HAMKA


.

Sumber : Wikipedia, the free encyclopedia

Haji Abdul Malik Karim Amrullah, known as Hamka (born in kampung Molek Sungai Batang Maninjau, West Sumatra February 17, 1908 - and died in Jakarta July 24, 1981) was a prominent Indonesian author, ulema and politician. His father, syekh Abdul Karim Amrullah, known as Haji Rasul, led and inspired the reform movement in Sumatra upon his arrival from the holy land Mecca in 1906.. In 1970's, Hamka was the leader of Majelis Ulama Indonesia, the biggest Muslim organizations in Indonesia besides Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah.

In the Dutch colonial era, Hamka was the chief editor of Indonesian magazines, such as Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, and Gema Islam.

He was given the title Buya, derived from the Arabic word Abi or Abuya meaning Father or someone respectable. Hamka was only getting a relatively low education in Maninjau Elementary School. He reached only until grade 2. But when he was about 10 years old, his father founded the Thawalib or religious teaching school in his hometown Padang Panjang. Hamka then learned and mastered Arabian language. He also took mentors from famous Muslim scholars such as Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto and Ki Bagus Hadikusumo.

At the beginning Hamka worked as a religion teacher in 1927 at a plantation in Tebing Tinggi, Medan and also in Padang Panjang around the year 1929. Hamka then worked as a teacher in University of Islam, Jakarta and University of Muhammadiyah, Padang Panjang from 1957 to 1958. After that, he became the rector in High Institute of Islam, Jakarta and given the title Professor from University of Mustopo, Jakarta. From 1951 to 1960, he was given in the position as a Religion High Officer by the Ministry of Religion, Indonesia, but he deliberately step off from the position when the former Indonesian first President Sukarno asked him to choose between taking up with the position of civil employee or becoming a political activist in Muslim organization Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

Hamka was an autodidact in many subjects such as philosophy, literature, history, sociology and politics, both from Islamic side and Western side. With his skillful ability in Arabic language, he mastered the works from those Middle Easterners high scholars such as Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti and Hussain Haikal.

Through his skill in Arabic Language also he examined the works of French, British and German scholars such as Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx and Pierre Loti. Hamka was a hungry reader and like to do discussions with famous figures in Jakarta such as HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur and Ki Bagus Hadikusumo, while sharpen his talent as a gifted and talented public speaker.

Islamic Activist

Hamka also active in the Islamic movement through Muhammadiyah Organization. He was following the belief of Muhammadiyah since 1925 to fight off ‘khurafat’, ‘bidaah’, ‘tarekat’ and other misinterpretation and mistreatments of the Islamic teachings for the Padang Panjang region. Starting the year 1928, he became the leader of Muhamadiyah Organization branch in Padang Panjang. In 1929, Hamka established a training center for preaching in Muhammadiyah and two years later he became Muhamadiyah Consul in Makassar. Following the year, Hamka was elected to be the leader of Leadership Committee of Muhammadiyah in West Sumatera by the Muhammadiyah Conference, replacing S.Y. Sutan Mangkuto in the year 1946. He had reorganized the development in the 31st Muhammadiyah Congress in Yogyakarta in the year 1950. In 1953, Hamka was chosen to be the counselor in Muhammadiyah Center. On July 26, 1977, the Indonesian Religion Minister Prof. Dr. Mukti Ali elected Hamka as the Leader of Majlis Ulama Indonesia (The Counsel of Muslim Scholars of Indonesia) but then Hamka resigned from this post in the year 1981 when his advices were ignored by the Indonesia government.

Politician

Hamka’s political activities started in 1925 when he became the party member in Islamic Trade Political Party. In 1945, he helped to fight-off the efforts from Netherlands to return to Indonesia through campaigns, speeches and participated in guerrillas’ war in the jungle. In 1947, Hamka was elected leader of Indonesian National Defence Force. He then became Masyumi Constituent and became the main speaker in The Grand Public Election in 1955. Masyumi Party was then banned by the Indonesian Government in 1960. There was a misunderstanding between Hamka and then Indonesian President Sukarno about whose side was Hamka in, in the controversy pro-contra Malaysia. From the year 1964 to 1966, Hamka was imprisoned with in-house prison by President Sukarno. Hamka was actually felt grateful for his time in jail. He was always saying, “If I wasn’t in prison, then I wouldn’t have had the time to finish writing the Al Azhar’s Tafsir (translation and teachings of the ‘Koran’). Hamka started to write and finish the Tafsir, which then would turn out to be his greatest scientific work. When he was out from jail Hamka was elected as a member of the National Committee of Integrity Conference, Indonesia, a member of The Indonesian Hajj Travel Committee and a member of National Culture Association, Indonesia.

