Allah itu Maha Keren (1)


.

Kawan, Tuhanku MAha Keren … Allah namaNya.

Tahukah kau, Ia Maha ghaib, tak ada wujud tak ada rupa, tak ada gambaran fisik atau badaniah tentangNYa. Ia ghaib. Bukankah itu luar biasa. Apa jadinya bila Tuhan terlihat dalam fisik yang nyata. Disaksikan oleh ciptaanNya, rupa dan penampilanNya. Pikirkanlah, Ia akan menjadi tak berharga. Dicontoh, ditiru oleh makhlukNya sebatas fisik yang sempurna, ditakuti dipuji sebatas keberadaan yang diketahui, pun mungkin diagungkan dihina sebatas penglihatan mata. Akan ada penilaian, tentu saja semua berlandaskan materi, sebatas yang tampak oleh mata, bukan karena keyakinan.

 Ia ghaib. Bukan berarti sulit mengenalNya. Allah mengajarkan manusia tentangNya melalui sifat dan nama-nama agung yang melekat padaNya. Bukan dari fisik atau rupa. Bukankah ini salah satu bentuk pelajaran bagi kita kawan, bahwa Allah tak menilai manusia karena keelokan rupanya, tapi karena sifat atau akhlaknya. Mukhalafatul lilhawaditsi, ia berbeda dari makhluk, berbeda dari ciptaannya. Sifat Allah yang menjadi jawaban atas kebertele-telean pertanyaan manusia. Bukankah itu cukup? 

Ia ghaib, berada dimana saja, tak ada batas ruang dan waktu. Mengawasi kita setiap jam, setiap menit, setiap detik atau bahkan setiap hitungan masa yang lebih kecil dari detik sekalipun. KeberadaanNya, bisa beratus meter dari kita, atau bahkan sangat dekat melebihi urat leher manusia itu sendiri. Ia ghaib, tak berwujud tak tampak. Ahhh, jangan berkilah lagi kawan. Ia ghaib bukan karena Ia penakut ataupun sembunyi. Justru karena kasih sayangNya yang Maha luaslah sehingga Ia tak menampakan diri. Cukuplah rasanya kisah Nabi Musa bertemu Allah di atas Bukit Thursina yang menjadi pelajaran bagi kita. Ketika Allah menampakan diri, sang Nabi pingsan tak kuasa, bahkan sebuah bukitpun luluh meleleh rata tak bersisa. 

Sudahlah, jangan banyak tanya lagi, kawan.


Allah itu ghaib.  Tak terlihat rupa dan warnaNya, karena itulah kawan, sungguh Allah Maha Keren … 

Bukan Semalam di Malaysia, Tapi 2 Jam di Bukittinggi


.

Ini judul apa curhat ya, panjang amat …. Hehehe. Ya tapi begitulah kenyataannya. Ini bukan tentang Malaisya negara yang terkenal dengan menara kembarnya itu, bukan tentang lagu “semalam di Malaisya” apalagi tentang ipin upin kartun buatan Malaisya yang bisa tembus Disney channel. BUkaann. Ini adalah tentang Bukittinggi dan Aku, aiiiiih, romantisnya. Jadi begini ceritanya, kata ustad, kalau ngaku beriman sama Allah maka harus yakin dan percaya kalau jumlah rejeki yang kita dapat setiap bulan atau tahunnya tak pernah bisa diprediksi. Alias ga bisa dihitung secara tepat. Artinya ada yang namanya rejeki  yang Allah siapkan melalui cara atau jalan yang tak terduga atau tanpa disangka-sangka. JAdi ga cuman mengharapkan gaji bulanan tok, tapi yakin dan percaya pintu rejeki itu bisa darimana saja.

Nah, tanpa diduga dan dinyana justru rejeki itu menghampiri saya. Tepat tanggal 1-3 Juli kemaren sebuah titah pun turun dari langit, ahaiii, sebuah surat yang cukup bikin hati cenat cenut berantakan, bikin pegel linu di badan lenyap seketika, bahkan saking senangnya saya tidak lagi memikirkan terjemahan kata “galau” dalam bahasa sanskerta. Bagai punguk merindukan bulan, bagai burung lepas dari sangkar, akhirnya salah satu impian saya terwujud juga. Senangnyaaa. Allah Maha Baik, sebuah surat dinas mengharuskan saya terbang ke kota kelahiran, ranah bundo kanduang. Padang.

