Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

SURAT CINTA DARI K


.


Minggu-minggu ini saya mulai sibuk (sibuk kepikiran). Gimana engga, seminggu selepas revisi proposal tesis yang terasa tak berkesudahan dari bulan januari hingga april, akhirnya alhamdulillah, puji syukur sebesar-besarnya saya panjatkan kepada Allah Tuhan semesta alam, yang Maha dahsyat kasih sayang dan pertolongannya. Memang tidak ada yang namanya sia-sia bila kita sudah berusaha. Jatuh bangun, nangis, bingung, dan tak lelah-lelahnya berdoa kepadaNya, akhirnya semua  terbayar sudah. Thanks a lot my God, Alhamdulillah,finnaly minggu kedua di bulan april ini akhirnya saya menerima pesan melalui imel kampus. Sempat kecolongan juga sih, imel dikirim tanpa subject, dengan nama pengirim yang saya tidak kenal. HAmpir dua hari imel dari kampus itu menginap di inbox saya tanpa tersentuh, karena memang saya tidak tahu itu imel yang urgent (habis ga ada subject, kan saya pikir itu hanya imel iklan promo jualan online atau spam-spam ga jelas). Tapi alhamdulillah, Allah membimbing saya untuk membukanya. Eh ternyata, itu imel penting yang mengabarkan bahwa saya sudah dapat dosen pembimbing tesis dan bisa segera mengambil surat penunjukan dosen hari itu juga. Berhubung itu imel baru saya buka hari sabtu. Padahal dikirimnya hari kamis. Akhirnya saya harus sabar nunggu senin untuk mengambil surat tersebut.


Penasaran, deg-degan waktu surat penunjukan dosen saya terima dari admin kampus. Deg-degan gemetarannya tidak jauh beda saat ketemu sama orang yang diam-diam kita suka. Pengen ngajak ngobrol tapi lidah udah kelu, bleng, keringatan dan gemetaran (hahha … baper). Amplop yang saya terima cukup tebal dibandingkan tumpukan amplop yang ada di bawahnya. Saking tebalnya rasa penasaran saya naik berkali-kali lipat (plus ngerutin jidat). Pas saya buka. Semua tampak makin complicated. Berlembar-lembar surat tersusun di dalamnya. Saya mencoba tenang. Satu persatu saya baca. Dahi saya makin berkerut, tidak mengerti dengan surat-surat yang saya baca. Bolak balik saya mengeja tulisan yang ada disana. “Nama dosennya itu ada dibagian atasnya mba.” Seru pak dwi. Admin kampus yang sepertinya mulai memcium kekalutan yang ada didepannya. “Tapi Pak … “ suara saya tercekat (hihihihih … agak didramatisir). Ini sedikit aneh bagi saya. Saya mengerti sekali pada bagian mana nama dosen dicantumkan. Bagian atas dibold lagi, mana mungkin saya tidak melihatnya. Tapi yang menjadikansendi-sendi badan saya lemas bukan sekedar nama dosen. Tapiii, lembaran surat itu mencantumkan dua nama. Yup 2 nama. Dosen pembimbing satu dan dosen pembimbing 2. Artinya dosen pembimbing saya ada dua. Jelas?! Oh dear my God, Allah Tuhan yang luar biasa kasih sayangnya. Kenapa harus dua dosen. Setahu saya anak-anak yang lain hanya dibimbing oleh 1 orang dosen saja. Lah ini saya malah dua. Sontak saya langsung bertanya ke pak dwi. Singkat jawabannya tapi tidak melegakan pikiran saya yang makin menggalau. “Iya, dua dosen. Yang lain juga ada kok.” Tapi kenapa? Jawaban yang makin menggembungkan tanda tanya besar di kepala saya.
Kuliah senin malam itu saya jalani dengan tidak fokus, konsentrasi saya pecah buyar memikirkan penyusunan tesis nanti akan seperti apa. Dua dosen, sodara-sodara! Sepulangnya dari kampus, saya langsung mengambil air wudhu. Shalat. Selepas saya shalat, saya berdoa dan merenung. Kembali berpikir, bukankah Tuhan sudah mengabulkan doa saya, untuk segera mendapatkan dosen bagi bimbingan tesis nanti. Apalagi yang salah? 
Dua dosen? Apakah itu buruk? Mungkin dalam pandangan saya itu buruk, tapi Allah pasti punya rencana terindah. Bukankah saya sudah berdoa, agar diberikan dosen yang terbaik. Tugas saya hanya meminta dan berusaha. Harusnya saya bersyukur berkali-kali lipat. BUkannya malah mengeluh dan terus bertanya why why dan why. Kuncinya Cuma satu, saya harus belajar ikhlas menerima.  KArena dengan menerima, hal-hal positif lainnya akan menyusul. Beban akan terasa lebih ringan, hanya ada prasangka baik yang muncul. Dan keyakinan pada Allah akan semakin mengakar, bahwa Allah itu sungguh maha baik. Apapun masalahnya kita tidak pernah sendiri, ada Allah.

