Lelaki Kertas


.

Sumber Gambar : Google

Tubuhnya tipis dengan tinggi yang menjulang hingga mendekati tiga rentang tangan orang dewasa. Bila berjalan ia sempoyongan, meliuk-liuk seperti sehelai kertas yang dipermainkan angin. Pasrah menunggu sang bayu penat dan menghamburkan tubuh cekingnya terserak lemah. Angin tak sepenuhnya musuh baginya, karena angin jugalah yang membantunya mendorong sendi tubuh lusuhnya bergerak. Menggoda aliran darahnya untuk terus berkonvoi, menyentak saraf dan menyadarkan otak kalau tubuh kertas itu masih bernyawa. Angin dan ia adalah sebentuk simbiosis mutualisma, kerjasama dua makhluk alam yang membutuhkan dan dibutuhkan. Saat angin berbisik, lelaki kertas itulah pendengar setianya. Menaikkan daun telinga caplangnya, serius mendengarkan tanpa interupsi. Itulah keistimewaannya dibanding manusia lainnya, tak banyak cincong. Ia penyimpan rahasia yang baik, tahu cerita mana yang harus dikabarkan dan mana yang harus disimpannya sendiri.

Beralih ke wajah lelaki kertas itu. Satu kata cukup mewakilkan roman pemilik tubuh tipis kering itu. Kacau. Tidak ada keseimbangan disana. Timpang, centang perenang. Bola matanya besar laksana gajah jumbo yang dipaksa masuk dalam kerangkeng monyet. Membiarkan bokong besarnya menyembul keluar. Biji mata itu tertanam dalam lubang yang sempit dan pengap. Seakan ingin meloncat keluar meninggalkan sarangnya. Bulu kudukmu akan berdiri bila lama-lama menatap mata itu. Hidungnya bulat besar. Sangat memakan tempat di area wajah lonjongnya. Menggusur anggota wajah yang lain untuk menepi. Bibirnya seperti kerucut. Kecil, tipis. Ketika berbicara seperti mulut ikan yang megap-megap di permukaan tabek mencari udara yang tidak sepekat dibawahnya. Didalamnya teronggok deretan gigi yang tidak rata. Laksana barisan rumah yang porak poranda akibat hempasan angin puting beliung. Menyisakan puing-puing atau bangunan miring tak beratap. Bicaranya tidak begitu jelas. Kalau kau malas bertanya untuk yang kedua kalinya, berarti kau harus mengira-ngira dan menebak apa yang sedang dibicarakan oleh lelaki kertas itu. Kusarankan untuk menjaga pendengaran dan penglihatan agar tak keliru.

Kepalanya sulah dengan rambut tipis bewarna merah kecoklatan. Tandus, helaian rambut tumbuh ala kadarnya. Membentuk lingkaran tepat diubun-ubunnya seperti bekas pendaratan pesawat UFO di ladang gandum. Kulitnya kering terbalut warna coklat tua pekat. Jari-jari tangannya suka bergetar sendiri, tak mau diam, tak terkendali. Gemetar. Seolah punya dunia sendiri yang terpisah dari induk semangnya. Maka tak jarang lelaki itu sering menjatuhkan benda-benda yang sedang berada dalam genggamannya.

Maik, begitulah orang kampung sering memanggilnya. Aku tak tahu pasti nama panjang lelaki kertas itu. Aku mengenalnya telah berada di kampung aur ini dengan nama yang tak ubahnya seperti sebuah gelar. Sindiran nyata tentang roman dan perawakannya yang tak jauh beda dengan mayit atau mayat. Ia sering meracau tak jelas, tapi tak mengganggu. Dengarlah sekali-kali racauan itu. Ada sejuta makna disana. Tak asal. Bukan sekadar gurauan. Ada peringatan, nasihat, petuah, sindiran halus bahkan kekocakan yang membuat kau tersenyum.

Maik tak pernah protes dengan hidupnya. Sepi interupsi. Bahkan ia terlihat senang dengan kondisinya. Tak menyalahkan Tuhan. Apapun itu sempurna dimatanya. Tak ada hitam apalagi abu2. Semua bersih, suci, putih. Maik yang tak sempurna di mata awam kami, adalah manusia terpilih. Pilihan Zat yang maha tinggi. Pemilik jagat semesta. Mungkin karena itu pulalah ia diberi keistimewaan. Ia tak pernah alpa. Tak pernah lupa diri, tak pernah lupa kami, tak pernah lupa sembahyang, tak pernah lupa untuk saling mengingatkan. Ia laksana dengungan alarm penyentak.