Karena tak punya waktu banyak, kesempatan untuk singgah ke BUkittingi tidak saya sia-siakan. Saya sengaja mengambil penerbangan paling pagi ke Padang, boarding jam 6.20 WIB. Huhuhu, butuh perjuangan yang luar biasa. Sebelum subuh sehabis sahur, saya sudah harus mandi dan packing. Tepat jam setengah 4 pagi saya langsung tancap gas menuju gambir, dengan diantar sepeda motor. Gambir, masih sepi, ya iyalahhh, masih pagiii. Damri menuju bandara sudah stand by, ada 5 sampai 6 bis yang parkir. Saya melirik jam, 4 kurang 15. Belum imsak apalagi subuh. Karenanya dengan soknya saya memperlambat tempo, artinya kecepatan berjalan saya tak lagi seganas waktu berangkat dari rumah. Saya malah sok-sok an pakai mampir beli makanan ke minimarket. Memperlambat tempo ceritanya, toh damrinya juga belum jalan, masih jam 4 masih keburu, pikir saya. Eh, ternyata lagi asyik belanja saya ditinggal damri.

Saya berlari melambai-lambai, sampai mengirim sinyal SOS kepada drivernya, tapi tetap tak digubris. Akhirnya saya pasrah naik bis berikutnya yang jalan setangah jam kemudian. Walau penuh harcem (harap cemas), akhirnya sampai juga dibandara jam 5.15an. Saya langsung check in dan memilih langsung ke ruang tunggu dan menuju ke mushala untuk shalat subuh. Tepat jam 6.20 pemberitahuan untuk masuk ke pesawatpun terdengar. Dengan nasionalisme yang tinggi dan merah putih didada, saya akhirnya masuk airline yang selalu mengingatkan saya pada lagu Garuda di Dadaku itu … hehehe.

Tepat jam 8.15 pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Internasional Minangkabau. Wuiiih senangnya. Berdasarkan instruksi dan arahan dari beberapa pakar perkampungan (baca: orang yang sering pulang kampung), saya bisa naik ojek atau pun taksi dari bandara menuju ke travel tujuan Bukittinggi. Dengan nasionalisme yg mulai tergerus oleh sukuisme akhirnya saya memilih naik ojeg dengan harga 10 ribu saja. Sebenarnya juga bisa naik taksi dengan harga 15 ribu ke travel. Mencari ojeg memang sedikit susah. Jadi pilihan tergantung pada keuangan anda-anda sekalian. Sesampai di travel saya beli tiket tujuan BUkittinggi seharga 40 ribu, sayangnya bis ke BUkittinggi baru berangkat jam 10. Adalah saya akhirnya menunggu, untungnya ada teman ngobrol, seorang ibu sekitaran 60 tahun lebih. Bis datang tepat waktu, atas anjuran ibu teman ngobrol saya itu, akhirnya saya setuju untuk duduk didepan berdua dengannya, disebelah supir. Tidak rugi, karena sepanjang perjalanan mata saya puas menikmati keindahan alam yang dilalui selama perjalanan. Bukit dengan lembah yang terbentang dikiri dan kanan jalan. Semua tampak hijau, menenangkan mata yang melihat. Amboiii, rancak bana. Bis juga melewati lembah anai, salah satu objek wisata berupa air terjun. Perjalanan memakan waktu hampir 2 jam setengah. Pada travel ini, penumpang bisa rekues untuk diantar sampai alamat. Namun sekali lagi, dengan congkaknya saya lebih memilih turun di pul-terminal akhir bis travel. Saya berjalan sekitar 20 meter menuju aur kuning, karena bingung mencari angkutan umum yang dulu biasa saya tumpangi waktu sekolah menuju rumah, akhirnya saya mutar-mutar tak tentu arah. Hampir setengah jam, akhirnya tanpa rasa berdosa angkot putih bulukan itu nyengir-nyengir kuda tepat ditempat yang pertama kali saya lalui. Halahhh ….