Author

Other than his activities in the religious and political sectors, Hamka was also a journalist, a writer, and a publisher. Since the 1920s, Hamka was working as the journalist of several newspaper such as Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam and Seruan Muhammadiyah. In 1928, he was the editor-in-chief of the magazine ‘Kemajuan Masyarakat’. In 1932, he became the editor of the magazine ‘Al-Mahdi’ in Makasar. Hamka also once became the editor for the magazine Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat and Gema Islam.

Hamka also wrote a number of Islamic scientific works, novels and short stories. His biggest scientific works, ‘Tafsir al-Azhar (5 volumes) and many of his novels captured the public’s attention and became the standard text books all the way to Singapore and Malaysia. Among these works are the novel ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’, ‘Di Bawah Lindungan Ka’abah’ and ‘Merantau ke Deli’.

Hamka was awarded with several titles, both national and international scope such as the title ‘Doctor Honoris Causa, from University of Al-Azhar Cairo Egypt, 1958; Doctor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; and the title ‘Datuk Indono’ and dan ‘Prince Wiroguno’ from Indonesian government.

Hamka died on July 24, 1981, but his works and influence are still present until today, especially in the growth and modernization of Islam. Not just as a scholar and a writer in his country, but he was also highly appreciated in Malaysia and Singapore.

Lelaki Kertas


.

Sumber Gambar : Google

Tubuhnya tipis dengan tinggi yang menjulang hingga mendekati tiga rentang tangan orang dewasa. Bila berjalan ia sempoyongan, meliuk-liuk seperti sehelai kertas yang dipermainkan angin. Pasrah menunggu sang bayu penat dan menghamburkan tubuh cekingnya terserak lemah. Angin tak sepenuhnya musuh baginya, karena angin jugalah yang membantunya mendorong sendi tubuh lusuhnya bergerak. Menggoda aliran darahnya untuk terus berkonvoi, menyentak saraf dan menyadarkan otak kalau tubuh kertas itu masih bernyawa. Angin dan ia adalah sebentuk simbiosis mutualisma, kerjasama dua makhluk alam yang membutuhkan dan dibutuhkan. Saat angin berbisik, lelaki kertas itulah pendengar setianya. Menaikkan daun telinga caplangnya, serius mendengarkan tanpa interupsi. Itulah keistimewaannya dibanding manusia lainnya, tak banyak cincong. Ia penyimpan rahasia yang baik, tahu cerita mana yang harus dikabarkan dan mana yang harus disimpannya sendiri.

Beralih ke wajah lelaki kertas itu. Satu kata cukup mewakilkan roman pemilik tubuh tipis kering itu. Kacau. Tidak ada keseimbangan disana. Timpang, centang perenang. Bola matanya besar laksana gajah jumbo yang dipaksa masuk dalam kerangkeng monyet. Membiarkan bokong besarnya menyembul keluar. Biji mata itu tertanam dalam lubang yang sempit dan pengap. Seakan ingin meloncat keluar meninggalkan sarangnya. Bulu kudukmu akan berdiri bila lama-lama menatap mata itu. Hidungnya bulat besar. Sangat memakan tempat di area wajah lonjongnya. Menggusur anggota wajah yang lain untuk menepi. Bibirnya seperti kerucut. Kecil, tipis. Ketika berbicara seperti mulut ikan yang megap-megap di permukaan tabek mencari udara yang tidak sepekat dibawahnya. Didalamnya teronggok deretan gigi yang tidak rata. Laksana barisan rumah yang porak poranda akibat hempasan angin puting beliung. Menyisakan puing-puing atau bangunan miring tak beratap. Bicaranya tidak begitu jelas. Kalau kau malas bertanya untuk yang kedua kalinya, berarti kau harus mengira-ngira dan menebak apa yang sedang dibicarakan oleh lelaki kertas itu. Kusarankan untuk menjaga pendengaran dan penglihatan agar tak keliru.