Well, malam ini harusnya saya nyalain laptop buat menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang sudah menumpuk dan revisi tesis (karena minggu lalu sudah ketemu sama 2 dosen pembimbing). Tapi berhubung pengen nulis akhirnya yaa … nulis ini dululah. Apalagi ini loooonggg weekend. Bagaimana pertama kali ketemu sama 2 dosen pembimbing yang belum pernah saya kenal itu juga menyisakan cerita yang luar biasa bikin geli dan menyeramkan. Menyeramkan? Yup … Penasaran? Tar diposting lagi ….


Sungguh dibalik kesulitan ada kemudahan. Diulang 2 kali dalam Al Quran. Dan saya yakini itu ….

Apa Kabar Dunia? Ehmmm ...


.


HAiii …. Apa kabar dunia? Apa kabar Indonesia? Wah… wah hampir satu tahun lebih saya ga aktif di blog ini. Rentang waktu yang cukup lama. Banyak hal yang sudah saya lewatkan. Emmm … ada yang penasaran ga kemana saja putri cantik ini pergi? Hihihi … mungkinkah sang pangeran terlalu lama ngeja peta sampai nyasar kemana-mana? Tak jua menemukan sang putri tidur yang menunggunya dalam balutan mantra. Hahaiii …. Pas bangun-bangun sudah banyak yang berubah. Ngomong2 presiden kita udah ganti yah?


 
Sumber gambar : www.google.com

Duh, banyak sudah yang saya lewatkan. Mungkin saja dalam rentang waktu tidur panjang saya kemaren sudah tak terhitung jomblowan/ti yang sudah nyetak dan nyebar undangan pernikahan, kecuali saya. Ups, curhat dikit. Haaa, baiklah. Well, sebenarnya udah lama banget pengen kembali ke blog ini. Sekedar baca-baca atau benar-benar nulis di laman blog ini. Rutinitas seolah-olah sukses  menelan saya bulat-bulat sepanjang tahun ini. Kali ini tak sekedar sebuah kata “pekerjaan” saja yang membuat saya kadang ngiri sama amoeba, berharap bisa membelah diri sesukanya. Hingga cukup waktu mengerjakan apa saja yang kudu dan “fardu” saya laksanakan sebagai konsekuensi hidup yang saya pilih sebelumnya. Emmm, pembicaraan mulai terdengar berat.

Ya, begitulah kenyataannya. Terhitung dari bulan Agustus tahun 2014 kemaren, kesibukan dan jadwal saya tak hanya sekedar shooting dan shooting seperti tahun2 sebelumnya (abaikan). Intinya, sejak bulan itu saya sudah mengikatkan diri untuk terjerumus pada kemakmuran guna stabilisasi kualitas ekonomisasi yang harmonisasi ke depannya (serasa abis kesurupan vikinisasi). Eps, kemana tuh orang y? Udah kelar nyantren lom y? (abaikan lagi). Agustus atau Septemberan lah, saya lupa tepatnya, saya kembali mendedikasikan diri untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya di bangku kuliah. Jadi mahasiswa eh mahasiswi lagi, hahaiii. Kok merasa muda lagi dan imut yah di panggil mahasiswa, gitu. Ya saya ngampus lagi. Nah-nah, dari sanalah semuanya bermula kawan. Hingga tak sedikit pun waktu yg kemudian saya punya, walau sekedar bertegur sapa, gahol sama teman-teman, sampai-sampai saya tak punya waktu untuk bergosip2 cantik dengan abang sayuran langganan saya, yang ngakunya sebagai salah satu fans garis keras acara insert investigasi dan silet. Ahhh, semuanya kini tinggal kenangan yang memang tak pantas dikenang (baca : sampah).

Pekerjaan kantor yang memang tidak sedikit, ya you knowlah. Ditambah dengan jadwal kuliah yang super padat, membuat waktu seolah mengkerut bagi saya. Jam kuliah dimulai pukul 7 dan selesai jam 9.30 malam. Walaahhh, awal-awalnya memang saya sempat kewalahan. Badan sedikit menciut walau ga ekstrim2 banget mungkin kaget dengan rutinitas baru yang agak menyita tenaga, waktu dan pikiran (berat yah ternyata, baru nyadarrr). Cuma ya begitulah. Semua harus dijalani dengan sabar dan ikhlas. Prinsipnya sederhana, harus ada yang mengalah atau dikorbankan untuk meraih sesuatu yang lebih baik. Yah mungkin kali ini, saya harus pinter2 bagi pikiran, tenaga dan waktu saya agar niat mulia yang saya cita-kan bisa tercapai. Amin