Maik lelaki kertas itu. Si yatim yang dicintai orang kampung justru karena kekurangannya ... Helaian kertas berterbangan terserak di angkasa. Udara dingin menusuk2, angin bertiup tenang. Di ranah ini, di tanah jirek tanah wakaf lokalisasi peristirahatan abadi lelaki kertas itu kini berbaring. Lelaki kertas itu telah menulis sendiri amal2 baiknya di helaian kertasnya. Ia telah siap melapor kepada pemilik hidup. Maik, Ahmad ... Lahir Jumat 12 Januari, Wafat Jumat 12 Januari ...



Juanda, 27012011


Serial Korea Terbaik


.

Serial Korea. Ah, rasanya sudah lamaaaaa sekali saya ga nyinggung2 bahasan ini di blog saya. Jadi kangen. Status saya yang sedikit bergeser menjadi "Mendadak Mahasiswa kembali" bikin waktu seolah makin sempit aja. Emmmm, bukannya habis digunain buat belajar loh, tapi habis buat nonton. Apalagi demam bola akhir tahun ini. Wahhhh, sedikit banyak menyita energi, karena bikin deg2an dan full kejutan. Walaupun akhirnya kalah. Ya sudahlah, Still I Love Timnas, much much much. Jadi pengen bahas bola juga, tapi lain kali deh.
Sekian lama dalam pengembaraan. Emm, akhirnya saya membuat keputusan diakhir tahun ini. Taraaaaaaaaaaaaaa .... penghargaan. Emmmm, satu kata yg manjur buat mengapresiasi hobi saya nonton serial korea. Sekaligus, award ini adalah harapan besar saya, agar perang antar korea segera berakhir. Hopefully. Kasihan, aktor dan aktrisnya. Ngungsi kemana mereka? Lee Min Ho, come to mama .... huhuhu

Berikut adalah judul serial2 korea terbaik versi saya. Maaf2 seblumnya, ini bukan dikhususkan hanya untuk serial korea yang lahir tahun 2010 saja. Tapi versi ngacak. Kriteria penilaian: tiap episode selalu bikin penasaran, lucu, mampu memaksa penontonnya (saya) buat begadang-tidur jam 1,2,3 pagi hanya buat nonton serial ini. Kalo pun dah kelar episodenya, masih tetap disetel berulang kali. Pemainnya lucu2, cantik2, ganteng2. Jalan cerita walau ngawur tapi tetap menghibur. Ga vulgar, dalam arti adegan2nya cukup sopan. Dan berikut adalah serial2 terbaik ituh :

1. Personal Taste.

2. My Girl Friend is Gumiho.


3. Who Still Marry Me.


4. He Is Beautiful

5. Playfull kiss 1



6. Thank You
Nah, sodara2 itulah beberapa serial korea terbaik menurut saya, Maaf2 klo ada yang ga sepaham. Soalnya, hanya serial2 inilah yang baru bisa saya tonton tahun ini. Hehhehehe.
Selamat yah buat para pemenang.


Juanda, 31 Desember 2010

Mas Dafi dotkom


.

"Mas Dafi ... mas Dafi, ada? Apa masih belum masuk?" Wanita itu celingak celinguk. Ia bertanya, suaranya nyaring, cara bicaranya cepat-cepat seperti orang buru-buru ingin buang hajat. Tak ada jawaban, padahal tak mungkin tidak seorang pun yang tak mendengar. Kami pura-pura tuli. Kompak untuk satu ini. Yayi menyikutkan lengannya. Aku memandingi ia yang mulai bertingkah. "Mas Dafi ... Mas Dafiiiiii." Godanya setengah berbisik. Aku menahan geli. Geli untuk dua kata ini, Mas Dafi.

satu minggu yang lalu. "Mas Dafi, bisa kan ngerjainnnya? Bisalah, pasti Mas Dafi mengerti, orang Mas Dafi kerjanya juga di Bank. Studi2 macam ini sudah makanan sehari2 bukan?" Seru wanita itu, masih tetap dengan nada cepat2 dan penuh percaya diri. Yayi menyenggolkan lengannya. Ia memperlihatkan kesepuluh jarinya. Sembari tertawa geli. Aku paham betul, angka 10 itu pastilah hitungan dua kata "Mas Dafi" yang sudah berkali2 keluar dari bibir wanita setengah baya di depan kami ini.