Jam 1 teng, akhirnya saya menginjakkan kaki di rumah kelahiran saya. Sedikit haru biru, melow, nangis-nangis bawang bombai, saya lihat setiap jengkal rumah yang pernah saya tinggali hampir 18 tahun itu. Banyak kenangan, pasti dong. Setelah lepas kangen dengan etek (adik ibu saya) akhirnya jam didinding berdentang dengan sadisnya. Tiga kali. Apa artinya? Artinya Cinderella harus segera pulang, melepas sepatu kaca, dan mengikuti instruksi sutradara untuk pura-pura rela dizolimi ibu tirinya. Hehehe … artinya saya harus segera kembali ke travel yang mengantarkan saya ke Padang. Haaaah, perjalanan yang cukup singkat, tapi lumayan menyenangkan, lumayan kembali mencairkan kenangan-kenangan yang sempat terlupakan, atau sengaja dilupakan.

Nah, untuk ke Padang, saya dikenakan biaya 35 ribu, diantar sampai ke alamat. Tepat jam 7 lebih dikit, diantara malam yang gelap dan pekat, disertai hujan lebat saya sampai juga di Hotel tempat saya menginap di Padang. Bertemu teman-teman yang telah dengan setia menahan lapar, menunggu kedatangan saya untuk makan malam bersama. Ahhhh senangnya.


Allah memang Maha baik, Maha keren … Moga next time rejeki yang ga diduga-duga itu datang lagi yah, Paling tidak jangan cuma 2 jam, tapi semalam di Bukittinggi. Amiiin. 

Barisan Sakit Hati


.

Hari ini hari baru kataku. Walaupun hampir setiap hari kuulang-ulang, meyakinkan. Sejak peristiwa itu. Sulit untuk mengikhlaskan. Menengok kembali hal-hal yang selama ini kuacuhkan. Perang telah usai kawan. Pekik merdeka telah lama redam. Musuh telah menyerah pulang ke kandang. Pengorbanan tanpa imbalan sudah tak jaman. Perjuangan, bambu runcing, tinggal sejarah yang dihapal berulang-ulang di sekolahan tanpa dipahami dan direnungkan. Yang penting saat ujian kau bisa mengisi jawaban nama pahlawan. Imam Bonjol namanya, itupun kau tahu dari uang gocengan untuk membeli sepuntung rokok. Disana ada gambar lelaki berjanggut dan bersorban. Itu dia.

Sudah lama. Deklarasi kemerdekaan sudah ditandatangan. Kertasnya pun sudah menguning bolong-bolong dan kini terbingkai rapi di gedung tua sana yang mereka bilang namanya mesium. Sudah terlalu banyak yang kutinggalkan. Di hari ini tak ada lagi yang namanya demi bangsa, semua sibuk demi mengurus perut. Kewajiban diabaikan, hak dituntut. Aku terlalu lena seperti mereka. Makanya Tuhan tak suka.

Aku seperti bangun dari tidur panjang. telah banyak yang berubah. Revolusi, reformasi. entah apalagi nanti. Sudahlah aku tak peduli. karena kini asa dipaksa sirna. Cinta sudah tak ada. Hanya duka. benci. Dan aku terlanjur sakit hati. Titik

Sumber gambar : Google

Juanda, 31052011

Cinta Cenat Cenut


.

Untuk kamu ....

Malam ini sama seperti malam2 sebelumnya, tak jelas sudah berapa lama, dua bulan ini tepatnya. Kembali kuselipkan sebuah pinsil 2B tumpul di telingaku. Dasi pramuka merah putih ponakanku yang baru dilantik jadi anggota pramuka siaga kamis petang kuikat kuat melingkar dikeningku. Ikatannya sedikit membantu mengurangi beban berat yang sekarang hinggap di kepalaku. Menyusun strategi terbaik, fokusku. Jangan sampai semua seperti yang sudah2. Aku berpikir keras. Berkali2, kutulis, kuhapus, kultulis, kuhapus, kutulis lagi, kuhapus lagi .... begitu seterusnya. Hampir satu jam lebih. Bulir2 keringat mulai membasahi wajahku, maklumlah, beberapa hari ini listrik di rumahku lagi naik turun tensinya, awalnya sedikit sensitif. Lama2 malah hidup dan mati sesukanya. Hingga penggunaan alat eletronik seperti kipas angin pun harus sedikit dikurangi dalam rangka peningkatan toleransi terhadap daya listrik yg pas2an. Mulai tahu diri, bahasa kerennnya.

