat itu pun berbunyi. Aku tersandar dengan napas satu-satu. Wajahku basah oleh keringat dan erangan. Persis lenguhan budak-budak belian di perkebunan Araruna. Aku haus, awas mencari kiranya dimana sumber pelepas dahaga. Hingga mata ini tertuju padamu. Ya engkau... disana, bersama gadis berkacamata minus itu.

Ingatkah kau, kamis tengah hari. Jam 12 siang itu. Waktu seolah berputar terbalik sejak saat itu. aku mulai tak bisa membedakan lab kimia dengan lapangan olahraga, sama-sama busuk. Pelajaran matematika seolah berisi kumpulan angka-angka setan yang memusingkan. Biologi tak lagi menyenangkan. Peduli apa aku dengan cara reproduksi binatang tak bertulang belakang. Ah, aku bahkan lupa nama-nama guru yang akan kutulis saat pemilihan nanti. Susah payah aku mengingatnya, sesusah menghapalkan nama penemu fosil-fosil manusia prasejarah dunia. Tunggulah nanti, saat waktu itu datang surat suaraku tak akan lagi tertutup rapat. Aku akan ada di tengah kerumunan, bersorak mengiyakan, setuju bukan kepalang, guru olahraga pasti menjadi pemenang.


Ingatkah kau, kamis tengah hari. Pukul 12 siang itu ... saat aku tak lagi mengutuki pelajaran olahraga. 

-Catatan usang, medio Jan 2014-

Dandelion Bukan Mawar


.

Karenamu aku menyukai dandelion bukan mawar
Tumbuh di puncak bukit sana di dekat kastil tua, rumah para kaum bunian
Pada tanahnya mengalir darah para pemberontak
Ratusan jiwa pernah meregang nyawa di atasnya
Mati, belulang mereka terkubur oleh bungkus tipis tanah kering yang tak sengaja ditiup angin
Atau dedaunan tua yang terserak ...

Kesana,  sama saja cari mati!
Aahhhh, itu hanya cerita petakut yang kau dengar sebelum tidur saja ... selamu waktu itu.
Hingga pada satu remang petang,  kita berlari bersama angin menuju ke puncak bukit itu ...
Lihatlah! serumu ...
Indah ...
Ribuan tangkai dandelion terhampar diatasnya,
belukar itu tumbuh sehat disana.
Serupa mantel putih hangat di musim dingin yang menyelimuti tanah basah dibawahnya
Tunggulah barang sedetik saat angin gunung datang
Akan kau lihat dandelion-dandelion itu mengangkasa
serupa butiran-butiran awan putih nan lembut

Lupakan dulu tentang kastil tua,
lupakan dulu tentang kaum bunian
lupakan dulu tentang tanah kutukan.
ini tentang dandelion ...

Ya ...
karena mu, aku menyukai dandelion bukan mawar ....

Paramore: The Only Exception

Sumber Video : www.youtube.com

Lelaki Kertas


.

Sumber Gambar : Google

Tubuhnya tipis dengan tinggi yang menjulang hingga mendekati tiga rentang tangan orang dewasa. Bila berjalan ia sempoyongan, meliuk-liuk seperti sehelai kertas yang dipermainkan angin. Pasrah menunggu sang bayu penat dan menghamburkan tubuh cekingnya terserak lemah. Angin tak sepenuhnya musuh baginya, karena angin jugalah yang membantunya mendorong sendi tubuh lusuhnya bergerak. Menggoda aliran darahnya untuk terus berkonvoi, menyentak saraf dan menyadarkan otak kalau tubuh kertas itu masih bernyawa. Angin dan ia adalah sebentuk simbiosis mutualisma, kerjasama dua makhluk alam yang membutuhkan dan dibutuhkan. Saat angin berbisik, lelaki kertas itulah pendengar setianya. Menaikkan daun telinga caplangnya, serius mendengarkan tanpa interupsi. Itulah keistimewaannya dibanding manusia lainnya, tak banyak cincong. Ia penyimpan rahasia yang baik, tahu cerita mana yang harus dikabarkan dan mana yang harus disimpannya sendiri.