Mas Dafi, siapa yang tidak mengenalnya. Paling tidak untuk kelas ini saja. Yang penting terkenal, ceritanya. Di zaman yang katanya edan ini, popularitas sedikit menolong bagi siapa saja. Katanya, mau jadi bupati atau walikota saja harus gandeng artis buat jadi wakilnya. Setidaknya bisa membantu, karena artis banyak dikenal. Hitungannya biaya bisa sedikit lebih ditekan. Cerdik kan. Artis apa saja, yang penting populer. Nah, begitu pula dengan Mas Dafi. Disebut berkali2 diruang kelas ini cukuplah membuat kami terhipnotis.

Voluntir menjawab soal, Mas Dafi. Mahasiswa dengan nilai tertinggi, Mas Dafi. Ketua kelas, Mas Dafi. Potokopi, Mas Dafi. Hapus papan tulis, Mas Dafi. Menenteng laptop, Mas Dafi. Penerangan di kelas bermasalah, Mas Dafi. Ac tewas, Mas Dafi. Ada yang pilek, sesak napas, muntah2, mual, tetap nama Mas Dafi yang disebut. Entah apa korelasinya. Hingga lantai kotor, bangku peyot, gedung amblas, Mas Dafi ada disitu. Mungkin itulah akibat asupan kata yang berlebihan hingga siswa tidak bisa membedakan Mas dafi sebagai mahasiswa atau kacung. Kasihan.

"Kita itu ngeblur kali yah. Ga nyata. Kok yang dipanggil Mas Dafi terus. Payah." yayi bersungut2. Aku ikut. Mas Dafi bukan segala2nya toh?! Peristiwa2 besar seperti gempa, tsunami, tornado, tak ada kaitannya dengan namanya mAs Dafi. Cukup saja di ruangan kelas ini. Karena prestasinya dan bentuk fisik yang diatas rata2, ia menjadi terkenal.

"Nanti kesimpulannya Mas Dafi yang buat ...."
"Ini periodenya harus dikali dengan rasio yang ada, begitu yah mas Dafi yah."

Kondisinya ruangan kelas penuh oleh puluhan mahasiswa. Tapi cuma Mas Dafi yang tidak absen dimata dosen kami itu.

"MAs .... Mas .... MAs Dafiiiiiii. Jangan pergiiiiiiiii, Mas Dafiiiiiii ........ Mas dafi, jangan tinggalin yayi sendiri ...... Mas Dafiiiiiiiiiiiiii." Yayi bergumam, bibirnya mencong kanan kiri. Kelopak matanya masih menutup rapat, dengan bola mata yang liar bergerak. Tangan terangkat seperti deklamator berorasi. Sungguh hebat, Mas Dafi terbawa hingga ke dalam mimpi.

Kupandangi Yayi lekat. Komat-kamit kuberkonsntrasi penuh. Memanjatkan doa sekhusuk2nya. Aku menyapu wajahku yang sudah merona merah lada. Malu bukan main. Kuinsut tubuhku diam2 membelah kerumunan penumpang. Aku kabur, meninggalkan Yayi yang terbengong2. Sebait doa kupersembahkan untuk Yayi yang malang.

"Tuhanku, tolong lindungi yayi. Cukupkanlah Mas Dafi hanya tenar di kelas kami, jangan juga dikereta ekonomi ini. Amiiiin"


Juanda, 21 Des 2010

Bola Pingpong dari Banjar


.

Pernah lihat penyu? Dari tv sih pernah tapi liat langsung belum. Tapi kalau makan telurnya? Udah dong. Hohoho, bangganya. Begini ceritanya, waktu pas lagi jalan ke Kalimantan Selatan alias banjarmasin. Seperti biasa, kita pasti hunting makanan khas daerah mana pun yg kita tuju sama oleh2 khas dari sana. Nah cuapek2 habis borong cincin, gelang dan kalung (wahhh serasa orang kaya) di martapura, kita langsung terbang kembali ke hotel yang letaknya di kota banjarmasin. Berhubung mobil yang kita sewa satu hari sayang nganggur, akhirnya kita lanjut aja tanpa balik ke hotel jalan2 di pinggiran sungai barito. Tak banyak yang bisa dilihat sih sebenarnya. Rumah2 penduduk yang berdiri dipinggir2 sungai, dengan aktivitas sehari-hari seperti mandi dan mencuci di pinggiran sungai