Otakku mulai kendor, uapan berkali2 meluncur dari mulutku, mataku merah basah. Semangatku anjlok ke titik terbawah. Tatapanku mulai kabur, aku mulai menyerah. Hasilnya tidak bisa dibilang buruk. Coretan2 disana sini, sebuah konsep. Penuh dengan alur2 rumit yg hanya dimengerti olehku saja. SOP (Standar Operating Prosedur) untuk Para Pejuang, judulnya. Kutulis besar2. Tepat dibawahnya kutulis sebaris kalimat, Kali ini Harus Berhasil Tak Boleh Gagal Lagi, dengan 10 pentungan tanda seru di belakangnya. Memang tak jauh beda dari yg sebelum2nya. Cuma ada perbaikan sedikit disana sini. Walaupun sudah kukerahkan segala macam ilmu dan pengalaman, mulai dari baca artikel dikoran, majalah, internet, minta asupan nasihat sana sini, dengan sedikit menekan rasa malu, bahkan aku juga belajar dari cerita2 yg ada di drama. Tapi tetap saja konsep strategi ini masih compang camping kurasa.

Pagi ini, semangatku menyala2, tubuhku panas, menggelinjang tak bisa tenang. Kertas konsep itu, SOP untuk Para Pejuang masih tergenggam rapat ditanganku. Resah bukan main. Persis seperti menunggu pembagian raport kenaikan kelas. Lamat2 kulatih hapalan yang kukonsep semalam suntuk. Sekali2 kucuri lihat salinan mantra sakti SOP. Mataku mengerjit mengingat2 bila ada bagian yg terlewati, karena hari ini harus sempurna. Apapun itu, pilihan kata, mimik wajah, intonasi suara, bahasa tubuh sampai helaan nafas jangan sampai ada yg meleset dari yg telah direncanakan. Aku anggukkan kepala mencoba meyakinkan diri. memberi semangat diantara keraguan yang hilang timbul.

"Hai, selamat pagi. Kebetulan saya bawa makanan nih, kamu mau?" Sebuah suara mengagetkanku. Lelaki itu. SOP sang pejuang lepas dari genggamanku. Aku kalut. Udara tiba2 beku menyesakkan. Tak ada oksigen, terlalu berat dan padat. Napasku memburu berhembus cepat2. Detak jantungku kacau balau. Tubuhku seolah menciut hingga seujung kuku, tinggal dilentingkan atau terinjak, tamatlah aku. Aku seperti orang tasapo atau terkena si jundai. Resah. Konsep yang kukarang semalam suntuk rontok satu persatu.

"Kamu kenapa?' Tanya lelaki itu lagi.
"Engga". Sebuah suara pendek datar, kaku, seperti baru saja keluar dari alam kubur, mengerikan, terngiang2 di telingaku. Oh tidak, suara itu adalah milikku, keluar begitu saja. Intonasinya jauh dari yg direncanakan. Persis seperti sebuah suara penolakan seorang istri yang diminta balik oleh mantan suaminya setelah ditalak 3 kali dan diselingkuhi berulang2. semua menjadi tidak karuan. Tubuhku menegang, tulang2ku seolahbermetamorfosis menjadi besi2 tua rongsok. gerakku kaku. Berderik2. Wajahku nanar. Hawa panas mengitar senang diatas ubun2ku. Aku siap meledak.

"Beneran ga mau?" Suara lelaki itu lagi. terdengar mulai tida antusias. Mungkin ia menyesal luar biasa telah menawariku sebelumnya. ia menatapku serius.
"Emmm, engga. Makasih." Tolak suaraku lagi. Kali ini lebih santun tapi tetap terdengar aneh. Persis seperti suara si inem pelayan seksi yang menolak ajakan mesum majikan prianya. Lelaki itu beranjak cepat tak berani kulihat. Mungkin saja ia setengah berlari meninggalkanku. Menyelamatkan diri tepatnya. Tempatku ini terlalu horor baginya.

