Sadis


.

Hanya padanya kugadaikan sumpahku. Tidak untuk Banih, Mantik apalagi Lani.

Gadis hitam manis. Lani, sejak kutahu ia telah terpilih, ia berwajah sehat walafiat. Steril dari kuman. Senyum mengembang dipipi tembemnya. Dulu ia bukan siapa-siapa, tak hidup, hanya berbayang, yang kadang terasa ada dan membuatmu menengok cukup sekali kebelakang. Tak penasaran sepenuhnya.
Bukan karena aku membenci atau iri padanya. Saat ini wajah bulat melonnya sepenuh pandang. Mengganggu bukan main.
Berkali-kali aku berpikir dan sebuah pertanyaan besar memenuhi otak kecilku. Tak pernah terjawab. Betah bersemayam hingga kini. Mengapa wanita ini hadir dalam perjalanan hidupku? Durasi pelakonannya hanya sekian detik namun aku merasa perannya tak bisa dianggap remeh. Bahkan bisa saja ialah penjahat sesungguhnya.

Mantik lain lagi. Perannya lebih halus. Ia mengenalku dengan sedikit kepentingan. Lumayan, transparan tak terlalu menyakitkan. Mengingatnya aku seolah menjelma menjadi seorang tua yang bijak bestari. Duduk tepekur menunggu antri sungkeman anak menantu yang minta doa restu. Khidmat mendengar petuahku seolah ia adalah pemuda yang telah penuh ilmunya dan siap turun gunung. Baginya aku adalah tetua, penuh pengalaman, sakti, petuahku adalah mantra pembasmi kutukan, dalilku adalah undang-undang. Mungkin seperti itu, kaliii!!!!
Mantik adalah rat-rata.

Dan Banih. Ia adalah seingatku saja. Tak banyak yang kutahu dan ingin kuketahui tentang dia. Rambutnya pirang, kuning seperti rambut jagung. Kulitnya juga kuning. Ia suka sekali menggunakan asesoris berwarna kuning. Anting kuning, gelang kuning, sepatu kuning, tas kuning. Giginya sedikit menguning, bukan karena terkena lunturan dari asesoris yang dipakainya, tentunya. Sepertinya di masa kecilnya ia adalah seorang yang penyakitan. Terpaksa meneguk antibiotik demi melanjutkan hidup.
Ia tipe-tipe pesolek. Aku yakin ia bukanlah sebuah ancaman besar. Hanya kameo.

KAy ... Kurang lebihnya, ialah pemangku sumpah itu. Banih, Mantik dan Lani bukan apa-apa. Kay, Ia mengenalku baik sekali.
Gadis ini luar biasa baik sekali. Setidaknya bagiku. Karena satu perihal yang inginku kabarkan padamu kawan ...

Dengan sadarku, aku adalah Mantik, atau Banih atau juga Lani bagi Kay .... Sadis


Juanda, 00092009

I Have a dream


.

