HAiii …. Apa kabar dunia? Apa kabar Indonesia? Wah… wah
hampir satu tahun lebih saya ga aktif di blog ini. Rentang waktu yang cukup
lama. Banyak hal yang sudah saya lewatkan. Emmm … ada yang penasaran ga kemana
saja putri cantik ini pergi? Hihihi … mungkinkah sang pangeran terlalu lama
ngeja peta sampai nyasar kemana-mana? Tak jua menemukan sang putri tidur yang
menunggunya dalam balutan mantra. Hahaiii …. Pas bangun-bangun sudah banyak
yang berubah. Ngomong2 presiden kita udah ganti yah?
Sumber gambar : www.google.com
Duh, banyak sudah yang saya lewatkan. Mungkin saja dalam
rentang waktu tidur panjang saya kemaren sudah tak terhitung jomblowan/ti yang
sudah nyetak dan nyebar undangan pernikahan, kecuali saya. Ups, curhat dikit.
Haaa, baiklah. Well, sebenarnya udah lama banget pengen kembali ke blog ini.
Sekedar baca-baca atau benar-benar nulis di laman blog ini. Rutinitas
seolah-olah sukses menelan saya
bulat-bulat sepanjang tahun ini. Kali ini tak sekedar sebuah kata “pekerjaan”
saja yang membuat saya kadang ngiri sama amoeba, berharap bisa membelah diri
sesukanya. Hingga cukup waktu mengerjakan apa saja yang kudu dan “fardu” saya
laksanakan sebagai konsekuensi hidup yang saya pilih sebelumnya. Emmm,
pembicaraan mulai terdengar berat.
Ya, begitulah kenyataannya. Terhitung dari bulan Agustus
tahun 2014 kemaren, kesibukan dan jadwal saya tak hanya sekedar shooting dan
shooting seperti tahun2 sebelumnya (abaikan). Intinya, sejak bulan itu saya
sudah mengikatkan diri untuk terjerumus pada kemakmuran guna stabilisasi
kualitas ekonomisasi yang harmonisasi ke depannya (serasa abis kesurupan
vikinisasi). Eps, kemana tuh orang y? Udah kelar nyantren lom y? (abaikan
lagi). Agustus atau Septemberan lah, saya lupa tepatnya, saya kembali
mendedikasikan diri untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya di bangku kuliah.
Jadi mahasiswa eh mahasiswi lagi, hahaiii. Kok merasa muda lagi dan imut yah di
panggil mahasiswa, gitu. Ya saya ngampus lagi. Nah-nah, dari sanalah semuanya
bermula kawan. Hingga tak sedikit pun waktu yg kemudian saya punya, walau
sekedar bertegur sapa, gahol sama teman-teman, sampai-sampai saya tak punya
waktu untuk bergosip2 cantik dengan abang sayuran langganan saya, yang ngakunya
sebagai salah satu fans garis keras acara insert investigasi dan silet. Ahhh,
semuanya kini tinggal kenangan yang memang tak pantas dikenang (baca : sampah).
Pekerjaan kantor yang memang tidak sedikit, ya you knowlah.