Kepalanya sulah dengan rambut tipis bewarna merah kecoklatan. Tandus, helaian rambut tumbuh ala kadarnya. Membentuk lingkaran tepat diubun-ubunnya seperti bekas pendaratan pesawat UFO di ladang gandum. Kulitnya kering terbalut warna coklat tua pekat. Jari-jari tangannya suka bergetar sendiri, tak mau diam, tak terkendali. Gemetar. Seolah punya dunia sendiri yang terpisah dari induk semangnya. Maka tak jarang lelaki itu sering menjatuhkan benda-benda yang sedang berada dalam genggamannya.

Maik, begitulah orang kampung sering memanggilnya. Aku tak tahu pasti nama panjang lelaki kertas itu. Aku mengenalnya telah berada di kampung aur ini dengan nama yang tak ubahnya seperti sebuah gelar. Sindiran nyata tentang roman dan perawakannya yang tak jauh beda dengan mayit atau mayat. Ia sering meracau tak jelas, tapi tak mengganggu. Dengarlah sekali-kali racauan itu. Ada sejuta makna disana. Tak asal. Bukan sekadar gurauan. Ada peringatan, nasihat, petuah, sindiran halus bahkan kekocakan yang membuat kau tersenyum.

Maik tak pernah protes dengan hidupnya. Sepi interupsi. Bahkan ia terlihat senang dengan kondisinya. Tak menyalahkan Tuhan. Apapun itu sempurna dimatanya. Tak ada hitam apalagi abu2. Semua bersih, suci, putih. Maik yang tak sempurna di mata awam kami, adalah manusia terpilih. Pilihan Zat yang maha tinggi. Pemilik jagat semesta. Mungkin karena itu pulalah ia diberi keistimewaan. Ia tak pernah alpa. Tak pernah lupa diri, tak pernah lupa kami, tak pernah lupa sembahyang, tak pernah lupa untuk saling mengingatkan. Ia laksana dengungan alarm penyentak.

Maik lelaki kertas itu. Si yatim yang dicintai orang kampung justru karena kekurangannya ... Helaian kertas berterbangan terserak di angkasa. Udara dingin menusuk2, angin bertiup tenang. Di ranah ini, di tanah jirek tanah wakaf lokalisasi peristirahatan abadi lelaki kertas itu kini berbaring. Lelaki kertas itu telah menulis sendiri amal2 baiknya di helaian kertasnya. Ia telah siap melapor kepada pemilik hidup. Maik, Ahmad ... Lahir Jumat 12 Januari, Wafat Jumat 12 Januari ...



Juanda, 27012011


Serial Korea Terbaik


.

Serial Korea. Ah, rasanya sudah lamaaaaa sekali saya ga nyinggung2 bahasan ini di blog saya. Jadi kangen. Status saya yang sedikit bergeser menjadi "Mendadak Mahasiswa kembali" bikin waktu seolah makin sempit aja. Emmmm, bukannya habis digunain buat belajar loh, tapi habis buat nonton. Apalagi demam bola akhir tahun ini. Wahhhh, sedikit banyak menyita energi, karena bikin deg2an dan full kejutan. Walaupun akhirnya kalah. Ya sudahlah, Still I Love Timnas, much much much. Jadi pengen bahas bola juga, tapi lain kali deh.
Sekian lama dalam pengembaraan. Emm, akhirnya saya membuat keputusan diakhir tahun ini. Taraaaaaaaaaaaaaa .... penghargaan. Emmmm, satu kata yg manjur buat mengapresiasi hobi saya nonton serial korea. Sekaligus, award ini adalah harapan besar saya, agar perang antar korea segera berakhir. Hopefully. Kasihan, aktor dan aktrisnya. Ngungsi kemana mereka? Lee Min Ho, come to mama .... huhuhu