Mimpi adalah kunci, bagi kita menaklukan dunia ... Berlarilah .... nanananananna ....
Ini mah lirik lagunya Nidji Laskar Pelangi, tentang mimpi di dunia nyata. Tapiiii, kali ini gue mau cerita tentang mimpi di duniaaaaa ... apa ya ? Dunia maya bukan ... dunia akhirat juga bukan ... dunia dalam berita apalagi tambah deh ngaconya, apa dunia dani ya (Biar ada pasangan buat mayanya ... hehehe).
Nih gue mau cerita macam ragam mimpi gue, buat perbandingan aja buat yang baca. Apakah mimpi-mimpi kita itu temanya hampir sama alias ga jauh beda. Baik itu settinganny, jalan ceritanya, watak tokoh2nya maupun endingnya.... gubrak!!! Dah kayak mau bikin film aja ... sekalian aja budgetnya berapa ... hehehe
1. Mimpi terbang, inilah mimpi yang sering banget menghampiri gue di tengah malah (yakin banget ngimpinya jam 12 teng). Prosentasenya hampir mencapai 50 s/d 60% dari total mimpi2 gue. Setiap gue mimpi terbang, jangan kalian membayangkan gue terbang kayak superman. Gue cuma ngambang gitu di udara. Semakin tinggi ... tinggi ... dan enakbanget rasanya. Badan gue ringan seperti bumi kehilangan gravitasi.
2. Mimpi telat, nah mimpi kayak gini rata-rata 20 s/d 30%. Mimpinya gue telat kesekolah padahal bentar lagi ada ujian, dan gue telat karena hal sepele KEHILANGAN KAUS KAKI. Telat apalagi ya? Telat datang bulan ... wah ini sich engga dong. Emmm, telat kesekolah doang deh kayaknya. Kalo mimpi telat ke kantor dan gue krasak krusuk sih ga pernah tuh mimpinya. Mungkin karena gue sering telat di kehidupan nyata makanya proposalnya ga diusulin buat gue impiin malamnya ... wekekeke
3. Mimpi gelap, nah ini juga pernah. Biasanya dalam mimpinya gue pulang kemalaman dari suatu tempat. Gue lewatin jalanan yang gelaaap banget. Kadang gue lari .... takuuuut banget soalnya ga ada yang bisa dilihat. Prosentasenya 5 s/d 10%
4. Mimpi dikejar2 penjahat. Nah ini jarang sih, biasanya gue mimpi kayak gini karena kecapekan atau lagi ga enak badan. Dalam mimpi gue berantem tuh sama penjahatnya, kayak gue jagoan benaran ... karate, kungfu, silat, taekwondo dkk gue pake tuh buat menghajar penjahatnya. Alhasil bangun2 badan gue rontok, kayak habis digebukin orang sekampung. Ngilu2 Prosentasenya 3 s/d 8% dech
5. Mimpi lihat langit. Langit disini yang gue mimpiin bermacam ragam, maksudnya gue pernah mimpi lihat langit bolong trus terjadi hujan meteor dari angkasa luar sana. Trus gue mimpi di langit itu ada gambar2, kayak tulisan2 arab, letusan kembang api ... pokoknya indah banget deh
Klo kakak gue pernah mimpi lihat makhluk mengerikan yang keluar dari atas langit ... Nah mimpi kayak gini biasanya cuma 3 s/d 8% juga.
6. Mimpi setan atau hantu. Wah yang ini jarang banget. Mungkin karena gue rajin doa sebelum tidur kali ya ....
7. Mimpi dikejar orang gila, ini juga jarang. Mana ada orang gila dikejar orang gila ... loh?!!!!!
8. Mimpi jalan-jalan, jarang juga nih ... Kalau bisa mimpi jalan2 gue pengen jalan2 ke jepang, korsel, swiss, mekah, medinah ... keliling dunia. Berapa kali mimpi dong ya kalau kayak gitu? Trus budgetnya ????
9. Mimpi sama kekasih hati ..... Emmmmm ??? Ada ga ya? Emmmmmm ada sih ... Tapi kalian jangan mikir yang aneh2 dulu. Yang pasti mimpinya lulus sensor kok, jadi dijamin halal ups ga neko2 loh ... suerrrr dah

Sebagian besar 9 ini deh yang sering gue mimpiin... Walaupun sebenarnya masih banyak kali ya. Cuma ga ingat kali . Soalnya yang pernah gue baca kalau manusia itu ketika bangun hanya bisa mengingat 50% mimpinya, bahkan 5 menit setelah itu ia akan banyak lupa dengan mimpinya sehingga hanya mengingat potongan2 kecil saja dari mimpinya.
Nah, bagaimana dengan kalian? Apa rata2 sama ga ya?


Juanda, 19062009

Once In a Live Time (Ga lagi-lagi dech!!!)


.

“Ih mba, satpam aja ga ada yang berani patroli malam-malam ke tempat itu.” Wajah lelaki muda sedikit menegang. Mencoba meyakinkan. Tak usah susah payah dia berargumen , aku juga percaya. Apalagi dilihat dari wajah lelaki muda itu, sepertinya ia sudah ditakdirkan untuk selalu berkata benar, menjunjung tinggi dasar Negara, berKTP dan tak akan terlibat tindak pidana apapun. Paling parah yang pernah diperbuatnya mungkin hanya kentut diam-diam dan tidak mengaku setelah penciuman sekitarnya terpolusi. Wajahnya, gurat yang gampang sekali untuk dibaca. Wajah orang Indonesia pada umumnya, a man in the street, you know!