Nah walaupun ga terlalu puas karena ga bisa lihat pasar terapung yang terkenal disana itu, dikarenakan pasar terapung hanya ada subuh-subuh dan kami besoknya harus langsung berangkat dengan pesawat pagi. Jadinya kita memilih untuk mengisi perut saja. Berdasarkan rekomendasi dari driver yang memang asli sana, kami mendapatkan tempat makan yang lumayan nyaman. Penyajiannya sedikit persis dengan rumah makan padang, segala lauk dihidangkan. Tinggal kita saja mau pilih yang mana. Ada Ikan, pindang, saluang (ikan kecil khas banjarmasin), daaaan telur penyu.

Telur penyu yang sudah direbus persis seperti bola pingpong yang penyet sana sini. Cangkangnya putih bersih, sedikit lunak dan harus dikupas kalau ingin membuka isi dalamnya.

"Ayo dis, kapan lagi. Cobain" Seru salah seorang teman, agar aku mau mencoba sebutir saja telur penyu yang manis2 dihidangkan dihadapan kami.

Dengan sedikit komat kamit baca doa dan menarik napas panjang, akhirnya satu sendokan kecil isi telor masuk juga ke mulutku. Baunya, kayak bau telor, ya iyalah. Sedikit bau obat2 gitu, dan sedikit ada rasa pasir2 gitu. Untuk diketahui hanya bagian kuning dari telur penyu saja yang padat sedangkan putih telurnya tidak padat masih cair seperti telur mentah.

Hap ... hap .... Aku cuma kuat dua sendok kecil dan itupun secuil2. Akhirnya nyerah juga. Tapi lumayan bisa ngerasain. Buat pengalaman. Makan telur ayam udah, itik bebek udah, penyu udah tinggal telur cicak ama telur dinosaurus aja kali yah .... Hohohoho .... engga deeeeeeeh.

Negeri 5 Menara


.

Ditengah gempuran pekerjaan yang terkadang takut-takut membuat alzaimer ini, syukurlah masih ada waktu untuk membaca novel Negeri Lima Menara. sebenarnya kenal novel ini baru satu minggu ini. Itu pun tidak diniatkan, maksudnya? Awalnya membeli novel ini bukanlah tujuan utama. Karena sebelumnya sama sekali ga pernah dengar apalagi liat ini novel. Udah lama ga beli buku lagi, trus iseng2 buka web jualan buku online, baris paling atas tertera daftar buku2 baru. Daaaaan novel N5M tidak ada dalam urutannya!!! Lah?!

Justru novel terbaru milik Andrea Hirata berjudul Padang Bulan dan Cinta dalam Gelaslah yang menjadi incaran. Nah, cerita punya cerita. Kalo beli buku online ini harga buku yang udah didiskon ditambahin sama ongkos kirim. Daaaan, kalau mau ongkos kirimnya free harus beli buku dengan harga diatas seratus ribu rupiah. Karena harga buku yang mau aku beli dibawah 100 ribu makanya aku putar otak. Tiiiiiiiing, secercah cahaya datang ... hehhehe. Angkat telpon dan mulailah nanya sana sini siapa diantara anak-anak yang mungkin pengen/ngebet/kebelet beli buku.

Sayang hasilnya nihil, pada bokek. Tapi tunggu dulu, dari mangsa terakhir yang aku telp, sebut saja namanya bunga. Baru terungkaplah siapa/apa makhluk yang bernama N5M ini.
"Boleh, aku mau beli Negeri 5 Menara. Aku nitip yah." Seru suara di seberang sana yang terdengar merdu, setidaknya untuk kali ini saja.
"Emang bagus yah bukunya?" Tanyaku sekadar basa basi basi.
"Kamu ga tau yah, itu kan buku yang suka dibaca sama si bos." Referensi yang tak cukup meyakinkan. seringkali selera bos dan anak buah jaauuuuuuuuh berbeda.
"Cerita tentang anak pesantren gitu." jawaban dari seberang. Wah standar pikirku lagi. Mulai tak antusias.

Tapi sayang seribu kali sayang. Toko buku onlinenya ga jualan makhluk yang bernama N5M ini. Akhirnya adalah aku sendiri. Dengan uang sendiri, belanja sendiri ditambah membayar ongkos kirim sendiri pula. Membeli Padang bulan andrea hirata.