Saya ingat perkataan salah seorang dosen saya di masa-masa awal perkuliahan. Dia salut dengan orang-orang yang duduk dengan setumpuk buku beratus2 halaman yang ada dihadapannya saat ini. Ya itulah kami (baca : saya dan teman2 kampus lainnya), yang sudah mengorbankan waktu istirahat sepulang kerja dengan harus duduk mendengarkan kuliah panjang lebar dari mereka. Menahan letih dan kantuk. Mengabaikan, entah tadi siang setumpuk pekerjaan menyita jam makan siangnya, entah tadi siang si bos minta laporan ini itu, dan entah apa lagi macam ragamnya yang terjadi tadi siang di kantornya. Melupakan sejenak waktu yang mungkin tertukar dengan keluarga. Harusnya saat ini sedang bersenda gurau dengan suami/istri dan anak, dengan ayah ibu atau saudara lainnya. Semua dikorbankan demi ilmu dan sebuah tujuan. Dosen saya meminjam sebuah istilah dalam ekonomi yaitu opportunity cost.Sederhananya, saya dan teman2 kampus lainnya sudah membuat pilihan dari beberapa alternatif pilihan yang ada. Dan bagi kami (baca : saya) mungkin inilah pilihan yang terbaik.

Well, begitulah sejarah singkat mengapa Belanda sampai saat ini sulit move on dari Indonesia. Kenapa? KArena eh karena, Indonesia sama Belanda itu dulu pernah punya hubungan. Emmm, nah berhubung sekarang udah putus, otomatis Indonesia jadi mantannya deh. Makanya Belanda susah move on … hahaha (khusus yg ini anggap ga pernah baca). Maksudnya begitulah sejarah singkat mengapa hampir setahun ini tulisan saya ga pernah nongol2 di blog ini. Jujur, sebenarnya saya udah ngebet2 cantik untuk nulis di blog ini. Tapia apa mau dikata. Alhamdulillah siang ini ada sedikit waktu. Eh, inget lagi kalau pernah punya blog. Untung saya masih ingat alamat dan password blog ini walau samar2. Pas ngeklik agak sedikit kaget, loh kok blog saya udah brewokan, gondrong dan kusam. Huff …. Walau sedikit ekstra kerja keras, ngelap sana sini, akhirnya blog ini terlahir kembali. Hihihihi

Next, moga tiap bulannya akan ada postingan terus yang bakal nongol di blog ini. Amin

Ingatkah kau (Kamis tengah hari, jam 12 siang itu)


.

Ingatkah kau, kamis tengah hari. Jam 12 siang itu? Kau mungkin lupa. Ah, tak mengapa. 

Sumber gambar : www.google.com

Ingatkah kau, kamis tengah hari. Jam 12 siang itu, saat matahari benar-benar merajai. Langkah kecilku lengkap menyapu lapangan sekolah kita. Bersama debu yang menghambur diantara kaki-kaki yang berlarian berebut bola. Ah, aku benci pelajaran olahraga. Saat anak-anak lain bergembira menunggu-nunggu jam pelajaran olah raga dimulai. Bagiku itulah awal derita. Tubuhku kecil, mungil tak ideal untuk pelajaran macam ini. Servis voliku tak pernah masuk-masuk, prestasi terbaikku bola menyentuh net, tak melampauinya sekali pun. Basket, apalagi. Tes memasukan bola ke dalam ring, akulah juru kuncinya. Tak jauh-jauh dari nol besar, kalaupun masuk sudah Alhamdulillah, bonus dari Tuhan.

Ingatkah kau, kamis tengah hari. Jam 12 siang itu? Ah sudahlah. Aku jujur bukan, ketika kukatakan disetiap tahunnya, akan ada hari-hari yang kubenci. Yah itulah hari dimana ada pelajaran olahraganya. Ketika pemilihan guru favorit setiap tahunnya, bisa kutebak apa yang ada di kepala anak-anak lainnya. Guru bahasa dan olahraga akan merajai puncak suara. Kau tahu, aku akan menutup rapat surat suaraku hari itu, hingga tak kuizinkan sesiapapun melihatnya. Karena pilihanku tak popular. Akan ada nama-nama langka yang bahkan bila dilafazkan orang-orang akan mengkerutkan keningnya tak mengerti nama guru-guru kami yang manakah gerangan. Dengan yakin aku tuliskan nama Bu Sita, guru matematika kami yang terkenal galak itu. Atau Pak Badrus guru biologi yang dianggap anak-anak sebagai guru yang gagal paham selera anak muda.

Ingatkah kau, kamis tengah hari. Jam 12 siang itu. Bahwa seluruh rahasia hidupku ada ditanganmu. Kau tahu aku benci olahraga namun cinta mati pada ilmu pasti. Bukan karena aku menyukai angka-angka. Bukan karena kekagumanku pada amuba yang mampu membelah diri sesukanya. Bukan karena aku paling tahu bagaimana membedakan asam dan basa. Bukan. Bukan karena aku mengidolakan eistein, newton dan sejenisnya, ah, siapa yang peduli nama-nama itu bila kau tanya pada orang-orang di kampungku. Tentu saja bukan itu. Saat pelajaran-pelajaran itu aku menemukanmu. Menemukan kelemahanmu. Kelemahan yang menarikmu kepadaku. Aku suka itu. Menatap wajah bingungmu ditengah-tengah hitungan logaritma. Menertawai gerutu dan kesalmu karena tak mampu membedakan mana gaya mana daya. Menunggu-nunggu sejumput tanyamu kepadaku tentang apa itu protozoa ataupun molusca. Haaa, aku suka tentang semua itu. Aku menjadi sempurna disana.