Beralih ke wajah lelaki kertas itu. Satu kata cukup mewakilkan roman pemilik tubuh tipis kering itu. Kacau. Tidak ada keseimbangan disana. Timpang, centang perenang. Bola matanya besar laksana gajah jumbo yang dipaksa masuk dalam kerangkeng monyet. Membiarkan bokong besarnya menyembul keluar. Biji mata itu tertanam dalam lubang yang sempit dan pengap. Seakan ingin meloncat keluar meninggalkan sarangnya. Bulu kudukmu akan berdiri bila lama-lama menatap mata itu. Hidungnya bulat besar. Sangat memakan tempat di area wajah lonjongnya. Menggusur anggota wajah yang lain untuk menepi. Bibirnya seperti kerucut. Kecil, tipis. Ketika berbicara seperti mulut ikan yang megap-megap di permukaan tabek mencari udara yang tidak sepekat dibawahnya. Didalamnya teronggok deretan gigi yang tidak rata. Laksana barisan rumah yang porak poranda akibat hempasan angin puting beliung. Menyisakan puing-puing atau bangunan miring tak beratap. Bicaranya tidak begitu jelas. Kalau kau malas bertanya untuk yang kedua kalinya, berarti kau harus mengira-ngira dan menebak apa yang sedang dibicarakan oleh lelaki kertas itu. Kusarankan untuk menjaga pendengaran dan penglihatan agar tak keliru.

Kepalanya sulah dengan rambut tipis bewarna merah kecoklatan. Tandus, helaian rambut tumbuh ala kadarnya. Membentuk lingkaran tepat diubun-ubunnya seperti bekas pendaratan pesawat UFO di ladang gandum. Kulitnya kering terbalut warna coklat tua pekat. Jari-jari tangannya suka bergetar sendiri, tak mau diam, tak terkendali. Gemetar. Seolah punya dunia sendiri yang terpisah dari induk semangnya. Maka tak jarang lelaki itu sering menjatuhkan benda-benda yang sedang berada dalam genggamannya.

Maik, begitulah orang kampung sering memanggilnya. Aku tak tahu pasti nama panjang lelaki kertas itu. Aku mengenalnya telah berada di kampung aur ini dengan nama yang tak ubahnya seperti sebuah gelar. Sindiran nyata tentang roman dan perawakannya yang tak jauh beda dengan mayit atau mayat. Ia sering meracau tak jelas, tapi tak mengganggu. Dengarlah sekali-kali racauan itu. Ada sejuta makna disana. Tak asal. Bukan sekadar gurauan. Ada peringatan, nasihat, petuah, sindiran halus bahkan kekocakan yang membuat kau tersenyum.

Maik tak pernah protes dengan hidupnya. Sepi interupsi. Bahkan ia terlihat senang dengan kondisinya. Tak menyalahkan Tuhan. Apapun itu sempurna dimatanya. Tak ada hitam apalagi abu2. Semua bersih, suci, putih. Maik yang tak sempurna di mata awam kami, adalah manusia terpilih. Pilihan Zat yang maha tinggi. Pemilik jagat semesta. Mungkin karena itu pulalah ia diberi keistimewaan. Ia tak pernah alpa. Tak pernah lupa diri, tak pernah lupa kami, tak pernah lupa sembahyang, tak pernah lupa untuk saling mengingatkan. Ia laksana dengungan alarm penyentak.

Maik lelaki kertas itu. Si yatim yang dicintai orang kampung justru karena kekurangannya ... Helaian kertas berterbangan terserak di angkasa. Udara dingin menusuk2, angin bertiup tenang. Di ranah ini, di tanah jirek tanah wakaf lokalisasi peristirahatan abadi lelaki kertas itu kini berbaring. Lelaki kertas itu telah menulis sendiri amal2 baiknya di helaian kertasnya. Ia telah siap melapor kepada pemilik hidup. Maik, Ahmad ... Lahir Jumat 12 Januari, Wafat Jumat 12 Januari ...



Juanda, 27012011


Bukan Drama Asia !!!


.