Kini tinggalaah aku sendiri. Lunglai. sedih bukan kepalang. Kemana konsep2 gila itu. Aku meradang. Perih sungguh. Lamat2 kembali kulafazkan hapalanku. Hai, apa kabar? Weekend kemana aja? Wah, kangen nih sama kamu. Udah sarapan belum? aku bawa roti nih khusus buat kamu. Enak kan? Suaraku terdengar normal, ringan dan renyah. Tidak seperti suara istri yang ditalak 3 kali atau suara memelas inem si pelayan seksi.

Untuk kamu yang tak pernah tahu. Malam ini kembali ku berpikir keras. Pinsil 2B tumpul menyelip betah di kupingku. Tak lupa lilitan dasi pramuka terikat kuat di keningku. Aku frustasi.

Siapa bilang jatuh cinta berjuta rasanya. Bagiku, cenat cenut.



Jakarta 24022011

Kasiah Tak Sampai


.

Kasiah tak sampai artinya kasih yang ga kesampaian kurang lebih itu deh artinya. Ini bukan cerita tentang Siti Nurbaya dan Samsul Bahri yang kisah kasihnya tidak sampai, apalagi drama korea endless love yang mengisahkan kasih dua saudara Ensu dan Jusu yang juga berakhir tragis. Bukan, bukan banget.
Sumber gambar : Google
Kasiah tak sampai adalah judul lagu Minang yang dipopulerkan oleh Elly Kasim (semoga tidak salah). Nah, saya yang secara de euro dan defakto adalah asli cetakan Minang, sudah akrab dengan lagu-lagu Minang. Dan salah satunya adalah Kasiah Tak sampai. Dan ini adalah salah satu lagu Minang favorit saya.


Berikut liriknya.
Kasiah Tak Sampai
Malang bacinto bintang jo bulan
Kasiah digungguang dek matoari
Bia bacarai nyao jo badan
Putuihlah tali jantuang jo hati
Cinto ka uda den baok mati
Ka dalam tanah maik bakubua
Datang malaikaik yo nan batanyo
Apo kadayo yo nan takana
Kasiah ka uda nan indak sampai
Yo nan takana, kasiah ndak sampai
Cinto den indak ado duonyo
Cinto den hanyo ka uda surang
Bia mangamuak topan jo badai
Cinto den indak ado duonyo
Bia di dunia kasiah ndak sampai
Yo di akhiraik den nanti juo
Uda den nanti dalam sarugo
Cinto den indak ado duonyo
(Ciptaan Syahrul Tarun Yusuf, Dipopulerkan oleh Elly Kasim)

Sumber video : www.youtube.com

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia


.

By. Taufik Ismail

I

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini

II

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

III

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama,

Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

IV

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

1998

HAMKA


.

Sumber : Wikipedia, the free encyclopedia

Haji Abdul Malik Karim Amrullah, known as Hamka (born in kampung Molek Sungai Batang Maninjau, West Sumatra February 17, 1908 - and died in Jakarta July 24, 1981) was a prominent Indonesian author, ulema and politician. His father, syekh Abdul Karim Amrullah, known as Haji Rasul, led and inspired the reform movement in Sumatra upon his arrival from the holy land Mecca in 1906.. In 1970's, Hamka was the leader of Majelis Ulama Indonesia, the biggest Muslim organizations in Indonesia besides Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah.

In the Dutch colonial era, Hamka was the chief editor of Indonesian magazines, such as Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, and Gema Islam.

He was given the title Buya, derived from the Arabic word Abi or Abuya meaning Father or someone respectable. Hamka was only getting a relatively low education in Maninjau Elementary School. He reached only until grade 2. But when he was about 10 years old, his father founded the Thawalib or religious teaching school in his hometown Padang Panjang. Hamka then learned and mastered Arabian language. He also took mentors from famous Muslim scholars such as Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto and Ki Bagus Hadikusumo.

At the beginning Hamka worked as a religion teacher in 1927 at a plantation in Tebing Tinggi, Medan and also in Padang Panjang around the year 1929. Hamka then worked as a teacher in University of Islam, Jakarta and University of Muhammadiyah, Padang Panjang from 1957 to 1958. After that, he became the rector in High Institute of Islam, Jakarta and given the title Professor from University of Mustopo, Jakarta. From 1951 to 1960, he was given in the position as a Religion High Officer by the Ministry of Religion, Indonesia, but he deliberately step off from the position when the former Indonesian first President Sukarno asked him to choose between taking up with the position of civil employee or becoming a political activist in Muslim organization Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

Hamka was an autodidact in many subjects such as philosophy, literature, history, sociology and politics, both from Islamic side and Western side. With his skillful ability in Arabic language, he mastered the works from those Middle Easterners high scholars such as Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti and Hussain Haikal.