Ingatkah kau, kamis tengah hari. Jam 12 siang itu, saat matahari tak sedikitpun toleransi pada anak-anak negeri ini. Kami dipaksa berlari mengelilingi lapangan sekolah ini sebanyak tiga kali atas nama edukasi, pemanasan sebelum latihan biar kau tak pingsan dan kejang-kejang, begitu petuah guru favorit sekolah ini. Ahh, lengkap sudah kebencianku pada pelajaran ini. Sumpah serapah menyampahi bibirku. Kau tak akan pernah tahu. Hingga pada saat pluit tanda istirahat itu pun berbunyi. Aku tersandar dengan napas satu-satu. Wajahku basah oleh keringat dan erangan. Persis lenguhan budak-budak belian di perkebunan Araruna. Aku haus, awas mencari kiranya dimana sumber pelepas dahaga. Hingga mata ini tertuju padamu. Ya engkau... disana, bersama gadis berkacamata minus itu.

Ingatkah kau, kamis tengah hari. Jam 12 siang itu. Waktu seolah berputar terbalik sejak saat itu. aku mulai tak bisa membedakan lab kimia dengan lapangan olahraga, sama-sama busuk. Pelajaran matematika seolah berisi kumpulan angka-angka setan yang memusingkan. Biologi tak lagi menyenangkan. Peduli apa aku dengan cara reproduksi binatang tak bertulang belakang. Ah, aku bahkan lupa nama-nama guru yang akan kutulis saat pemilihan nanti. Susah payah aku mengingatnya, sesusah menghapalkan nama penemu fosil-fosil manusia prasejarah dunia. Tunggulah nanti, saat waktu itu datang surat suaraku tak akan lagi tertutup rapat. Aku akan ada di tengah kerumunan, bersorak mengiyakan, setuju bukan kepalang, guru olahraga pasti menjadi pemenang.


Ingatkah kau, kamis tengah hari. Pukul 12 siang itu ... saat aku tak lagi mengutuki pelajaran olahraga. 

-Catatan usang, medio Jan 2014-

Kebetulan itu Tak Ada : 10 Kata Ajaib di Ruang Pemeriksaan


.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan Bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (QS. Ali Imran 190)

Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri dan duduk, dan dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi sambil berkata: "Ya Tuhan kami, Engkau tidak menciptakan ini dengan sia-sia! Maha Suci Engkau! Maka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS. Ali Imran 191)


                                                       Sumber gambar : www.google.com

Suatu waktu saya ke rumah sakit untuk cek mata. Ketika menunggu cukup lama akhirnya nama saya dipanggil. Didalam ruang periksa saya tertegun dengan sebuah tulisan yang menempel pada dinding ruangan. Tulisan tersebut dipahat pada sebuah kayu sepanjang kira-kira 30 sentimeteran. Begini bunyinya, "BILA KAU KIRA ITU MUSTAHIL, MAKA UBAHLAH IA DENGAN DOA". Tidak sia-sia rasanya menunggu antrian panjang untuk cek mata siang itu, karena bagi saya tulisan yang menempel pada dinding tersebut adalah salah satu bentuk bukti kasih sayang Allah kepada saya, Dia mengajak saya berkomunikasi walaupun secara tidak langsung. Bahwa untuk mengatasi segala permasalahan yang saya alami saat ini, yang harus saya lakukan adalah BERDOA. 

Mengutip dari buku OMA karangan Pak Naqoi, saya seolah mengalami One Minute Awareness, satu menit kesadaran yang mengubah cara pandang saya terhadap masalah. Segala kekhawatiran dan kegundahan saya akan permasalahan hidup selama ini seketika meleleh berganti dengan optimisme yang tinggi setelah membaca tulisan tersebut. Saya kembali yakin sepenuhnya dengan kata-kata bahwa, Allah tidak akan memberi ujian diluar batas kemampuan manusia, saya kembali yakin bahwa Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang, saya kembali yakin bahwa menyikapi masalah dengan baik justru akan membuat manusia itu semakin dekat dengan Tuhannya. Saat manusia diberi kado berupa masalah oleh Allah, justru saat itu Allah sedang sangat dekat-dekatnya dengan kita. Bukankah dekat dengan Tuhannya adalah hal yang sangat diinginkan oleh setiap manusia yang beriman? Allah lebih intensif mengawasi, menunggu respon kita dalam menyikapi masalah tersebut, dan menunggu doa-doa kita.