Jeju island terlihat cerah. Matahari bersinar terik, tapi tak menyengat. Semuanya tampak nyaman dan hangat. Saat ini Seoul musim semi. Bunga sakura warisan Nipon tumbuh sehat di pinggiran jalan, menambah keromanisan negeri ini.


"Ji woo .... "

" Ya ..."

" Ji woo ... "

" Ya ..."

" Chou Ji woo."

"Emmmh ... we? Kenapa? "
" Tidak, aku hanya ingin mencoba mengingat namamu."

Gadis bernama Ji woo itu tersenyum. Disampingnya, seorang lelaki muda. Sama dengan JI woo, masih terbalut dalam seragam sekolah berwarna gelap. Memang tak seharusnya mereka disini. Tunggu sajalah esok, sebuah hukuman telah disiapkan oleh Tuan Muka Penuh bagi mereka berdua.

"Ji woo suka salju. Karena ia akan mencicipi butiran salju itu seperti ice cream. Emm."

Gadis itu tersipu. Ia menutup bibirnya dengan kedua telapak tangannya. Bola matanya berputar-putar jenaka. Lembutnya salju seakan terasa nyata dibibirnya saat ini. Tiba-tiba ia merindukan musim dingin.

"Ji woo tak suka Soju. Karena ia bukan gadis pemabuk yang menyebalkan."

Ji Woo, gadis muda itu. Bibirnya mengerucut, kedua pipinya mengembung. alis matanya menukik naik. Wajah yang jenaka. Membuat semua orang yang melihat akan tertawa terpingkal-pingkal. JI woo dengan satu gelas Soju, mabuk, sangat buruk sekali.

"Ji woo menyukai warna putih, karena putih adalah salju. Tapi entah kenapa ia selalu memakai sarung tangan musim dingin berwarna pink."
Gadis muda itu susah payah menahan tawa. Tampaknya lelaki disampingnya itu tak sembarang, ia tahu segala hal tentangnya. Tak perlulah ia menyesali tindakannya untuk kabur saat jam pelajaran sekolah masih berlangsung. Ikut bersama lelaki muda itu. Lihatlah dimana ia saat ini, Jeju Island, surga terindah yang pernah ada.

"Ji woo, suka melukis wajah. Karena ia ingin selalu mengingat setiap orang. "

Gadis muda itu terdiam. Wajahnya datar tak terbaca.

"Ji woo, adalah penipu. Karena ia selalu menutupi kesedihannya dengan menangis dibelakang tembok sekolah."

Gadis muda itu mengalihkan pandangannya ke arah lelaki muda itu. Sebentar. Ia kemudia tertunduk. Diam. Hanya helaan napasnya saja yang terdengar.

”Ji Woo, aku akan selalu mengingat namamu, 10, 20, 100 tahun hingga di kehidupan yang akan datang sekalipun.”

Tanah Basah. Negeri para peri bersayap tipis. Sibaklah kelopak mawar maka kau akan temukan makhluk mungil nan rancak itu terlelap disana. Negeri para kurcaci. pagi dan petang melantunkan mars penyemangat. Yeho ... yeho ... yeho ...

Bersambung ...

Sadis


.

Hanya padanya kugadaikan sumpahku. Tidak untuk Banih, Mantik apalagi Lani.

Gadis hitam manis. Lani, sejak kutahu ia telah terpilih, ia berwajah sehat walafiat. Steril dari kuman. Senyum mengembang dipipi tembemnya. Dulu ia bukan siapa-siapa, tak hidup, hanya berbayang, yang kadang terasa ada dan membuatmu menengok cukup sekali kebelakang. Tak penasaran sepenuhnya.
Bukan karena aku membenci atau iri padanya. Saat ini wajah bulat melonnya sepenuh pandang. Mengganggu bukan main.
Berkali-kali aku berpikir dan sebuah pertanyaan besar memenuhi otak kecilku. Tak pernah terjawab. Betah bersemayam hingga kini. Mengapa wanita ini hadir dalam perjalanan hidupku? Durasi pelakonannya hanya sekian detik namun aku merasa perannya tak bisa dianggap remeh. Bahkan bisa saja ialah penjahat sesungguhnya.