Berikut adalah judul serial2 korea terbaik versi saya. Maaf2 seblumnya, ini bukan dikhususkan hanya untuk serial korea yang lahir tahun 2010 saja. Tapi versi ngacak. Kriteria penilaian: tiap episode selalu bikin penasaran, lucu, mampu memaksa penontonnya (saya) buat begadang-tidur jam 1,2,3 pagi hanya buat nonton serial ini. Kalo pun dah kelar episodenya, masih tetap disetel berulang kali. Pemainnya lucu2, cantik2, ganteng2. Jalan cerita walau ngawur tapi tetap menghibur. Ga vulgar, dalam arti adegan2nya cukup sopan. Dan berikut adalah serial2 terbaik ituh :

1. Personal Taste.

2. My Girl Friend is Gumiho.


3. Who Still Marry Me.


4. He Is Beautiful

5. Playfull kiss 1



6. Thank You
Nah, sodara2 itulah beberapa serial korea terbaik menurut saya, Maaf2 klo ada yang ga sepaham. Soalnya, hanya serial2 inilah yang baru bisa saya tonton tahun ini. Hehhehehe.
Selamat yah buat para pemenang.


Juanda, 31 Desember 2010

Mas Dafi dotkom


.

"Mas Dafi ... mas Dafi, ada? Apa masih belum masuk?" Wanita itu celingak celinguk. Ia bertanya, suaranya nyaring, cara bicaranya cepat-cepat seperti orang buru-buru ingin buang hajat. Tak ada jawaban, padahal tak mungkin tidak seorang pun yang tak mendengar. Kami pura-pura tuli. Kompak untuk satu ini. Yayi menyikutkan lengannya. Aku memandingi ia yang mulai bertingkah. "Mas Dafi ... Mas Dafiiiiii." Godanya setengah berbisik. Aku menahan geli. Geli untuk dua kata ini, Mas Dafi.

satu minggu yang lalu. "Mas Dafi, bisa kan ngerjainnnya? Bisalah, pasti Mas Dafi mengerti, orang Mas Dafi kerjanya juga di Bank. Studi2 macam ini sudah makanan sehari2 bukan?" Seru wanita itu, masih tetap dengan nada cepat2 dan penuh percaya diri. Yayi menyenggolkan lengannya. Ia memperlihatkan kesepuluh jarinya. Sembari tertawa geli. Aku paham betul, angka 10 itu pastilah hitungan dua kata "Mas Dafi" yang sudah berkali2 keluar dari bibir wanita setengah baya di depan kami ini.

Mas Dafi, siapa yang tidak mengenalnya. Paling tidak untuk kelas ini saja. Yang penting terkenal, ceritanya. Di zaman yang katanya edan ini, popularitas sedikit menolong bagi siapa saja. Katanya, mau jadi bupati atau walikota saja harus gandeng artis buat jadi wakilnya. Setidaknya bisa membantu, karena artis banyak dikenal. Hitungannya biaya bisa sedikit lebih ditekan. Cerdik kan. Artis apa saja, yang penting populer. Nah, begitu pula dengan Mas Dafi. Disebut berkali2 diruang kelas ini cukuplah membuat kami terhipnotis.

Voluntir menjawab soal, Mas Dafi. Mahasiswa dengan nilai tertinggi, Mas Dafi. Ketua kelas, Mas Dafi. Potokopi, Mas Dafi. Hapus papan tulis, Mas Dafi. Menenteng laptop, Mas Dafi. Penerangan di kelas bermasalah, Mas Dafi. Ac tewas, Mas Dafi. Ada yang pilek, sesak napas, muntah2, mual, tetap nama Mas Dafi yang disebut. Entah apa korelasinya. Hingga lantai kotor, bangku peyot, gedung amblas, Mas Dafi ada disitu. Mungkin itulah akibat asupan kata yang berlebihan hingga siswa tidak bisa membedakan Mas dafi sebagai mahasiswa atau kacung. Kasihan.