Well, walaupun harus menunggu antrian pemeriksaan sampai hampir 2 jam, untuk cek mata yang hanya 5 menit, diteruskan dengan mengambil obat dan mengurus administrasi asuransi yang panjang dan lama, hehehe. Yah dihitung-hitung memakan waktu hampir 5-6 jam, tidak apa-apalah. Tidak ada yang sia-sia dan kebetulan, karena hari itu saya mendapatkan ilmu yang menjadi motivasi luar biasa. Sebuah tulisan yang tak lebih dari 10 kata yang menempel pada dinding ruang pemeriksaan. Memang bukan sebuah kebetulan tulisan itu saya baca, dan bukan kebetulan juga tulisan itu ada disana. Karena hidup memang bukanlah kebetulan. Ada hikmah dari setiap kejadian, tergantung bagaimana kita menyikapinya. 

Jakarta, 14 Feb 2014

Mba Hangernya Mana?


.



Sedikit sensi kalau dengar kata hanger. Huhuhu, begini ceritanya, waktu itu tahun 2012 bertepatan dengan bulan puasa, saya bersama seorang teman pergi ke Bandung dalam rangka tugas kantor. Kebiasaan buruk saya kumat, untuk perjalanan yang tidak terlalu jauh dari Jakarta, seperti Bandung, saya sering acuh dan ga terlalu banyak prepare. Bandung ini, dekat kok.

Saya dan teman saya putuskan menginap di hotel X, ini kali pertama saya menginap disana. hotel tersebut dekat dengan travel yang kami tumpangi dari jakarta.  Tinggal jalan dikiiit, nyampe deh J. Karena teman saya masih ada jadwal kuliah, makanya kami ga berangkat bareng. Kuliahnya baru selesai jam 9 malam, jadi ia berangkat dari jakarta dengan menggunakan travel kira-kira jam 10an. Sedangkan saya memilih berangkat sore, jam 3an, niatnya biar sampai di Bandung sebelum Magrib, jadi bisa buka puasa disana sekalian. Yup, akhirnya saya nyampe juga di Bandung sebelum Magrib, 5 atau 10 menit menjelang azan.

Eiiit, untuk pertama kalinya dalam sejarah perjalanan yang saya alami, di hotel ini saya sadar kalau saya sedikit pikun. Hehehe, sedikit loh. Bagaimana tidak, pas mau check in hotel, pas mba resepsionisnya minta KTP, pas pula Kartu itu raib entah kemana. saya mulai kasak kusuk buka tutup dompet. Nervous dikit, habis takut dicurigain macam-macam sama mba nya. Saya baru ingat, KTP itu tertinggal di dalam tas ransel yang saya bawa waktu ke Yogya dalam perjalanan beberapa hari yang lalu. Haduuuh, ga mungkin saya harus menunggu teman saya datang, masih lama, mungkin saja tengah malam nanti ia baru sampai. Untunglah mba resepsionisnya percaya dengan alasan saya. Tidak ada KTP akhirnya saya pakai kartu pegawai, hehehe.

Selesai dengan KTP, saya dimintai uang penginapan. Oh Tuhan, masalah lagi, karena sebelumnya teman saya bilang pembayaran akan lewat kartu kredit dia saja. Tapi saat ini dia ga disini, saya telepon ga diangkat. Emmm, saya berpikir keras, bagaimana saya bisa seceroboh ini, lupa bawa KTP sekarang juga hanya bawa atm yang isinya ala kadarnya saja. Alhamdulillah Tuhan masih sayang sama orang sabar seperti saya, hehehe, ada uang cash di dompet kira-kira 300 ribuan, sebagai DP awal penginapan. Done!

Setelah dikasih kunci, saya langsung “terbang” ke kamar. Haaahhh, melelahkan dan memalukan. Rasa-rasanya mba resepsionis itu hapal betul wajah saya. Wajah-wajah ceroboh yang patut dikasihani. Pas mau menghempaskan badan ke kasur, eiiit, saya lupa kalau kuitansi DP uang yang saya kasih belum dibalikin ke saya. Haduuuh, gimana mau ngambil balik uangnya coba, kalau bukti kuintansinya ga ada. Akhirnya saya bergegas menelepon resepsionisnya. Untunglah mereka ingat dan langsung diantar ke kamar. Tepat jam setengah satu malam, teman saya sampai di hotel. Syukurlah, sedikit khawatir dengan keputusan dia yang berangkat malam-malam ke Bandung sendirian. Saking khawatirnya saya sampai tertidur pulas ... eh salah ya. Hehehe

Pas sahur, saya terpaksa jalan sendirian ke restoran hotel, berhubung sang teman tercinta tidak puasa. Dekat lobi sebelah kanan, begitu info mba resepsionis tadi sore. Tapi kenyataan yang saya jumpai berbeda, lobi sebelah kanan memang ada restorannya, ada meja dan kursi makan, tapiiii gelap sodara-sodara, tak setitik cahaya pun yang mampu menembusnya, haiiiiaaa ... L. Saya bingung. Saking bingungnya sebuah pertanyaan besar muncul di kepala saya, Thomas Alfa Edison itu jomblo apa bukan yah? Soalnya keseringan ngutak ngatik lampu daripada ngeceng di mall, laaah, ... hehehe. Untung lagi ada tamu lain yang seperti saya. Ditengah kebingungan, datanglah pahlawan kami, mas resepsionis dengan seragam kebesarannya, tanpa babibu, dengan tatapan nanar ia langsung mengarahkan telunjuknya lurus, kami manut aja. Dan benar adanya, ternyata misteri restoran yang hilang itu berhasil dipecahkan. Ternyata resto yang digunakan adalah resto hotel sebelah yang masih satu group dengan hotel yang saya tempati. Huuuuuuhhh ....