Pas pulang kerja, ceritanya singgah dulu ke Gunung Agung. Eeeeeh, ga dinyana ternyata didepan mata terpampang indah tuh makhluk. Negeri 5 Menara. Ragu-ragu, maju mundur maju mundur. Ngintip2. Bolak balik novel ini muka belakang. Wuiiiih banyak testimoninya. Nama-nama yang memang bukan sembarang. sepertinya okeh tuh. Akhirnya tanpa tedeng aling2 kusambarlah ia.

Singkat cerita, Padang Bulan telat dikirim sampai 1 minggu lebih. aku yang kutuan buku akhirnya mulai mencoba mengkhatamkan N5M. Hasilnya dalam jangka waktu 3 hari 2 malam, makhluk ini tertelanjangi juga. Ups, kebaca tuntas.

Hasilnya, Baguuuuuuuuuuuuuuuus luar biasa. Kalau meminjam kata motivator Mario Teguh, super. Tidak biasa, dan pantas untuk dibaca. Penuh inspirasi dan motivasi.

Naaaah untuk review novel ini akan coba aku bahas next time yah. Soalnya sudah harus kerja lagi nih. Oke ^ ^

Jakarta, 2 juli 10

Aku Hari Ini


.

Di kala suara kantor seperti segerombolan lebah lewat mendesau hiruk cerita sana sini tentang rumor yang berkembang, aku pun ada diantara mereka. "Bagaimana dengan anak cicit kita. Belanda sudah pergi kawan, sekarang Jepang yang datang. Perjuangan blomlah usai." Seru seorang kawan. Cukup memelas tapi cukup menggelitik kegelian. Kami tertawa, mentertawakan nasib buruk yang telah, sedang dan akan kami terima.

"Sebenarnya karma apa sih yang telah kita lalukan dikehidupan yang lalu, hingga nasib buruk tak mau anjak?" seru kawan lainnnya. Pertanyaan yg memang tak membutuhkan secuilpun jawaban. Kami laksana budak-budak hitam legam di perkampungan budak milik Baron Araruna yang berharap sebuah surat kebebasan atau bila tidak kelengahan dari pemiliknya untuk bisa kabur.

"Ini mah podo wae, sama saja." seru yang lain, dengan ekpresi yang kurang lebih sama.

aku terdiam. Rumor itu, akan sama saja rasanya. Tapi ada peri yang terselubung di hatiku. Tak tahu apa. Sulit mencari onaknya. Perih, bukan karena lantaran berita park Yong Ha yang tiba-tiba harus mengakhiri hidupnya dengan seutas tali charger. Atau ramalan gempa dahsyat yang akan menghantam kampungku medio juli ini. semua berkecamuk. Kuliah, Yogya, pekerjaan yang menumpuk, amak, nasib cita-citaku. Semua lebur jadi satu. Rumor itu akankah menyita sebagian impianku? Pertanyaan2 besar menggelayut, berayun2 senang di benakku.

Berusaha keras aku mencari kalimat2 motivasi untuk sekadar menjaga status hidup normal.
Hidup adalah perjuangan ..... man jadda wa jada ...... ujian seberat apapun selama tidak membuatmu mati itu adalah penguat bagi dirimu ... Mario teguh, I gede prama, ust yusuf mansur, aa gym, sampai kuliah subuh mamah dedeh kudengar dan kupahami lamat2.

Inilah aku dalam kegusaran ku sendiri.


Jakarta, 1 Juli 2010

Nyaris Diculik Alien


.

Namanya Slamet. Temen dari temennya temen gue yang berakhir menjadi temen gue, ribet. Simplenya sekarang dan selamanya dengan rasa terpaksa Slamet adalah temen gue. Bagi gue, Slamet adalah manusia imaginatif yang boros. Ngayalnya lebay. Dan gue selalu menjadi sparing partner buat bogem mentah hayalan tingkat tinggi Slamet. Cerita-cerita Slamet inilah yang tidak terdeteksi sama dokter sebagai penyebab terbesar yang membuat tekanan darah gue naik, bikin gue pusing-pusing, mual, beseran, sampe jerawatan. Dari Slamet gue belajar satu hal, nama tak selalu menggambarkan kepribadian seseorang. Slamet bukannya membuat hidup gue selamat dan tenang, tapi dialah faktor utama yang bikin manusia yang dekat dengannya berumur pendek.

Sumber Gambar : Google


Sore itu bersama Slamet (bagian pertama)

”Loe pernah mikir ga Dis? Tutur Slamet tanpa rasa berdosa.