“Syukurlah, tapi ga lagi-lagi dech.” Aku terengah-engah. Jari jemariku masih terasa gemetar dan memang gemetar. Kejadian yang baru aku alami adalah sebuah takdir buruk. Bila mengambil perbandingan maka akan muncul angka 1 berbanding 100. Karena ini memang langka terjadi di dunia. Ketika bola golf terlempar di tengah padang yang luas, dan ”puuuk” bola kecil itu mengenai jidat nong nongmu. Bukankah itu sebuah kesialan? Kenapa harus jidatmu, masih banyak tempat lain tempat bola itu mendarat, bukan? Pohonkah, tanahkah, batukah atau terlempar jauh ke angkasa luar sanakah. Seperti itulah perumpamaannya. Tiga hal saja yang mungkin bisa menjadi penyebab utama kesialan ini terjadi padaku. Pertama, faktor kurang inteleknya aku sebagai korban, lebih jelasnya kebodohan atau ketololanku sendiri, internal problem, you know! Faktor kedua adalah karma. Aku percaya karma. Simplenya kalau kau berbuat jahat cepat atau lambat kau akan terkena ganjarannya juga. Mungkin dosa di masa lampau dibalas dengan ini. Seperti suatu waktu aku telah berlaku jahat karena berghibah. Hasilnya batang hidungku hampir patah karena menyenggol tiang palang kereta. Itulah peringatan dibalik karma.

Faktor ketiga datang dari luar, lingkungan. Yup, bisa keisengan seseorang atau keisengan makhluk kasat mata. Xixixixixixi. Iam not kidding, you know.

Hari itu, 28 Mei 2009 untuk pertama kalinya setelah sekian lama tak menginjakkan kaki tepat ketika sidik jariku menempel pada mesin absen pukul delapan kurang. Butuh perjuangan yang keras untuk mendengar kata thank you dari mesin absen pada jam segitu. Perutku sakit. Wajar sekali karena tadi pagi aku belum ke toilet seperti pagi-pagi biasanya. Buru-buru ke kantordemi sebuah kata thank you. Toilet lantai dua tak bisa dipakai karena sedang dibersihkan. Sedangkan toilet bawah penuh terisi, mungkinkah semua orang sepertiku yang tak sempat p****p hanya karena mengejar waktu, hingga seluruh toilet terisi penuh pagi ini?

Toilet lantai 3 gedung baru, belum ada penghuninya. Emmm, maksudku belum semua karyawan dipindahkan kesana karena tak sepenuhnya selesai direnovasi. Apalagi kata-kata lelaki muda berKTP itu terngiang-ngiang di telingaku. Ih mba, satpam aja ga ada yang berani patroli malam-malam ke tempat itu.”

”Tapi toiletnya udah berfungsi kok.” Sebuah pesan yang kuingat. Kuseret langkah kesana. Berat memang, karena aku adalah si komplikasi. Penyakit penakutku akut, hayalan hororku luar biasa, nama-nama hantu kukantongi. Tapi perut dan hasrat untuk p****p lebih kuat. Ya sudahlah aku disana.

Singkat cerita si komplikasi ini menemui karmanya, dipermainkan oleh kekurang intelekannya dan terakhir diisengi what ever, karena kau tahu, AKU TERKUNCI DI DALAM TOILET. Mendorong pintu setan itu dengantenaga kuda. Mengetok-ngetok dan memanggil siapa saja yang mungkin kebetulan kesasar lewat ke sana. Panas bukan main. Memang tak sampai lima menit aku terkurung disana. Karena kau tahu, bukan tenaga kuda atau teriakan minta tolong yang dibutuhkan saat itu juga. Tapi ketenangan, don’t be panic, you know!

Pintu terbuka, walaaaaaaaaaah. sebegitu mudahnya. Tak ada pangeran penyelamat, atau paling tidak OB.

Satu yang pasti. Ini peringatan dibalik karma. Saranku janganlah kau berghibah, mengunyah petai atau jengkol ketika hendak diwawancarai atau hal bodoh dan buruk lainnya. Karena lambat laun semua akan dibalas.

Percaya padaku, kalau tidak kau akan terkunci didalam toilet. YOU KNOW!

Jah Nehi Nehi Dendi


.

"Jah, nanti malam di gedung bioskop film apa yang akan diputar?" Si penanya terlihat susah payah menahan gelak. Aku tahu, jawaban dari bibir wanita yang tak jelas masa usianya itu tak penting baginya. Si penanya hanya ingin menggoda wanita setengah waras itu. Pikir si penanya, mempermainkan Jah dengan cara seperti ini akan lebih dianggap terhormat dibandingkan mengolok-oloknya sepanjang jalan, bertepuk tangan mengintai langkah Jah, dan meneriakkan kata "gila". Persis seperti ulah anak-anak ingusan kampung.