Saya dan teman saya menginap dua malam di sana. Alhamdulillah pekerjaan kami di Bandung, bertemu dengan orang-orang ITB berjalan dengan lancar. Pas mau pulang, saya dan teman saya kembali pulang sendiri-sendiri. Ia memilih balik ke Jakarta naik travel jam 5 pagi. Kalau dipikir-pikir memang aneh, mulai dari awal dia sampai di Bandung tengah malam dan balik ke Jakarta jam 5 pagi, saya mulai merinding dan bertanya-tanya, jangan-jangan dia ada hubungan kekeluargaan sama Edward Cullen, sama-sama takut matahari  ... ehmmmm

Kembali, tinggalah saya sendiri. Saya memilih pulang jam 7 pagi. Dengan semangat 45 saya langsung menuju meja resepsionis buat check out dsbnya. Wajah mba resepsionis terlihat senang, mungkin ia lega akhirnya saya keluar juga dari hotelnya. Hehehe ... DP yang pernah saya serahkan, saya terima kembali. Done!

Sesampai di travel saya langsung duduk manis dideretan bangku paling belakang. Ada dua mba-mba cantik  yang duduk di samping kanan saya. Setelah berbalas senyum seperlunya, akhirnya saya tertidur dengan khidmat. Alhamdulillah semua selesai, pekerjaan dan peristiwa di hotel yang mengharu biru, tamat juga.

15 menitan kemudian, tiba-tiba HP saya berbunyi, nomor yang tak dikenal, kode wilayah jelas-jelas punya Bandung. Saya angkat ....

Ya, hallo ...
Dengan ibu ades (suara di seberang sana)
Yup dengan saya sendiri
Maaf ibu, kami dari hotel X mau konfirmasi (suara di seberang sana)
Iya, ada apa yah mba?
Setelah kita check kamar ibu tadi, kok ada barang kita yang tidak ditemukan ya ... (suara di seberang sana)
Hah kok bisa?
Barang apa ya mba?
Satu buah Hanger .... (suara di seberang sana)

Waduuh, saya langsung panik, saking paniknya saya kembali tertidur pulas. Damn .... :(


Keterangan :
Hanger = gantungan baju

sumber gambar: www.google.com

Barisan Sakit Hati


.

Hari ini hari baru kataku. Walaupun hampir setiap hari kuulang-ulang, meyakinkan. Sejak peristiwa itu. Sulit untuk mengikhlaskan. Menengok kembali hal-hal yang selama ini kuacuhkan. Perang telah usai kawan. Pekik merdeka telah lama redam. Musuh telah menyerah pulang ke kandang. Pengorbanan tanpa imbalan sudah tak jaman. Perjuangan, bambu runcing, tinggal sejarah yang dihapal berulang-ulang di sekolahan tanpa dipahami dan direnungkan. Yang penting saat ujian kau bisa mengisi jawaban nama pahlawan. Imam Bonjol namanya, itupun kau tahu dari uang gocengan untuk membeli sepuntung rokok. Disana ada gambar lelaki berjanggut dan bersorban. Itu dia.

Sudah lama. Deklarasi kemerdekaan sudah ditandatangan. Kertasnya pun sudah menguning bolong-bolong dan kini terbingkai rapi di gedung tua sana yang mereka bilang namanya mesium. Sudah terlalu banyak yang kutinggalkan. Di hari ini tak ada lagi yang namanya demi bangsa, semua sibuk demi mengurus perut. Kewajiban diabaikan, hak dituntut. Aku terlalu lena seperti mereka. Makanya Tuhan tak suka.

Aku seperti bangun dari tidur panjang. telah banyak yang berubah. Revolusi, reformasi. entah apalagi nanti. Sudahlah aku tak peduli. karena kini asa dipaksa sirna. Cinta sudah tak ada. Hanya duka. benci. Dan aku terlanjur sakit hati. Titik

Sumber gambar : Google

Juanda, 31052011

Cinta Cenat Cenut


.

Untuk kamu ....

Malam ini sama seperti malam2 sebelumnya, tak jelas sudah berapa lama, dua bulan ini tepatnya. Kembali kuselipkan sebuah pinsil 2B tumpul di telingaku. Dasi pramuka merah putih ponakanku yang baru dilantik jadi anggota pramuka siaga kamis petang kuikat kuat melingkar dikeningku. Ikatannya sedikit membantu mengurangi beban berat yang sekarang hinggap di kepalaku. Menyusun strategi terbaik, fokusku. Jangan sampai semua seperti yang sudah2. Aku berpikir keras. Berkali2, kutulis, kuhapus, kultulis, kuhapus, kutulis lagi, kuhapus lagi .... begitu seterusnya. Hampir satu jam lebih. Bulir2 keringat mulai membasahi wajahku, maklumlah, beberapa hari ini listrik di rumahku lagi naik turun tensinya, awalnya sedikit sensitif. Lama2 malah hidup dan mati sesukanya. Hingga penggunaan alat eletronik seperti kipas angin pun harus sedikit dikurangi dalam rangka peningkatan toleransi terhadap daya listrik yg pas2an. Mulai tahu diri, bahasa kerennnya.