Ditambah dengan jadwal kuliah yang super padat, membuat waktu seolah mengkerut
bagi saya. Jam kuliah dimulai pukul 7 dan selesai jam 9.30 malam. Walaahhh,
awal-awalnya memang saya sempat kewalahan. Badan sedikit menciut walau ga
ekstrim2 banget mungkin kaget dengan rutinitas baru yang agak menyita tenaga,
waktu dan pikiran (berat yah ternyata, baru nyadarrr). Cuma ya begitulah. Semua
harus dijalani dengan sabar dan ikhlas. Prinsipnya sederhana, harus ada yang
mengalah atau dikorbankan untuk meraih sesuatu yang lebih baik. Yah mungkin
kali ini, saya harus pinter2 bagi pikiran, tenaga dan waktu saya agar niat
mulia yang saya cita-kan bisa tercapai. Amin
Saya ingat perkataan salah seorang dosen saya di masa-masa
awal perkuliahan. Dia salut dengan orang-orang yang duduk dengan setumpuk buku
beratus2 halaman yang ada dihadapannya saat ini. Ya itulah kami (baca : saya
dan teman2 kampus lainnya), yang sudah mengorbankan waktu istirahat sepulang
kerja dengan harus duduk mendengarkan kuliah panjang lebar dari mereka. Menahan
letih dan kantuk. Mengabaikan, entah tadi siang setumpuk pekerjaan menyita jam
makan siangnya, entah tadi siang si bos minta laporan ini itu, dan entah apa
lagi macam ragamnya yang terjadi tadi siang di kantornya. Melupakan sejenak
waktu yang mungkin tertukar dengan keluarga. Harusnya saat ini sedang bersenda
gurau dengan suami/istri dan anak, dengan ayah ibu atau saudara lainnya. Semua
dikorbankan demi ilmu dan sebuah tujuan. Dosen saya meminjam sebuah istilah
dalam ekonomi yaitu opportunity cost.Sederhananya,
saya dan teman2 kampus lainnya sudah membuat pilihan dari beberapa alternatif
pilihan yang ada. Dan bagi kami (baca : saya) mungkin inilah pilihan yang
terbaik.
Well, begitulah sejarah singkat mengapa Belanda sampai saat
ini sulit move on dari Indonesia. Kenapa? KArena eh karena, Indonesia sama
Belanda itu dulu pernah punya hubungan. Emmm, nah berhubung sekarang udah
putus, otomatis Indonesia jadi mantannya deh. Makanya Belanda susah move on …
hahaha (khusus yg ini anggap ga pernah baca). Maksudnya begitulah sejarah
singkat mengapa hampir setahun ini tulisan saya ga pernah nongol2 di blog ini.
Jujur, sebenarnya saya udah ngebet2 cantik untuk nulis di blog ini. Tapia apa
mau dikata. Alhamdulillah siang ini ada sedikit waktu. Eh, inget lagi kalau
pernah punya blog. Untung saya masih ingat alamat dan password blog ini walau
samar2. Pas ngeklik agak sedikit kaget, loh kok blog saya udah brewokan,
gondrong dan kusam. Huff …. Walau sedikit ekstra kerja keras, ngelap sana sini,
akhirnya blog ini terlahir kembali. Hihihihi
Next, moga tiap bulannya akan ada postingan terus yang bakal
nongol di blog ini. Amin
Ingatkah kau,
kamis tengah hari. Jam 12 siang itu? Kau mungkin lupa. Ah, tak mengapa.
Sumber gambar : www.google.com
Ingatkah kau,
kamis tengah hari. Jam 12 siang itu, saat matahari benar-benar merajai. Langkah
kecilku lengkap menyapu lapangan sekolah kita. Bersama debu yang menghambur
diantara kaki-kaki yang berlarian berebut bola. Ah, aku benci pelajaran
olahraga. Saat anak-anak lain bergembira menunggu-nunggu jam pelajaran olah
raga dimulai. Bagiku itulah awal derita. Tubuhku kecil, mungil tak ideal untuk
pelajaran macam ini. Servis voliku tak pernah masuk-masuk, prestasi terbaikku
bola menyentuh net, tak melampauinya sekali pun. Basket, apalagi. Tes memasukan
bola ke dalam ring, akulah juru kuncinya. Tak jauh-jauh dari nol besar,
kalaupun masuk sudah Alhamdulillah, bonus dari Tuhan.