"Film india ... " Gumam Jah pelan, nyaris tak terdengar. Wanita itu. Kutaksir wajah tuanya dan gerak jalannya yang lapuk hanyalah sebuah khianat. Pengkhiatan fisik. Mungkin saja tak lebih dari 35 sampai 40 tahun, kurasa. Memang tak ada seorang pun yang tahu kapan tepatnya Jah lahir. Ia sudah ada di kampung aur, dan begitulah adanya. Orang-orang pun tak banyak cincong tentang silsilah keluarganya. Lebih tepatnya mereka tak peduli. Sebagian ada yang bilang kalau Jah tinggal di lurah atas, tapi itu pun tak jelas yang mana tepatnya. Yang paling aneh ada yang bilang ia tinggal balik air terjun Piang. Air terjun di bawah kaki gunung S. Tak banyak orang yang berani datang ke sana. Kawasan terlarang, kudengar. Penuh oleh orang bunian dan segala macam sekongkownya.

Penampilan fisik Jah. Rambutnya panjang hingga mencapai lutut, dikepang. Rapi jalinannya, diminyaki sepertinya. Pakaiannya. Jangan kau mengira ia gila maka pakaiannya kumuh, lusuh dan kacau balau. Ia memakai sebuah kaos longgar yang tertutup kain panjang yang dililit diselempangkan. Kugambarkan seperti kain sari yang dipakai wanita-wanita India. Maka tak heran orang-orang sering mengolok Jah dengan panggilan Jah nehi nehi dendi. Ia tak marah. Mungkin saja julukan itu bahkan sebentuk penghargaan tersendiri baginya. Karena tampilannya inilah orang kampung sering menanyakan hal-hal yang berbau India pada wanita ini.

Jah menjinjing sebuah tas plastik setiap hari. Model yang sama, walau telah usang tak pernah dibuang. Isinya tak penting. Karisiak. Yakni daun pisang yang telah mengering. Ada banyak helaian didalamnya. Disusun rapi serupa lembaran uang dalam dompet.

Jah. Sebuah nama yang mungkin sangat indah dan agung. Siti Khajidah Adnan binti Muhammad Adnan. Deret nama yang bisa kubaca diatas sebuah gundukan tanah cembung. Tanah yang telah kering, gersang. Jasat wanita berkepang dengan baju sari warna mencolok itu telah terbaring di dalamnya. Jah telah pergi. Meninggalkan kami orang-orang kampung yang sering mengolok-oloknya. Meninggalkan dunia fana ini.

"Jah, film apa yang main di gedung bioskop ini malam?"
Hening


Juanda, 060309

Lelaki Pelontar Jumroh


.

Jumroh. Begitulah orang-orang kampung memanggilnya. Bila ditanya tak banyak yang tahu pasti siapa nama asli lelaki berkulit hitam pekat itu. Ku tangkap satu maksud kalau peringai lelaki itulah yang menyebabkan orang-orang memanggilnya Jumroh. Lelaki pelontar jumrah tepatnya. Setiap hari berjalan menyusuri kampung. Tak beralas kaki. Tidak lebih dari tiga hal tentang lelaki itu. Duduk berjongkok, memungut beberapa buah kerikil dan kemudian melemparnya kesegala arah. Persis seperti orang yang sedang melempar jumroh, ula, wusta dan aqobah. Mungkin karena perangainya itulah ia dipanggil jumroh.

Sepertinya di depan lelaki itu sering bercokol setan-setan yang tiada henti memperoloknya. Menghina tubuh cekingnya yang kumuh dan semakin tak bergizi itu. Tak sembarang, jumlah kerikil itu pun dihitungnya, sama sebanyak setan-setan yang ada dihadapannya. Menghalau mereka lintang pukang berhamburan. Sejenak setelah itu Jumroh menengadahkan wajahnya ke atas langit. Ia tersenyum. Penuh kemenangan, tersirat di sudut bibir coklat keringnya itu. seolah disana dibalik awan putih itu mengintip malu-malu seraut wajah kecil nan lucu bersayap dan bermahkota daun, tersenyum menyambut kemenangan Jumroh. Begitulah setiap hari setiap waktu.