"Kita itu ngeblur kali yah. Ga nyata. Kok yang dipanggil Mas Dafi terus. Payah." yayi bersungut2. Aku ikut. Mas Dafi bukan segala2nya toh?! Peristiwa2 besar seperti gempa, tsunami, tornado, tak ada kaitannya dengan namanya mAs Dafi. Cukup saja di ruangan kelas ini. Karena prestasinya dan bentuk fisik yang diatas rata2, ia menjadi terkenal.

"Nanti kesimpulannya Mas Dafi yang buat ...."
"Ini periodenya harus dikali dengan rasio yang ada, begitu yah mas Dafi yah."

Kondisinya ruangan kelas penuh oleh puluhan mahasiswa. Tapi cuma Mas Dafi yang tidak absen dimata dosen kami itu.

"MAs .... Mas .... MAs Dafiiiiiii. Jangan pergiiiiiiiii, Mas Dafiiiiiii ........ Mas dafi, jangan tinggalin yayi sendiri ...... Mas Dafiiiiiiiiiiiiii." Yayi bergumam, bibirnya mencong kanan kiri. Kelopak matanya masih menutup rapat, dengan bola mata yang liar bergerak. Tangan terangkat seperti deklamator berorasi. Sungguh hebat, Mas Dafi terbawa hingga ke dalam mimpi.

Kupandangi Yayi lekat. Komat-kamit kuberkonsntrasi penuh. Memanjatkan doa sekhusuk2nya. Aku menyapu wajahku yang sudah merona merah lada. Malu bukan main. Kuinsut tubuhku diam2 membelah kerumunan penumpang. Aku kabur, meninggalkan Yayi yang terbengong2. Sebait doa kupersembahkan untuk Yayi yang malang.

"Tuhanku, tolong lindungi yayi. Cukupkanlah Mas Dafi hanya tenar di kelas kami, jangan juga dikereta ekonomi ini. Amiiiin"


Juanda, 21 Des 2010

Bola Pingpong dari Banjar


.

Pernah lihat penyu? Dari tv sih pernah tapi liat langsung belum. Tapi kalau makan telurnya? Udah dong. Hohoho, bangganya. Begini ceritanya, waktu pas lagi jalan ke Kalimantan Selatan alias banjarmasin. Seperti biasa, kita pasti hunting makanan khas daerah mana pun yg kita tuju sama oleh2 khas dari sana. Nah cuapek2 habis borong cincin, gelang dan kalung (wahhh serasa orang kaya) di martapura, kita langsung terbang kembali ke hotel yang letaknya di kota banjarmasin. Berhubung mobil yang kita sewa satu hari sayang nganggur, akhirnya kita lanjut aja tanpa balik ke hotel jalan2 di pinggiran sungai barito. Tak banyak yang bisa dilihat sih sebenarnya. Rumah2 penduduk yang berdiri dipinggir2 sungai, dengan aktivitas sehari-hari seperti mandi dan mencuci di pinggiran sungai


Nah walaupun ga terlalu puas karena ga bisa lihat pasar terapung yang terkenal disana itu, dikarenakan pasar terapung hanya ada subuh-subuh dan kami besoknya harus langsung berangkat dengan pesawat pagi. Jadinya kita memilih untuk mengisi perut saja. Berdasarkan rekomendasi dari driver yang memang asli sana, kami mendapatkan tempat makan yang lumayan nyaman. Penyajiannya sedikit persis dengan rumah makan padang, segala lauk dihidangkan. Tinggal kita saja mau pilih yang mana. Ada Ikan, pindang, saluang (ikan kecil khas banjarmasin), daaaan telur penyu.

Telur penyu yang sudah direbus persis seperti bola pingpong yang penyet sana sini. Cangkangnya putih bersih, sedikit lunak dan harus dikupas kalau ingin membuka isi dalamnya.

"Ayo dis, kapan lagi. Cobain" Seru salah seorang teman, agar aku mau mencoba sebutir saja telur penyu yang manis2 dihidangkan dihadapan kami.

Dengan sedikit komat kamit baca doa dan menarik napas panjang, akhirnya satu sendokan kecil isi telor masuk juga ke mulutku. Baunya, kayak bau telor, ya iyalah. Sedikit bau obat2 gitu, dan sedikit ada rasa pasir2 gitu. Untuk diketahui hanya bagian kuning dari telur penyu saja yang padat sedangkan putih telurnya tidak padat masih cair seperti telur mentah.