Through his skill in Arabic Language also he examined the works of French, British and German scholars such as Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx and Pierre Loti. Hamka was a hungry reader and like to do discussions with famous figures in Jakarta such as HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur and Ki Bagus Hadikusumo, while sharpen his talent as a gifted and talented public speaker.

Islamic Activist

Hamka also active in the Islamic movement through Muhammadiyah Organization. He was following the belief of Muhammadiyah since 1925 to fight off ‘khurafat’, ‘bidaah’, ‘tarekat’ and other misinterpretation and mistreatments of the Islamic teachings for the Padang Panjang region. Starting the year 1928, he became the leader of Muhamadiyah Organization branch in Padang Panjang. In 1929, Hamka established a training center for preaching in Muhammadiyah and two years later he became Muhamadiyah Consul in Makassar. Following the year, Hamka was elected to be the leader of Leadership Committee of Muhammadiyah in West Sumatera by the Muhammadiyah Conference, replacing S.Y. Sutan Mangkuto in the year 1946. He had reorganized the development in the 31st Muhammadiyah Congress in Yogyakarta in the year 1950. In 1953, Hamka was chosen to be the counselor in Muhammadiyah Center. On July 26, 1977, the Indonesian Religion Minister Prof. Dr. Mukti Ali elected Hamka as the Leader of Majlis Ulama Indonesia (The Counsel of Muslim Scholars of Indonesia) but then Hamka resigned from this post in the year 1981 when his advices were ignored by the Indonesia government.

Politician

Hamka’s political activities started in 1925 when he became the party member in Islamic Trade Political Party. In 1945, he helped to fight-off the efforts from Netherlands to return to Indonesia through campaigns, speeches and participated in guerrillas’ war in the jungle. In 1947, Hamka was elected leader of Indonesian National Defence Force. He then became Masyumi Constituent and became the main speaker in The Grand Public Election in 1955. Masyumi Party was then banned by the Indonesian Government in 1960. There was a misunderstanding between Hamka and then Indonesian President Sukarno about whose side was Hamka in, in the controversy pro-contra Malaysia. From the year 1964 to 1966, Hamka was imprisoned with in-house prison by President Sukarno. Hamka was actually felt grateful for his time in jail. He was always saying, “If I wasn’t in prison, then I wouldn’t have had the time to finish writing the Al Azhar’s Tafsir (translation and teachings of the ‘Koran’). Hamka started to write and finish the Tafsir, which then would turn out to be his greatest scientific work. When he was out from jail Hamka was elected as a member of the National Committee of Integrity Conference, Indonesia, a member of The Indonesian Hajj Travel Committee and a member of National Culture Association, Indonesia.

Author

Other than his activities in the religious and political sectors, Hamka was also a journalist, a writer, and a publisher. Since the 1920s, Hamka was working as the journalist of several newspaper such as Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam and Seruan Muhammadiyah. In 1928, he was the editor-in-chief of the magazine ‘Kemajuan Masyarakat’. In 1932, he became the editor of the magazine ‘Al-Mahdi’ in Makasar. Hamka also once became the editor for the magazine Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat and Gema Islam.

Hamka also wrote a number of Islamic scientific works, novels and short stories. His biggest scientific works, ‘Tafsir al-Azhar (5 volumes) and many of his novels captured the public’s attention and became the standard text books all the way to Singapore and Malaysia. Among these works are the novel ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’, ‘Di Bawah Lindungan Ka’abah’ and ‘Merantau ke Deli’.

Hamka was awarded with several titles, both national and international scope such as the title ‘Doctor Honoris Causa, from University of Al-Azhar Cairo Egypt, 1958; Doctor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; and the title ‘Datuk Indono’ and dan ‘Prince Wiroguno’ from Indonesian government.

Hamka died on July 24, 1981, but his works and influence are still present until today, especially in the growth and modernization of Islam. Not just as a scholar and a writer in his country, but he was also highly appreciated in Malaysia and Singapore.