Mantik lain lagi. Perannya lebih halus. Ia mengenalku dengan sedikit kepentingan. Lumayan, transparan tak terlalu menyakitkan. Mengingatnya aku seolah menjelma menjadi seorang tua yang bijak bestari. Duduk tepekur menunggu antri sungkeman anak menantu yang minta doa restu. Khidmat mendengar petuahku seolah ia adalah pemuda yang telah penuh ilmunya dan siap turun gunung. Baginya aku adalah tetua, penuh pengalaman, sakti, petuahku adalah mantra pembasmi kutukan, dalilku adalah undang-undang. Mungkin seperti itu, kaliii!!!!
Mantik adalah rat-rata.

Dan Banih. Ia adalah seingatku saja. Tak banyak yang kutahu dan ingin kuketahui tentang dia. Rambutnya pirang, kuning seperti rambut jagung. Kulitnya juga kuning. Ia suka sekali menggunakan asesoris berwarna kuning. Anting kuning, gelang kuning, sepatu kuning, tas kuning. Giginya sedikit menguning, bukan karena terkena lunturan dari asesoris yang dipakainya, tentunya. Sepertinya di masa kecilnya ia adalah seorang yang penyakitan. Terpaksa meneguk antibiotik demi melanjutkan hidup.
Ia tipe-tipe pesolek. Aku yakin ia bukanlah sebuah ancaman besar. Hanya kameo.

KAy ... Kurang lebihnya, ialah pemangku sumpah itu. Banih, Mantik dan Lani bukan apa-apa. Kay, Ia mengenalku baik sekali.
Gadis ini luar biasa baik sekali. Setidaknya bagiku. Karena satu perihal yang inginku kabarkan padamu kawan ...

Dengan sadarku, aku adalah Mantik, atau Banih atau juga Lani bagi Kay .... Sadis


Juanda, 00092009

Jah Nehi Nehi Dendi


.

"Jah, nanti malam di gedung bioskop film apa yang akan diputar?" Si penanya terlihat susah payah menahan gelak. Aku tahu, jawaban dari bibir wanita yang tak jelas masa usianya itu tak penting baginya. Si penanya hanya ingin menggoda wanita setengah waras itu. Pikir si penanya, mempermainkan Jah dengan cara seperti ini akan lebih dianggap terhormat dibandingkan mengolok-oloknya sepanjang jalan, bertepuk tangan mengintai langkah Jah, dan meneriakkan kata "gila". Persis seperti ulah anak-anak ingusan kampung.

"Film india ... " Gumam Jah pelan, nyaris tak terdengar. Wanita itu. Kutaksir wajah tuanya dan gerak jalannya yang lapuk hanyalah sebuah khianat. Pengkhiatan fisik. Mungkin saja tak lebih dari 35 sampai 40 tahun, kurasa. Memang tak ada seorang pun yang tahu kapan tepatnya Jah lahir. Ia sudah ada di kampung aur, dan begitulah adanya. Orang-orang pun tak banyak cincong tentang silsilah keluarganya. Lebih tepatnya mereka tak peduli. Sebagian ada yang bilang kalau Jah tinggal di lurah atas, tapi itu pun tak jelas yang mana tepatnya. Yang paling aneh ada yang bilang ia tinggal balik air terjun Piang. Air terjun di bawah kaki gunung S. Tak banyak orang yang berani datang ke sana. Kawasan terlarang, kudengar. Penuh oleh orang bunian dan segala macam sekongkownya.

Penampilan fisik Jah. Rambutnya panjang hingga mencapai lutut, dikepang. Rapi jalinannya, diminyaki sepertinya. Pakaiannya. Jangan kau mengira ia gila maka pakaiannya kumuh, lusuh dan kacau balau. Ia memakai sebuah kaos longgar yang tertutup kain panjang yang dililit diselempangkan. Kugambarkan seperti kain sari yang dipakai wanita-wanita India. Maka tak heran orang-orang sering mengolok Jah dengan panggilan Jah nehi nehi dendi. Ia tak marah. Mungkin saja julukan itu bahkan sebentuk penghargaan tersendiri baginya. Karena tampilannya inilah orang kampung sering menanyakan hal-hal yang berbau India pada wanita ini.