Hap ... hap .... Aku cuma kuat dua sendok kecil dan itupun secuil2. Akhirnya nyerah juga. Tapi lumayan bisa ngerasain. Buat pengalaman. Makan telur ayam udah, itik bebek udah, penyu udah tinggal telur cicak ama telur dinosaurus aja kali yah .... Hohohoho .... engga deeeeeeeh.

Negeri 5 Menara


.

Ditengah gempuran pekerjaan yang terkadang takut-takut membuat alzaimer ini, syukurlah masih ada waktu untuk membaca novel Negeri Lima Menara. sebenarnya kenal novel ini baru satu minggu ini. Itu pun tidak diniatkan, maksudnya? Awalnya membeli novel ini bukanlah tujuan utama. Karena sebelumnya sama sekali ga pernah dengar apalagi liat ini novel. Udah lama ga beli buku lagi, trus iseng2 buka web jualan buku online, baris paling atas tertera daftar buku2 baru. Daaaaan novel N5M tidak ada dalam urutannya!!! Lah?!

Justru novel terbaru milik Andrea Hirata berjudul Padang Bulan dan Cinta dalam Gelaslah yang menjadi incaran. Nah, cerita punya cerita. Kalo beli buku online ini harga buku yang udah didiskon ditambahin sama ongkos kirim. Daaaan, kalau mau ongkos kirimnya free harus beli buku dengan harga diatas seratus ribu rupiah. Karena harga buku yang mau aku beli dibawah 100 ribu makanya aku putar otak. Tiiiiiiiing, secercah cahaya datang ... hehhehe. Angkat telpon dan mulailah nanya sana sini siapa diantara anak-anak yang mungkin pengen/ngebet/kebelet beli buku.

Sayang hasilnya nihil, pada bokek. Tapi tunggu dulu, dari mangsa terakhir yang aku telp, sebut saja namanya bunga. Baru terungkaplah siapa/apa makhluk yang bernama N5M ini.
"Boleh, aku mau beli Negeri 5 Menara. Aku nitip yah." Seru suara di seberang sana yang terdengar merdu, setidaknya untuk kali ini saja.
"Emang bagus yah bukunya?" Tanyaku sekadar basa basi basi.
"Kamu ga tau yah, itu kan buku yang suka dibaca sama si bos." Referensi yang tak cukup meyakinkan. seringkali selera bos dan anak buah jaauuuuuuuuh berbeda.
"Cerita tentang anak pesantren gitu." jawaban dari seberang. Wah standar pikirku lagi. Mulai tak antusias.

Tapi sayang seribu kali sayang. Toko buku onlinenya ga jualan makhluk yang bernama N5M ini. Akhirnya adalah aku sendiri. Dengan uang sendiri, belanja sendiri ditambah membayar ongkos kirim sendiri pula. Membeli Padang bulan andrea hirata.

Pas pulang kerja, ceritanya singgah dulu ke Gunung Agung. Eeeeeh, ga dinyana ternyata didepan mata terpampang indah tuh makhluk. Negeri 5 Menara. Ragu-ragu, maju mundur maju mundur. Ngintip2. Bolak balik novel ini muka belakang. Wuiiiih banyak testimoninya. Nama-nama yang memang bukan sembarang. sepertinya okeh tuh. Akhirnya tanpa tedeng aling2 kusambarlah ia.

Singkat cerita, Padang Bulan telat dikirim sampai 1 minggu lebih. aku yang kutuan buku akhirnya mulai mencoba mengkhatamkan N5M. Hasilnya dalam jangka waktu 3 hari 2 malam, makhluk ini tertelanjangi juga. Ups, kebaca tuntas.

Hasilnya, Baguuuuuuuuuuuuuuuus luar biasa. Kalau meminjam kata motivator Mario Teguh, super. Tidak biasa, dan pantas untuk dibaca. Penuh inspirasi dan motivasi.

Naaaah untuk review novel ini akan coba aku bahas next time yah. Soalnya sudah harus kerja lagi nih. Oke ^ ^

Jakarta, 2 juli 10