Muhammad Wahid Natsir. Nama asli lelaki pelontar jumroh itu. Ayahnya seorang ulama besar di kampungku. Natsir kecil adalah seorang jenius. Pandai bukan main di sekolahnya. Aljabar dan ilmu alam dikunyah seperti makan bubur saja baginya. Mengaji Al Quran pun jangan ditanya. Sering diminta sebagai perwakilan kampung dalam acara MTQ antar kampung. Luar biasa.

Namun kemalangan apa yang membuat Natsir kecil nan jenius menjelma menjadi Jumroh? Saat menamatkan pendidikan tsanawiyahnya, malang sang ayah meninggal dunia. Sawah peninggalan ayahnya yang cukup luas diambil alih oleh pamannya. Tinggalah Jumroh dan ibunya miskin merana. Mimpi yang pernah digantungkan untuk bersekolah tinggi pupus sudah. Selang sebulan ayahnya meninggal menyusul pula ibundanya menghadap sang Khalik. Jumroh yatim piatu. Tak siap dengan musibah yang beruntun. Kepala jumroh panas. Ia mulai meracau sendiri. Dan melempar kerikil di jalanan.

Jumroh. Terakhir ku melihat ia 8 atau 10 tahun yang lalu. Entah bagaimana ia kini. Dulu ada binar dan gairah yang menggebu terperangkap dalam mata letih Jumroh yang kulihat. Kepintaran itu masih ada disana. Hidup serupa api dalam sekam.

Jumroh ... jumroh ... Ku bertanya masih adakah setan yang menggodamu?
Ini, kerikil untukmu.

Juanda, 17022009

Bila Ku Pulang Nanti ... Hopefully!!!


.

Duh dah kebelet pengen pulang kampung. Smoga ada rezeki dan ada umur tahun ini pengeeeeen banget balik ke kampuang halaman. Delapan tahun buuuu !!! 30 Juni 2001 silam ... T_T
Bakalan berubah total tuh kampuang nan jauh dimato. Kayak apa ya? Wondering ... hehehe. Iseng-iseng berhayal kalo nanti kesampean pulang (hopefully), dah punya planning neh mau kemana ... Dah terjadwal, ruapiiii .....


1. Pengen nengok SD Terang Benderang (SD Negeri 26 Kubang Putih) ketemu sama guru2nya * Bu Ros (guru kelas 1ku), Bu Nur, Bu Yeni, Bu Lis (Guru agama yang super duper baik hati) dsbnya ... SMP Negeri Tercinta (SLTP Negeri 3 Banuhampu Sei Puar) dekat pasar Padang luar, nah disini penuh cerita cinta dan persahabatan. Sama SMU Favoritku (SMU Negeri 1 Bukittinggi) klo disini penuh persaingan akademik, menguras otak tapi still happy kok ... Nah disekolah2 kenangan ini aku pengen Poto2 dan mengingat kembali segala memoar yang pernah terjadi disana. Hik ... hik ... hik

2. Jalan-jalan ke sawah, menghirup udara kampuang yang masih perawan jauh dari polusi ... Lari2 di tengah sawah wakakaka *serasa indiaheeee ... aca2*

3. jalan-jalan ke Ngarai Sianok, menikmati panorama dan pemandangan alamnya yang asri. Terakhir kesana klo ga salah pas SD. Dah lama bo'. Pernah nonton acara wisata kuliner di tv, ternyata di bawah ngarai ada restoran yang jualan itik lado hijau ... yummmy, sekalian mau nyobain.

4. Belanja ke pasar bukittinggi, di pasar bawah makan sate yang dekat ngetemnya bendi2. Bau kotoran kuda sih, cuma tetep aja eunak. Semua makanan khas bukittinggi ada disini, lemang, cindua, wiiiiihhhhh. Puas deh pokoke. Nah klo Pasar atas, bisa belanja souvenir, baju, jilbab, sendal khas Bukittinggi, pokoke pernak-pernik minang lah. Lukisan, gantungan tas, dsbnya ....

5. Ke jam gadang. Pengen tau udah berubah seperti apa. Jangan2 angka empatnya udah ditukar menjadi IV bukan IIII lagi. Dan ga lupa poto2 disana.

6. Mifan, MInang Fantasy. Nah klo yang ini belum pernah liat sich. Baru liat di Inet katanya di Padang panjang udah ada tempat semacam Dufan kecil di Jakarta. Perlu juga nih ditengok, walaupun ga ngebet banget.