Jah menjinjing sebuah tas plastik setiap hari. Model yang sama, walau telah usang tak pernah dibuang. Isinya tak penting. Karisiak. Yakni daun pisang yang telah mengering. Ada banyak helaian didalamnya. Disusun rapi serupa lembaran uang dalam dompet.

Jah. Sebuah nama yang mungkin sangat indah dan agung. Siti Khajidah Adnan binti Muhammad Adnan. Deret nama yang bisa kubaca diatas sebuah gundukan tanah cembung. Tanah yang telah kering, gersang. Jasat wanita berkepang dengan baju sari warna mencolok itu telah terbaring di dalamnya. Jah telah pergi. Meninggalkan kami orang-orang kampung yang sering mengolok-oloknya. Meninggalkan dunia fana ini.

"Jah, film apa yang main di gedung bioskop ini malam?"
Hening


Juanda, 060309

Lelaki Pelontar Jumroh


.

Jumroh. Begitulah orang-orang kampung memanggilnya. Bila ditanya tak banyak yang tahu pasti siapa nama asli lelaki berkulit hitam pekat itu. Ku tangkap satu maksud kalau peringai lelaki itulah yang menyebabkan orang-orang memanggilnya Jumroh. Lelaki pelontar jumrah tepatnya. Setiap hari berjalan menyusuri kampung. Tak beralas kaki. Tidak lebih dari tiga hal tentang lelaki itu. Duduk berjongkok, memungut beberapa buah kerikil dan kemudian melemparnya kesegala arah. Persis seperti orang yang sedang melempar jumroh, ula, wusta dan aqobah. Mungkin karena perangainya itulah ia dipanggil jumroh.

Sepertinya di depan lelaki itu sering bercokol setan-setan yang tiada henti memperoloknya. Menghina tubuh cekingnya yang kumuh dan semakin tak bergizi itu. Tak sembarang, jumlah kerikil itu pun dihitungnya, sama sebanyak setan-setan yang ada dihadapannya. Menghalau mereka lintang pukang berhamburan. Sejenak setelah itu Jumroh menengadahkan wajahnya ke atas langit. Ia tersenyum. Penuh kemenangan, tersirat di sudut bibir coklat keringnya itu. seolah disana dibalik awan putih itu mengintip malu-malu seraut wajah kecil nan lucu bersayap dan bermahkota daun, tersenyum menyambut kemenangan Jumroh. Begitulah setiap hari setiap waktu.

Muhammad Wahid Natsir. Nama asli lelaki pelontar jumroh itu. Ayahnya seorang ulama besar di kampungku. Natsir kecil adalah seorang jenius. Pandai bukan main di sekolahnya. Aljabar dan ilmu alam dikunyah seperti makan bubur saja baginya. Mengaji Al Quran pun jangan ditanya. Sering diminta sebagai perwakilan kampung dalam acara MTQ antar kampung. Luar biasa.

Namun kemalangan apa yang membuat Natsir kecil nan jenius menjelma menjadi Jumroh? Saat menamatkan pendidikan tsanawiyahnya, malang sang ayah meninggal dunia. Sawah peninggalan ayahnya yang cukup luas diambil alih oleh pamannya. Tinggalah Jumroh dan ibunya miskin merana. Mimpi yang pernah digantungkan untuk bersekolah tinggi pupus sudah. Selang sebulan ayahnya meninggal menyusul pula ibundanya menghadap sang Khalik. Jumroh yatim piatu. Tak siap dengan musibah yang beruntun. Kepala jumroh panas. Ia mulai meracau sendiri. Dan melempar kerikil di jalanan.

Jumroh. Terakhir ku melihat ia 8 atau 10 tahun yang lalu. Entah bagaimana ia kini. Dulu ada binar dan gairah yang menggebu terperangkap dalam mata letih Jumroh yang kulihat. Kepintaran itu masih ada disana. Hidup serupa api dalam sekam.

Jumroh ... jumroh ... Ku bertanya masih adakah setan yang menggodamu?
Ini, kerikil untukmu.

Juanda, 17022009