Ingatkah kau,
kamis tengah hari. Jam 12 siang itu? Ah sudahlah. Aku jujur bukan, ketika
kukatakan disetiap tahunnya, akan ada hari-hari yang kubenci. Yah itulah hari
dimana ada pelajaran olahraganya. Ketika pemilihan guru favorit setiap
tahunnya, bisa kutebak apa yang ada di kepala anak-anak lainnya. Guru bahasa
dan olahraga akan merajai puncak suara. Kau tahu, aku akan menutup rapat surat
suaraku hari itu, hingga tak kuizinkan sesiapapun melihatnya. Karena pilihanku
tak popular. Akan ada nama-nama langka yang bahkan bila dilafazkan orang-orang
akan mengkerutkan keningnya tak mengerti nama guru-guru kami yang manakah
gerangan. Dengan yakin aku tuliskan nama Bu Sita, guru matematika kami yang
terkenal galak itu. Atau Pak Badrus guru biologi yang dianggap anak-anak
sebagai guru yang gagal paham selera anak muda.
Ingatkah kau,
kamis tengah hari. Jam 12 siang itu. Bahwa seluruh rahasia hidupku ada
ditanganmu. Kau tahu aku benci olahraga namun cinta mati pada ilmu pasti. Bukan
karena aku menyukai angka-angka. Bukan karena kekagumanku pada amuba yang mampu
membelah diri sesukanya. Bukan karena aku paling tahu bagaimana membedakan asam
dan basa. Bukan. Bukan karena aku mengidolakan eistein, newton dan sejenisnya,
ah, siapa yang peduli nama-nama itu bila kau tanya pada orang-orang di
kampungku. Tentu saja bukan itu. Saat pelajaran-pelajaran itu aku menemukanmu.
Menemukan kelemahanmu. Kelemahan yang menarikmu kepadaku. Aku suka itu. Menatap
wajah bingungmu ditengah-tengah hitungan logaritma. Menertawai gerutu dan
kesalmu karena tak mampu membedakan mana gaya mana daya. Menunggu-nunggu
sejumput tanyamu kepadaku tentang apa itu protozoa ataupun molusca. Haaa, aku
suka tentang semua itu. Aku menjadi sempurna disana.
Ingatkah kau,
kamis tengah hari. Jam 12 siang itu, saat matahari tak sedikitpun toleransi
pada anak-anak negeri ini. Kami dipaksa berlari mengelilingi lapangan sekolah
ini sebanyak tiga kali atas nama edukasi, pemanasan sebelum latihan biar kau
tak pingsan dan kejang-kejang, begitu petuah guru favorit sekolah ini. Ahh,
lengkap sudah kebencianku pada pelajaran ini. Sumpah serapah menyampahi bibirku.
Kau tak akan pernah tahu. Hingga pada saat pluit tanda istirahat itu pun
berbunyi. Aku tersandar dengan napas satu-satu. Wajahku basah oleh keringat dan
erangan. Persis lenguhan budak-budak belian di perkebunan Araruna. Aku haus,
awas mencari kiranya dimana sumber pelepas dahaga. Hingga mata ini tertuju
padamu. Ya engkau... disana, bersama gadis berkacamata minus itu.
Ingatkah kau,
kamis tengah hari. Jam 12 siang itu. Waktu seolah berputar terbalik sejak saat
itu. aku mulai tak bisa membedakan lab kimia dengan lapangan olahraga,
sama-sama busuk. Pelajaran matematika seolah berisi kumpulan angka-angka setan
yang memusingkan. Biologi tak lagi menyenangkan. Peduli apa aku dengan cara
reproduksi binatang tak bertulang belakang. Ah, aku bahkan lupa nama-nama guru
yang akan kutulis saat pemilihan nanti. Susah payah aku mengingatnya, sesusah
menghapalkan nama penemu fosil-fosil manusia prasejarah dunia. Tunggulah nanti,
saat waktu itu datang surat suaraku tak akan lagi tertutup rapat. Aku akan ada
di tengah kerumunan, bersorak mengiyakan, setuju bukan kepalang, guru olahraga
pasti menjadi pemenang.
Ingatkah kau,
kamis tengah hari. Pukul 12 siang itu ... saat aku tak lagi mengutuki pelajaran
olahraga.