Sebelum gue mengeluarkan kata-kata sakti mandraguna buat mendamprat manusia satu ini Slamet melanjutkan omongannya.

”Loe balik kantor jam berapa sih? Maghriban ya? Naik bis ya?” Ya elah, ga nyambung banget sih nih anak. Tadi nanya apaan sekarang nanya yg lain lagi.

”Hati2 klo naik bis ....” Gue mulai nangkap sinyal kalo Slamet bakal kumat.

”Loe pernah mikir ga?” Gubrak, balik lagi. Sabar .. sabar, orang sabar mukanya lebar.

”Naik bis malam2, penuh gitu. ” Tampang horor Slamet semakin mengerikan bahkan kuntilanak, pocong dan tuyul aja lewaaat. Misiiii oooooommm.

”Para penumpang yang berjejelan itu, apa loe yakin semua dari mereka itu ...”


Stop. Kalian para pembaca harap sabar, cerita ini hanya diperuntukkan untuk usia 17 tahun keatas. Kalau yang belum 17, boleh aja asal dengan bimbingan orang tua, klo ga ada orang tua panggilin tetangga dulu deh. Asal ada wali. Buruan ditungguin, penghulunya dah ga sabaran nih .... *ngaco made on.

”Apa loe yakin orang-orang dalam bis itu manusia semua?!” selamat, Slamet kambuh sodara-sodara ....

”Coba loe teliti dan telaah, kemudian loe resapi dalam hati.” Bahasa Slamet mulai roaming.

“Paling engga, loe liat orang yang duduk disamping loe. Pastiin mukanya rata apa engga.” Tips pertama ala slamet.

”Klo dianya nengok ke jendela mulu, alias ga liat gue gimana dong?” Tips menghadapi orang saraf, loe harus pura2 saraf minimal loe ketawa sendiri buat ngeyakinin dia klo kalian satu komunitas yang solid.

”Usaha dong ... dan jangan lupa berdoa. Karena usaha tanpa doa sama aja loe itu sombong, dan sebaliknya klo doa tanpa usaha sama aja bo’ong.” Satu-satunya ucapan yang paling benar keluar dari mulut Slamet. Congrat, pertahankan nak!!!

”Klo mukanya ga rata, loe liat giginya betaring apa engga? Liat ada sisa darah ga di bibirnya? Klo giginya cuma kuning dan bolong2 doang, nah itu bisa jadi ladang amal buat loe *Aa Gim made on. Sekalian loe anjurin buat ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali dan mengganti sikat giginya setiap 3 bulan sekali. Habis tuh suruh ikut lomba senyum pepsodent deh .... ” Gue mengangguk angguk, mulai ga sadar kalo agen Slamet telah mencuci otak gue, tanpa dibilas dan langsung dijemur.


”Loe coba liat deh, orang2 yang berdiri berjejelan di bis itu. Wajah2 mereka. Apa loe yakin 100% mereka manusia semua. Kalau bukan setan atau dedemit, bisa jadi salah satu dari mereka ..... ”

Stop. sebelum berlanjut. Gue cuma mau ngingetin, efek samping seperti gatal2, bibir pecah2, sariawan, bisulan, kutuan dan sesak napas karena membaca cerita ini diluar tanggungan penulis. Okeh!!

”Bisa jadi salah satu dari penumpang itu bukan makhluk dari bumi ini ... ”

”Maksud loe alien, Met?” Jeng jeeeeeeng.

”Ya iyalah ... coba loe teliti dan telaah kemudian di... “Slamet berhenti sejenak, ia tahu gue gerah dengan bahasa roaming yg sukses diconteknya dari kata pengantar buku Mengenal Huruf untuk murid taman kanak2.

”Mereka bisa dimana saja, tak terbatas ruang dan waktu.” Bahasa Slamet mulai kacau balau.


”Salah satu dari mereka bisa jadi alien. Agen2 luar angkasa yang punya misi menguasai bumi ini. Loe harus waspada bahkan dengan orang disamping loe sendiri.”

”Elo dong Met.” Mata gue bergidik tajam menatap Slamet. Sebuah sinar melesat. Tubuhnya terpental berguling2 dan akhirnya terkapar terkena ajian gue. susah payah tubuh ceking Slamet berdiri. Ia duduk bersila dengan kedua tangan bersedekap. Mulutnya komat kamit. Dan duaar cahaya silau. Selamat, gue lulus jadi murid tersableng suhu Slamet Gendeng. Yup, intermezo, mari kita kembali ke jalan yang benar, ups kembali ke jalan cerita.


