Bila Ku Pulang Nanti ... Hopefully!!!


.

Duh dah kebelet pengen pulang kampung. Smoga ada rezeki dan ada umur tahun ini pengeeeeen banget balik ke kampuang halaman. Delapan tahun buuuu !!! 30 Juni 2001 silam ... T_T
Bakalan berubah total tuh kampuang nan jauh dimato. Kayak apa ya? Wondering ... hehehe. Iseng-iseng berhayal kalo nanti kesampean pulang (hopefully), dah punya planning neh mau kemana ... Dah terjadwal, ruapiiii .....


1. Pengen nengok SD Terang Benderang (SD Negeri 26 Kubang Putih) ketemu sama guru2nya * Bu Ros (guru kelas 1ku), Bu Nur, Bu Yeni, Bu Lis (Guru agama yang super duper baik hati) dsbnya ... SMP Negeri Tercinta (SLTP Negeri 3 Banuhampu Sei Puar) dekat pasar Padang luar, nah disini penuh cerita cinta dan persahabatan. Sama SMU Favoritku (SMU Negeri 1 Bukittinggi) klo disini penuh persaingan akademik, menguras otak tapi still happy kok ... Nah disekolah2 kenangan ini aku pengen Poto2 dan mengingat kembali segala memoar yang pernah terjadi disana. Hik ... hik ... hik

2. Jalan-jalan ke sawah, menghirup udara kampuang yang masih perawan jauh dari polusi ... Lari2 di tengah sawah wakakaka *serasa indiaheeee ... aca2*

3. jalan-jalan ke Ngarai Sianok, menikmati panorama dan pemandangan alamnya yang asri. Terakhir kesana klo ga salah pas SD. Dah lama bo'. Pernah nonton acara wisata kuliner di tv, ternyata di bawah ngarai ada restoran yang jualan itik lado hijau ... yummmy, sekalian mau nyobain.

4. Belanja ke pasar bukittinggi, di pasar bawah makan sate yang dekat ngetemnya bendi2. Bau kotoran kuda sih, cuma tetep aja eunak. Semua makanan khas bukittinggi ada disini, lemang, cindua, wiiiiihhhhh. Puas deh pokoke. Nah klo Pasar atas, bisa belanja souvenir, baju, jilbab, sendal khas Bukittinggi, pokoke pernak-pernik minang lah. Lukisan, gantungan tas, dsbnya ....

5. Ke jam gadang. Pengen tau udah berubah seperti apa. Jangan2 angka empatnya udah ditukar menjadi IV bukan IIII lagi. Dan ga lupa poto2 disana.

6. Mifan, MInang Fantasy. Nah klo yang ini belum pernah liat sich. Baru liat di Inet katanya di Padang panjang udah ada tempat semacam Dufan kecil di Jakarta. Perlu juga nih ditengok, walaupun ga ngebet banget.

Yup ... Kira2 tempat2 inilah yang paling pengen aku datangin. Semoga tahun ini bisa ... tak cuma tempat, pun orang-orangnya seperti Fabio Rosa (gadis berkumis tipis), Fan, tuan muda Oryza Sativa, Tek Mas, Cimung, Ipat, Cayi. Dan Teman-teman masa kecil ku ....


Juanda, 16022009

Lomba Menulis "Amazing Mom"


.

Ibu adalah lambang kelembutan, cinta dan kasih sayang. Betapa nyaman dan tentram saat berada dekat dengan sosok mulia ini. Ketika terbelenggu dalam kerasnya hari, ketika penat menyelimuti, ketika tak ada lagi tempat berbagi, tanpa pamrih ibu menawarkan ribuan kasih. Ia adalah gambaran nyata atas rahmat dan kasih sayangNya kepada kita semua.

Tuhan memang adil, Dia menitipkan rahim pada semua wanita terlepas itu akan terisi atau tidak, wanita dengan atau tanpa menjadi ibu pun, pada dasarnya memiliki rasa mengasihi, melindungi, mencintai. Itu sebabnya kita sering menambahkan kata "ibu" pada setiap orang yang memang layak dipanggil ibu, seperti: ibu mertua, ibu kos, ibu guru, ibu dosen, ibu kepala sekolah, ibu direktur, tak terkecuali ibu tiri.

Untuk menghargai peran para ibu, kali ini sekolah kehidupan akan mengadakan lomba yang bertajuk "There are a lot of amazing moms". sebuah lomba menulis dalam bentuk essay tentang peran ibu yang bukan ibu kandung.