Ada Orang tua menghampiri Nabi dan ia berkata : " Ya Rasulallah, aku kelaparan, berilah aku makan, aku tidak punya pakaian, beri aku pakaian dan aku miskin beri aku kecukupan ". Rasul yang dermawan itu berkata : " Aku tak punya apapun untukmu, akan tetapi orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan ganjarannya sama dengan orang yang melakukannya, karena itu cobalah datang ke rumah orang yang mencintai Allah dan RasulNya dan dicintai oleh Allah dan RasulNya, tentu dia akan mendahului Allah ketimbang dirinya sendiri, pergilah ke rumah Fatimah, hai Bilal, tolong antarkan ia ke rumah Fatimah. Maka berangkatlah mereka ke rumah putri Rasul yang mulia Fatimah, sesampainya didepan rumah Fatimah, ia memanggil dengan suara keras : assalamu`alaikum, wahai keluarga Nabi shallallahu alaihi wa sallam, keluarga dimana Jibril as menurunkan alqur`an dari Rab semesta alam ". Setelah menjawab salam, Fatimah bertanya : " siapakah bapak? " Ia menjawab : " aku orang tua dari suku arab baduy, aku telah bertemu ayahmu, pemimpin umat manusia, sementara aku wahai putri Rasul, adalah orang yang tidak berpakaian, lapar dan miskin, bantulah aku, semoga Allah memberkahimu ".
Fatimah mengambil kalung yang dikenakanya dan hanya itulah satu-satunya milik yang paling berharga, diserahkanya kalung tersebut sambil berkata : " Ambillah ini dan juallah. Semoga Allah memberimu sesuatu yang lebih baik ". Orang itupun menerima kalung itu dengan gembira lalu pergi ke masjid untuk menjumpai Rasulullah, sesampainya di masjid ia menigatakan kepada Rasulullah : " Ya Rasulallah, Fatimah putrimu telah memberikan kalung ini dan ia berkata : " Juallah kalung ini, semoga Allah memberimu sesuatu yang lebih baik ".
Mendengar itu, Rasulullah pun menangis. Ammar pun berdiri seraya berkata : "Ya Rasulallah apakah anda mengizinkanku untuk membeli kalung itu? ". Rasulullah menjawab : ”Belilah wahai Ammar..”. Ammar bertanya : ”Dengan harga berapa engkau akan menjual kalung itu wahai saudaraku?”. Orang itu menjawab :”Seharga roti dan daging yang akan menghilangkan rasa laparku, selembar kain yaman yang akan menutupi auratku agar aku dapat shalat menghadap Rabbku dan satu dinar uang untuk pulang menemui keluargaku”.
Kemudian Ammar menjual bagian harta rampasan perang yang didapatkannya dari Rasulullah, tidak ada yang tersisa sedikitpun, ia berkata kepada orang arab baduy itu : "Anda akan saya beri uang 20 dinar 200 dirham, sehelai kain yaman, kendaraanku untuk mengantarkanmu sampai ke rumahmu dan rasa kenyang dari roti dan daging”. Orang itu berkata : “Duhai, betapa pemurahnya tuan ini. Semoga Allah memberkahi anda wahai tuan yang mulia”.
Ammar mengajak orang itu ke rumahnya dan memberikan semua yang dijanjikan kepadanya. Kemudian orang itu menjumpai Nabi shallallahu alaihi wa sallam, yang kemudian berkata : ”Sudahkah anda kenyang dan berpakaian?” Orang itu berkata : "Sudah Ya Rasulallah, bahkan demi Allah, aku menjadi orang yang kaya saat ini”.
Ammar pulang ke rumahnya mengambil kalung itu lalu meneteskan minyak misik dan membungkusnya dengan kain Yaman, ia memiliki seorang budak yang bernama Sahmun yang ia beli dari ghanimah yang didapatkannya saat perang kahibar. Kalung itu diserahkan kepada budaknya seraya berkata : ”Berikan ini kepada Rasulullah dan engaku sendiri aku hadiahkan untuk beliau”.