Yup ... Kira2 tempat2 inilah yang paling pengen aku datangin. Semoga tahun ini bisa ... tak cuma tempat, pun orang-orangnya seperti Fabio Rosa (gadis berkumis tipis), Fan, tuan muda Oryza Sativa, Tek Mas, Cimung, Ipat, Cayi. Dan Teman-teman masa kecil ku ....


Juanda, 16022009

Lomba Menulis "Amazing Mom"


.

Ibu adalah lambang kelembutan, cinta dan kasih sayang. Betapa nyaman dan tentram saat berada dekat dengan sosok mulia ini. Ketika terbelenggu dalam kerasnya hari, ketika penat menyelimuti, ketika tak ada lagi tempat berbagi, tanpa pamrih ibu menawarkan ribuan kasih. Ia adalah gambaran nyata atas rahmat dan kasih sayangNya kepada kita semua.

Tuhan memang adil, Dia menitipkan rahim pada semua wanita terlepas itu akan terisi atau tidak, wanita dengan atau tanpa menjadi ibu pun, pada dasarnya memiliki rasa mengasihi, melindungi, mencintai. Itu sebabnya kita sering menambahkan kata "ibu" pada setiap orang yang memang layak dipanggil ibu, seperti: ibu mertua, ibu kos, ibu guru, ibu dosen, ibu kepala sekolah, ibu direktur, tak terkecuali ibu tiri.

Untuk menghargai peran para ibu, kali ini sekolah kehidupan akan mengadakan lomba yang bertajuk "There are a lot of amazing moms". sebuah lomba menulis dalam bentuk essay tentang peran ibu yang bukan ibu kandung.

PERSYARATAN LOMBA

1. Peserta dari semua kalangan dan sudah terdaftar di milis sekolah-kehidupan@ yahoogroups. com

2. Isi naskah sesuai dengan tema "The Amazing Moms" namun bukan dalam artian ibu kandung, melainkan ibu-ibu non biologis yang sering kita jumpai.

3. Tulisan berjumlah 6-10 halaman, kertas kwarto (A4), Font Times New Roman 12, Spasi 2.

4. Peserta boleh mengirimkan maksimal 2 (dua) naskah.


5. Peserta lomba menyertakan identitas penulis: nama, alamat, email, dan nomor telp/hp yang dapat dihubungi.

6. Naskah dikirimkan ke antologi.penerbitan @ gmail dot com dengan menuliskan label [Moms], misalnya: [Moms] Bu Mus Inspirasiku, pada subject email.

7. Naskah yang masuk menjadi hak panitia. Jika naskah diterbitkan, maka setiap penulis yang naskahnya masuk akan mendapatkan satu bukti terbit. Royalti dan honor yang didapatkan dari penerbitan buku tersebut menjadi hak milik Komunitas Sekolah-Kehidupan. com dan akan digunakan untuk mendanai kegiatan-kegiatan Komunitas Sekolah-Kehidupan. com.

8. Juri dalam lomba ini adalah:

* Kurnia Efendi

* Rini Nurul Badariah

* Lia Octavia


BATAS PENGIRIMAN NASKAH
Naskah dapat dikirimkan mulai tanggal 20 Desember 2008 sampai dengan tanggal 20 Februari 2009.


PENGUMUMAN PEMENANG
Pemenang lomba menulis "The Amazing Moms" akan diumumkan pada tanggal 15 Maret 2009.


HADIAH BAGI PARA PEMENANG
Pemenang I: Rp. 300.000,- + sertifikat + buku "Menggenggam Cahaya" + paket sponsor
Pemenang II: Rp 200.000,- + sertifikat + buku "Menggenggam Cahaya" + paket sponsor
Pemenang III: Rp 100.000,- + sertifikat + buku "Menggenggam Cahaya" + paket
sponsor
3 Pemenang Harapan : sertifikat + paket sponsor

Untuk melihat poster lomba ini silakan ikuti link berikut:
http://sekolah- kehidupan. com/index. php?suser=&sId=&act=agenda&vId=5


INFO LENGKAP HUBUNGI :
Tya --> listyarisanti @ yahoo dot com : 021 93360807
Endah -->endah.wida @ gmail dot com : 085221615514


Salam,
Departemen Penerbitan dan Kepustakaan
Sekolah Kehidupan
Novi Khansa - Ukhti Hazimah - Hamasah Putri - Artarisa