PERSYARATAN LOMBA

1. Peserta dari semua kalangan dan sudah terdaftar di milis sekolah-kehidupan@ yahoogroups. com

2. Isi naskah sesuai dengan tema "The Amazing Moms" namun bukan dalam artian ibu kandung, melainkan ibu-ibu non biologis yang sering kita jumpai.

3. Tulisan berjumlah 6-10 halaman, kertas kwarto (A4), Font Times New Roman 12, Spasi 2.

4. Peserta boleh mengirimkan maksimal 2 (dua) naskah.


5. Peserta lomba menyertakan identitas penulis: nama, alamat, email, dan nomor telp/hp yang dapat dihubungi.

6. Naskah dikirimkan ke antologi.penerbitan @ gmail dot com dengan menuliskan label [Moms], misalnya: [Moms] Bu Mus Inspirasiku, pada subject email.

7. Naskah yang masuk menjadi hak panitia. Jika naskah diterbitkan, maka setiap penulis yang naskahnya masuk akan mendapatkan satu bukti terbit. Royalti dan honor yang didapatkan dari penerbitan buku tersebut menjadi hak milik Komunitas Sekolah-Kehidupan. com dan akan digunakan untuk mendanai kegiatan-kegiatan Komunitas Sekolah-Kehidupan. com.

8. Juri dalam lomba ini adalah:

* Kurnia Efendi

* Rini Nurul Badariah

* Lia Octavia


BATAS PENGIRIMAN NASKAH
Naskah dapat dikirimkan mulai tanggal 20 Desember 2008 sampai dengan tanggal 20 Februari 2009.


PENGUMUMAN PEMENANG
Pemenang lomba menulis "The Amazing Moms" akan diumumkan pada tanggal 15 Maret 2009.


HADIAH BAGI PARA PEMENANG
Pemenang I: Rp. 300.000,- + sertifikat + buku "Menggenggam Cahaya" + paket sponsor
Pemenang II: Rp 200.000,- + sertifikat + buku "Menggenggam Cahaya" + paket sponsor
Pemenang III: Rp 100.000,- + sertifikat + buku "Menggenggam Cahaya" + paket
sponsor
3 Pemenang Harapan : sertifikat + paket sponsor

Untuk melihat poster lomba ini silakan ikuti link berikut:
http://sekolah- kehidupan. com/index. php?suser=&sId=&act=agenda&vId=5


INFO LENGKAP HUBUNGI :
Tya --> listyarisanti @ yahoo dot com : 021 93360807
Endah -->endah.wida @ gmail dot com : 085221615514


Salam,
Departemen Penerbitan dan Kepustakaan
Sekolah Kehidupan
Novi Khansa - Ukhti Hazimah - Hamasah Putri - Artarisa

Lomba Menulis: Kisah Seru Di Perpustakaan


.

Lomba Menulis: Kisah Seru Di Perpustakaan

Teman-teman, selama mengenal dunia Perpustakaan & Informasi tentunya punya pengalaman berkesan yang tak terlupakan? Kalau suka menulis, kirim dalam bentuk cerita (yang ada dialognya atau isi hati) yang lucu/kocak/gokil, mengharukan/ sedih, menyebalkan/ memuakkan, membahagiakan, mengagumkan, dsb. Pokoknya yang seru dech!!! Saya akan menyusunnya menjadi kumpulan cerita yang bagus yang settingnya di : Perpustakaan (semua jenis Perpustakaan) . Sebenarnya, gaya penulisan bebas bertanggung jawab sih, asal menarik!

Kisah ini diharapkan kejadian nyata (bukan imajinasi atau khayalan). Tulis dalam bentuk cerpen tapi true story, atau essai yang nonformal dan bikin ngakak atau bikin terbawa perasaan lainnya (kaget/suprprise, dsb.)
Subjek atau objek dalam cerita tidak harus sebagai pustakawan, tetapi juga bisa sebagai pemakai (pengalaman waktu mengunjungi perpustakaan ketika duduk di bangku SD sampai kuliah dst. kalau TK gak usah dulu dech ...)

Ayooo ... kirim sebanyak-banyaknya ya? 5 tulisan yang bagus tentunya akan saya berikan hadiah manis berupa buku best seller, dan karya terbaik akan mendapat hadiah yang lebih OK lagi sebagai penghargaan dari saya! Boleh pakai nama asli atau samaran, yang penting ceritanya keren ... Pokoknya buruan dikirim, jangan sampai ketinggalan & menyesal kemudian lho !!!