Budak itupun mengambil bungkusan kalung tersebut dan membawanya kepada Rasulullah lalu menyampaikan apa yang dikatakan Ammar. Rasulullah bersabda : "Pergilah kepada Fatimah, berikan kalung itu kepadanya dan engkau menjadi miliknya”. Datanglah budak itu menyampaikan apa yang dikatakan Rasulullah kepada Fatimah, Fatimah lalu menerima kalung itu, kemudian membebaskan Sahmun dari statusnya sebagai budak. Sahmun pun tertawa.
Fatimah bertanya :” Apa yang membuatmu tertawa ya ghulam?” Sahmun berkata : "Betapa besarnya keberkahan kalung ini, inilah yang membuatku tertawa. Kalung ini telah mengenyangkan orang yang lapar, memberi pakaian orang yang telanjang, menjadikan kaya orang yang miskin dan memerdekakan seorang budak, lalu kembali kepada pemiliknya”.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan Bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (QS. Ali Imran 190) Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri dan duduk, dan dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi sambil berkata: "Ya Tuhan kami, Engkau tidak menciptakan ini dengan sia-sia! Maha Suci Engkau! Maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali Imran 191)
Sumber gambar : www.google.com
Suatu waktu saya ke rumah sakit untuk cek mata. Ketika menunggu cukup lama akhirnya nama saya dipanggil. Didalam ruang periksa saya tertegun dengan sebuah tulisan yang menempel pada dinding ruangan. Tulisan tersebut dipahat pada sebuah kayu sepanjang kira-kira 30 sentimeteran. Begini bunyinya, "BILA KAU KIRA ITU MUSTAHIL, MAKA UBAHLAH IA DENGAN DOA". Tidak sia-sia rasanya menunggu antrian panjang untuk cek mata siang itu, karena bagi saya tulisan yang menempel pada dinding tersebut adalah salah satu bentuk bukti kasih sayang Allah kepada saya, Dia mengajak saya berkomunikasi walaupun secara tidak langsung. Bahwa untuk mengatasi segala permasalahan yang saya alami saat ini, yang harus saya lakukan adalah BERDOA.
Mengutip dari buku OMA karangan Pak Naqoi, saya seolah mengalami One Minute Awareness, satu menit kesadaran yang mengubah cara pandang saya terhadap masalah. Segala kekhawatiran dan kegundahan saya akan permasalahan hidup selama ini seketika meleleh berganti dengan optimisme yang tinggi setelah membaca tulisan tersebut. Saya kembali yakin sepenuhnya dengan kata-kata bahwa, Allah tidak akan memberi ujian diluar batas kemampuan manusia, saya kembali yakin bahwa Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang, saya kembali yakin bahwa menyikapi masalah dengan baik justru akan membuat manusia itu semakin dekat dengan Tuhannya. Saat manusia diberi kado berupa masalah oleh Allah, justru saat itu Allah sedang sangat dekat-dekatnya dengan kita. Bukankah dekat dengan Tuhannya adalah hal yang sangat diinginkan oleh setiap manusia yang beriman? Allah lebih intensif mengawasi, menunggu respon kita dalam menyikapi masalah tersebut, dan menunggu doa-doa kita.