Otakku mulai kendor, uapan berkali2 meluncur dari mulutku, mataku merah basah. Semangatku anjlok ke titik terbawah. Tatapanku mulai kabur, aku mulai menyerah. Hasilnya tidak bisa dibilang buruk. Coretan2 disana sini, sebuah konsep. Penuh dengan alur2 rumit yg hanya dimengerti olehku saja. SOP (Standar Operating Prosedur) untuk Para Pejuang, judulnya. Kutulis besar2. Tepat dibawahnya kutulis sebaris kalimat, Kali ini Harus Berhasil Tak Boleh Gagal Lagi, dengan 10 pentungan tanda seru di belakangnya. Memang tak jauh beda dari yg sebelum2nya. Cuma ada perbaikan sedikit disana sini. Walaupun sudah kukerahkan segala macam ilmu dan pengalaman, mulai dari baca artikel dikoran, majalah, internet, minta asupan nasihat sana sini, dengan sedikit menekan rasa malu, bahkan aku juga belajar dari cerita2 yg ada di drama. Tapi tetap saja konsep strategi ini masih compang camping kurasa.

Pagi ini, semangatku menyala2, tubuhku panas, menggelinjang tak bisa tenang. Kertas konsep itu, SOP untuk Para Pejuang masih tergenggam rapat ditanganku. Resah bukan main. Persis seperti menunggu pembagian raport kenaikan kelas. Lamat2 kulatih hapalan yang kukonsep semalam suntuk. Sekali2 kucuri lihat salinan mantra sakti SOP. Mataku mengerjit mengingat2 bila ada bagian yg terlewati, karena hari ini harus sempurna. Apapun itu, pilihan kata, mimik wajah, intonasi suara, bahasa tubuh sampai helaan nafas jangan sampai ada yg meleset dari yg telah direncanakan. Aku anggukkan kepala mencoba meyakinkan diri. memberi semangat diantara keraguan yang hilang timbul.

"Hai, selamat pagi. Kebetulan saya bawa makanan nih, kamu mau?" Sebuah suara mengagetkanku. Lelaki itu. SOP sang pejuang lepas dari genggamanku. Aku kalut. Udara tiba2 beku menyesakkan. Tak ada oksigen, terlalu berat dan padat. Napasku memburu berhembus cepat2. Detak jantungku kacau balau. Tubuhku seolah menciut hingga seujung kuku, tinggal dilentingkan atau terinjak, tamatlah aku. Aku seperti orang tasapo atau terkena si jundai. Resah. Konsep yang kukarang semalam suntuk rontok satu persatu.

"Kamu kenapa?' Tanya lelaki itu lagi.
"Engga". Sebuah suara pendek datar, kaku, seperti baru saja keluar dari alam kubur, mengerikan, terngiang2 di telingaku. Oh tidak, suara itu adalah milikku, keluar begitu saja. Intonasinya jauh dari yg direncanakan. Persis seperti sebuah suara penolakan seorang istri yang diminta balik oleh mantan suaminya setelah ditalak 3 kali dan diselingkuhi berulang2. semua menjadi tidak karuan. Tubuhku menegang, tulang2ku seolahbermetamorfosis menjadi besi2 tua rongsok. gerakku kaku. Berderik2. Wajahku nanar. Hawa panas mengitar senang diatas ubun2ku. Aku siap meledak.

"Beneran ga mau?" Suara lelaki itu lagi. terdengar mulai tida antusias. Mungkin ia menyesal luar biasa telah menawariku sebelumnya. ia menatapku serius.
"Emmm, engga. Makasih." Tolak suaraku lagi. Kali ini lebih santun tapi tetap terdengar aneh. Persis seperti suara si inem pelayan seksi yang menolak ajakan mesum majikan prianya. Lelaki itu beranjak cepat tak berani kulihat. Mungkin saja ia setengah berlari meninggalkanku. Menyelamatkan diri tepatnya. Tempatku ini terlalu horor baginya.

Kini tinggalaah aku sendiri. Lunglai. sedih bukan kepalang. Kemana konsep2 gila itu. Aku meradang. Perih sungguh. Lamat2 kembali kulafazkan hapalanku. Hai, apa kabar? Weekend kemana aja? Wah, kangen nih sama kamu. Udah sarapan belum? aku bawa roti nih khusus buat kamu. Enak kan? Suaraku terdengar normal, ringan dan renyah. Tidak seperti suara istri yang ditalak 3 kali atau suara memelas inem si pelayan seksi.