”Loe kan pernah dengar dan liat berita tentang penampakan UFO, Dis. Nah berarti alien itu ada. Bisa jadi alien itu menyamar dalam wujud supir, kenek, ataupun penumpang. Masak jauh2 ke bumi mereka ga pernah nyobain naik bis sih. Rugi dong. Ke Monas udah, taman mini udah, ancol apalagi, tapi ga pernah naik busway, metro mini atau bajaj. Belom ke Jakarta namanya. Ya ga?!!

”Iya sih ...” Gue dah saraf 100%


Pulang kerja. Karena keburu azan maghrib, akhirnya gue milih shalat dulu di masjid kantor. Habis shalat seperti biasa gue nungguin bis ke arah Senen. Lampu jalanan sudah menyala semua, pertanda malam mulai menjelang ... jiaaah bahasa gue.


Alhamdulillah walaupun bis ini berjubel penuh oleh para penumpang, tapi satu tempat duduk masih tersisa buat gue. Entahlah, mungkin ini namanya rezeki orang baik. Hohoho .... Disamping gue duduk seorang cewek. Lima menit perjalanan. Hening. Sampai sebuah colekan mengagetkan gue. Ternyata cewek di sebelah gue.


”Mba, senen masih jauh ya?” Tanya cewe itu. “Masih ... turun di Senen ya? Saya juga, nanti bareng saya aja.” jawab gue basa basi. Hiks. Cewek di sebelah gue itu mengangguk.

“Maklum saya baru di Jakarta. Belum hapal.” Seru cewek itu tanpa ditanya. “Memang sebelumnya dimana?” Tanya gue lagi.

“Tinggal di luar mba, lima hari yang lalu baru mendarat di Jakarta.” jawabnya. Ooooooh luar negeri, pikir gue sok tahu.

“Udah kemana aja selama di Jakarta?” Basa basi gue basi.

”Monas, taman mini sama Ancol.” Jawabnya sembari tersenyum.

”Kalo naik busway dimana yah, mba?” lanjut tuh cewe lagi.

“Emangnya mau kemana?”

“Ah engga, Cuma pengen mau ngerasain naik bus way ajah. soalnya ada yang bilang kalo ga pernah naik busway, berarti belom ke jakarta.” Dejavu, gue ngerasa pernah denger deh kata2 itu sebelumnya.


“Namanya siapa?” Tanya gue lagi

“Emmmm Alen mba ... “ seru cewek itu. Gue bergidik. Tiba2 suasana terasa mencekam. Muka horor Slamet berkelebat seketika di depan gue. Namanya Alen. Alen ... Alen ... emmmh. Kalo menurut kamus bahasa lebay. Aku jadi akiu, kamu jadi kamiu. Alen ... Alen ... jadiiii, Alien. Betis, beda tipis. Cuma beda satu huruf, berarti taraaaaaaaaaa, ups salah backsound, jeeeeeeeeeeeeng ...


Suhu Slamet bilang, harus diteliti dan telaah kemudian diresapi dalam hati.

Pertama, Alen berasal dari luar, luar angkasa maksudnya?!!! Baru mendarat? Mendarat dengan pesawat UFO?!!! Udah ke Monas, Ancol dan taman mini, persis seperti kata Slamet. Klo ga naik busway belom ke jakarta namanya, Slameeeeeet. Aiiiih, gue spontan berdiri. Menerobos para penumpang menuju pintu keluar. Gue harus turun. Suara Slamet mengaung2 di telinga gue.

“Loe yakin isi bis itu manusia semua?”


“Mbaaaa ... mba ....tung .... tungguuuuuu ... woiiiiiiiiiii.” Suara lain terdengar. Gue melompat, berguling ke kiri dan ke kanan, tubuh gue melayang sebelum sempat meraih pintu keluar. Sebuah tangan menncengkram lengan gue. Gue terkepung.


“Mba, jangan main kabur gitu dong. kalo ga ada uang jangan naik bis. Jalan sana .... Ongkosnya mana?!!!” seru si kenek bete. Seluruh mata tertuju ke gue. Dari kejauhan tampak wajah Alen yang terkantuk-kantuk. Dasaaaar Slameeeeeeeeeet ......


Bumi, 30052010