Well, walaupun harus menunggu antrian pemeriksaan sampai hampir 2 jam, untuk cek mata yang hanya 5 menit, diteruskan dengan mengambil obat dan mengurus administrasi asuransi yang panjang dan lama, hehehe. Yah dihitung-hitung memakan waktu hampir 5-6 jam, tidak apa-apalah. Tidak ada yang sia-sia dan kebetulan, karena hari itu saya mendapatkan ilmu yang menjadi motivasi luar biasa. Sebuah tulisan yang tak lebih dari 10 kata yang menempel pada dinding ruang pemeriksaan. Memang bukan sebuah kebetulan tulisan itu saya baca, dan bukan kebetulan juga tulisan itu ada disana. Karena hidup memang bukanlah kebetulan. Ada hikmah dari setiap kejadian, tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Nonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijknya udah lama, kira-kira awal bulan Januari kemaren. Jujur awalnya sempet ga mau nonton, dengan alasan, film sebelumnya yang pernah mengadopsi karya Hamka dengan judul Dibawah Lindungan Ka'bah yang saya tonton bergambreng-gambreng bareng sama ibu dan ponakan-ponakan saya (alias nonton berjamaah dengan niatan luhur karena penasaran), sungguh-sungguh membuat saya kecewa. Nah, makanya pas ada lagi film yang mengangkat karya Hamka dan salah satu pemainnya ada yang sama dengan film sebelumnya, makanya saya angkat tangan. Persepsi saya udah terlanjur buruk. Pas liat poster filmnya saya malah manyun. Loh kok film yang diangkat dari novel Buya Hamka posternya malah kayak "gitu". Nah kayak "gitu"nya itu mungkin sebagian orang sudah mengerti. Karena seiring dengan beredarnya film ini banyak kritik (baca: protes) yang dilayangkan oleh sebagian orang (komunitas) yang menganggap poster film TKV sama sekali tidak mencerminkan karya seorang Hamka. Apalalagi film yang diangkat dari novel ini sarat dengan cerita yang berlatar adat dan budaya Minang yang sangat kental dengan nilai-nilai agamanya.Yang menjadi pertentangan adalah pakaian yang dikenakan oleh pemain perempuan (Pevita Pierce) yang ada di poster tersebut. Saya menyebutnya dengan baju Katebe (bukan katepe yah, hehehe) yang singkatannya tentu saja bukan Kartu Tanda Benduduk, tapiiii, ah, sudahlah cukup saya dan orang-orang Minang lain saja yang tahu *bikin penasaran, Hehehe .... Rasa-rasanya baju seperti itu tidak lazim dan tidak pantas digunakan oleh gadis-gadis Minang jaman dulu. Saya setuju untuk hal ini. Well, lepas dari kontroversi yang ada. Akhirnya saya menonton juga film ini. Alasannya karena saya diracuni oleh pak gugel dan bu brosing. Di tengah kontroversi yang ada, tak sedikit komentar positif yang saya dapat dari orang-orang sehabis menonton film ini. Baguslah, luar biasalah, film of the yearlah, pokoknya bermacam-macam.
Nah, saya ingat betul, jam 22.24 pada satu malam gelap di bulan Januari (halahh), akhirnya dengan berat hati saya buat juga keputusan yang maha penting itu. Saya harus menonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk besok tepat jam 12 siang. Dan betul, saat jam 12 siang besoknya saya sudah memegang 2 tiket untuk film ini. :)
Film ini tayang hampir 3 jam (kurang). Terlalu lama memang. Kalau dibilang bosan karena kepanjangan jujur memang sempet pada scene-scene akhir (75% pemutaran) hal ini sedikit melanda saya. Namun karena keindahan tampilan gambar pada film ini yang beda dari film-film lainnya membuat saya hampir lupa dengan perasaan itu. Film ini digarap dengan serius. Tidak tanggung. Mulai dari bahasa yang digunakan (bahasa Minang dan Makassar), terlihat jelas dialog dengan dialek daerah benar-benar coba diterapkan oleh film ini, sampai-sampai ada subtitlenya. Walaupun ada beberapa bahasa Minang yang