Untuk kamu yang tak pernah tahu. Malam ini kembali ku berpikir keras. Pinsil 2B tumpul menyelip betah di kupingku. Tak lupa lilitan dasi pramuka terikat kuat di keningku. Aku frustasi.

Siapa bilang jatuh cinta berjuta rasanya. Bagiku, cenat cenut.



Jakarta 24022011

Mas Dafi dotkom


.

"Mas Dafi ... mas Dafi, ada? Apa masih belum masuk?" Wanita itu celingak celinguk. Ia bertanya, suaranya nyaring, cara bicaranya cepat-cepat seperti orang buru-buru ingin buang hajat. Tak ada jawaban, padahal tak mungkin tidak seorang pun yang tak mendengar. Kami pura-pura tuli. Kompak untuk satu ini. Yayi menyikutkan lengannya. Aku memandingi ia yang mulai bertingkah. "Mas Dafi ... Mas Dafiiiiii." Godanya setengah berbisik. Aku menahan geli. Geli untuk dua kata ini, Mas Dafi.

satu minggu yang lalu. "Mas Dafi, bisa kan ngerjainnnya? Bisalah, pasti Mas Dafi mengerti, orang Mas Dafi kerjanya juga di Bank. Studi2 macam ini sudah makanan sehari2 bukan?" Seru wanita itu, masih tetap dengan nada cepat2 dan penuh percaya diri. Yayi menyenggolkan lengannya. Ia memperlihatkan kesepuluh jarinya. Sembari tertawa geli. Aku paham betul, angka 10 itu pastilah hitungan dua kata "Mas Dafi" yang sudah berkali2 keluar dari bibir wanita setengah baya di depan kami ini.

Mas Dafi, siapa yang tidak mengenalnya. Paling tidak untuk kelas ini saja. Yang penting terkenal, ceritanya. Di zaman yang katanya edan ini, popularitas sedikit menolong bagi siapa saja. Katanya, mau jadi bupati atau walikota saja harus gandeng artis buat jadi wakilnya. Setidaknya bisa membantu, karena artis banyak dikenal. Hitungannya biaya bisa sedikit lebih ditekan. Cerdik kan. Artis apa saja, yang penting populer. Nah, begitu pula dengan Mas Dafi. Disebut berkali2 diruang kelas ini cukuplah membuat kami terhipnotis.

Voluntir menjawab soal, Mas Dafi. Mahasiswa dengan nilai tertinggi, Mas Dafi. Ketua kelas, Mas Dafi. Potokopi, Mas Dafi. Hapus papan tulis, Mas Dafi. Menenteng laptop, Mas Dafi. Penerangan di kelas bermasalah, Mas Dafi. Ac tewas, Mas Dafi. Ada yang pilek, sesak napas, muntah2, mual, tetap nama Mas Dafi yang disebut. Entah apa korelasinya. Hingga lantai kotor, bangku peyot, gedung amblas, Mas Dafi ada disitu. Mungkin itulah akibat asupan kata yang berlebihan hingga siswa tidak bisa membedakan Mas dafi sebagai mahasiswa atau kacung. Kasihan.

"Kita itu ngeblur kali yah. Ga nyata. Kok yang dipanggil Mas Dafi terus. Payah." yayi bersungut2. Aku ikut. Mas Dafi bukan segala2nya toh?! Peristiwa2 besar seperti gempa, tsunami, tornado, tak ada kaitannya dengan namanya mAs Dafi. Cukup saja di ruangan kelas ini. Karena prestasinya dan bentuk fisik yang diatas rata2, ia menjadi terkenal.

"Nanti kesimpulannya Mas Dafi yang buat ...."
"Ini periodenya harus dikali dengan rasio yang ada, begitu yah mas Dafi yah."

Kondisinya ruangan kelas penuh oleh puluhan mahasiswa. Tapi cuma Mas Dafi yang tidak absen dimata dosen kami itu.

"MAs .... Mas .... MAs Dafiiiiiii. Jangan pergiiiiiiiii, Mas Dafiiiiiii ........ Mas dafi, jangan tinggalin yayi sendiri ...... Mas Dafiiiiiiiiiiiiii." Yayi bergumam, bibirnya mencong kanan kiri. Kelopak matanya masih menutup rapat, dengan bola mata yang liar bergerak. Tangan terangkat seperti deklamator berorasi. Sungguh hebat, Mas Dafi terbawa hingga ke dalam mimpi.

Kupandangi Yayi lekat. Komat-kamit kuberkonsntrasi penuh. Memanjatkan doa sekhusuk2nya. Aku menyapu wajahku yang sudah merona merah lada. Malu bukan main. Kuinsut tubuhku diam2 membelah kerumunan penumpang. Aku kabur, meninggalkan Yayi yang terbengong2. Sebait doa kupersembahkan untuk Yayi yang malang.

"Tuhanku, tolong lindungi yayi. Cukupkanlah Mas Dafi hanya tenar di kelas kami, jangan juga dikereta ekonomi ini. Amiiiin"


Juanda, 21 Des 2010