pengucapannya oleh lidah para pemain terdengar aneh, tapi bagi saya hal tersebut bisa dimaafkan. Latar berupa pemandangan alam Minang yang ditampilkan pada film memang tak bisa diabaikan. Luar biasa. Perfecto! keindahan alamnya yang menawan memiliki daya tarik tersendiri. Walaupun tak banyak scene tentang budaya dan adat istiadat Minang, namun saya bisa melihat bagaimana adat dan tradisi itu hadir dalam tutur, prilaku, dan tindak tanduk para tokoh dalam cerita. Bagaimana peran ninik mamak (paman) bagi ponakannya, perlunya musyawarah dan mufakat dalam mengambil keputusan terlihat dalam beberapa adegan di film ini. Satu yang pasti, kecanduan orang Minang jaman dulu menonton pertandingan kuda juga tersaji apik pada film ini. Untuk skenario, sepertinya film ini tidak mau jauh-jauh dari novelnya, yaitu sangat sastra sekali. Hal ini terlihat dari penggunaan bahasa yang indah mendayu-dayu yang ada di surat-surat yang dibuat oleh Hayati dan Zaenudin. Dalam film ini saya harus angkat topi untuk aktingnya Herjunot Ali yang berperan sebagai Zaenudin, pemuda miskin yang ibunya berasal dari Bugis dan ayahnya dari Minang. Bravo. Aktingnya jempolan. Herjunot berhasil terlihat sebagai seorang pemuda lugu yang gamang dan rendah diri saat ia memerankan Zaenudin diawal cerita. Namun dengan cepat ia mampu berubah menjadi seorang lelaki sukses yang penuh wibawa dan sangat disegani. Totalitas aktingnya topp. Ada juga Reza Rahadian, yang berperan sebagai Azis, lelaki kaya raya namun sombong yang akhirnya menikahi Hayati kekasih Zaenudin. Kalau untuk Reza memang tidak diragukan lagi, walau kali ini mendapat peran antagonis, tapi tetap aja superr untuk aktingnya. Untuk Hayati sendiri diperankan oleh Pevita Pierce, aktingnya lumayan. Mungkin karena Hayati diceritakan sebagai gadis kampung yang lemah dan penurut, entah kenapa saya melihat akting Pevita sedikit stak dan membosankan. Tapi satu hal, dalam film ini Pevita terlihat sangat cantik dan natural. jadi kalaupun aktingnya tak terlalu wah, saya jamin penonton apalagi yang cowok2 akan lupa dengan semua kekurangan itu karena terbius oleh kecantikannya. :)
Musik dan lagu, keseluruhan lagu di film ini dibuat oleh Nidji. Lagunya luarrrrr biasa. top markotop. Pas nonton film ini musik dan lagu yang mengiringi adegan peradegan amat sangat pas. Musik dan lagu yang diputar sangat cocok dengan cerita yang ingin disampaikan, dan mewakili perasaan apa yang sedang dirasakan oleh para tokoh dalam cerita. Jalan ceritanya menarik, kadang sedih, kadang sedih banget, dan kadang sedih bingit ... hehehe, pokoknya sedihlah. Namun ada juga lucu dan konyolnya, mixlah.
Sebagus apapun film ini masih memiliki kekurangan, saya lebih suka menyebutnya dengan kejanggalan, salah satunya adalah cara berpakaian tokoh Hayati dalam cerita, terlalu modern, rasa-rasanya tidak pantas dikenakan oleh wanita2 minang jaman dulu. Selain itu juga terasa janggal melihat gaya hidup Azis dan keluarganya yang notabene orang Minang tulen, yang ke eropa-eropaan dan punya banyak teman orang Belanda. Hal itu mungkin saja, tapi kok bagi saya aneh aja ya, Azis digambarkan selevel dengan orang2 Belanda tersebut dan sangat dekat. Kalau dipikir2 Belanda pada zaman tersebut kan lagi jajah Indonesia, sedekat apapun Belanda itu dengan pribumi, tapi tetap ada batas. Namun dalam film ini, batas itu seolah hilang, tak terlihat mana kaum penjajah mana yang dijajah. Hiks
Kalau mengambil angka 1 sampai 10, maka saya akan memberikan angka 8 untuk film ini. Walaupun sudah tak tayang lagi di bioskop, tapi bagi saya film ini sangat rekomended. Selamat menonton ..... :)