Untuk cerita paling keren, orisinil & masuk akal serta kreatif akan diberikan HADIAH UTAMA sebagai berikut :
1. Pemenang I : Rp. 300.000,-
2. Pemenang II : Rp. 250.000,-
3. Pemenang III : Rp. 150.000,-

Ditunggu yaaa ... apresiasinya! Batas akhir s/d Akhir Februari 2009.
Kirim ke alamat e-mail :
hosophos@gmail. com

Cantumkan alamat e-mail & no. HP yang aktif (untuk dihubungi).

- Jumlah halaman : minimal 2 lembar, maksimal 5-6 lembar.
- Font : Times New Roman, spasi 1,5, kertas Quarto/A4.
- Dikirim dengan attachement (file : Microsoft Word)

JANGAN SAMPAI GAK IKUT, APALAGI YANG "FAMILIAR" SAMA PERPUSTAKAAN !!!

Salam Perpustakaan,

Ida Mulyani, S.Hum
(Mantan Pustakawati)

http://robida. multiply. com/journal/ item/41/Lomba_ Menulis_Kisah_ Seru_di_Perpusta kaan_Berhadiah_

Gumati Sentul, 14170109


.

















Juanda, 190109

2009 Bingung, Linglung


.

Niatnya tahun baru menjadi orang yang lebih kreatif ... sayang godaannya banyak banget. Berharap menjadi seorang pengidap insomnia, eehhh malah tidurnya kurang dari jam 9 mulu. Gilanya gue malah menjadi salah satu penikmat sinetron tv. Dan sekarang mau nulis apa juga gue bingung .... Jadilah hasilnya kayak gini linglung ....
Cuma bulan ini ada satu target yang ingin segera dipenuhi ... Oh Bama Campaignnya harus selesai ... Semangat... semangat ... semangat .............

Juanda, 13 Januari 2008

New Year, HappY??!!!


.

Tahun baru, resolusi baru.

Aku terjepit. Napasku sesak minta ampun. Tanganku menggapai apa saja. Tak ada toleransi sedikit pun disini. Kerumunan orang-orang saling mendorong. Tubuh kecilku terhuyung kedepan ke belakang tak tentu arah. Anak-anak menangis. Suara teriakan berseliweran di telinga. Nafsi-nafsi. Hukum rimba berlaku, yang kuatlah yang bertahan. Selainnya tinggal menunggu malaikat maut memanggil. Inikah akhir riwayat hidupku?

Ngeri. Aku bergidik. Ini tragedi. Langit muram menyeramkan. Meluncurkan titik-titik kondensasi yang serupa anak panah mengkocarkacirkan umat dibawahnya. Sungguh buruk. Airmataku meleleh bercampur air hujan yang mengenai wajah pasrahku. Tenggorokanku kering, panas. Jari-jari kasat mata melingkar di leherku. Makin lama makin menekan batang tenggorokku hingga aku tercekat tak bisa bernapas. Tuhan, jangan biarkan aku mati dulu. Masih banyak yang belum aku lakukan. Untuk dunia, umat, orang tua bahkan untuk diriku sendiripun, tak seujung kuku. Setidaknya jangan biarkan aku mati dengan cara seperti ini. Terlalu tragis. Menjadi korban, mayatku terkapar di tengah jalanan beraspal atau membusuk di selokan setelah sebelumnya jatuh terjungkang terdorong lengan-lengan kasar. Esok paginya, di tengah libur nasional, siaran tv tidak saja memberitakan event semalaman menyambut tahun baru tapi juga berita tentangku. Namaku akan berderet di antara nama-nama lain. Bukan sebagai nama pemenang undian sabun colek, tapi sebagai korban sebuah tragedi.

Aku menutup mata. Mencoba berharap ini hanya mimpi. Ketika kelopak mata ini membuka, aku telah berada di tempat tidur hangatku. Bukan di tengah lautan manusia seperti saat ini. Sumpah serapah sebelumnya meluncur dari bibirku. Menyalahkan segalanya yang bisa disalahkan. Menyalahkan Uda, menyalahkan sopir bajaj, hujan, jalanan, langit, pohon, tahun baru, menyalahkan angka 1, menyalahkan angka 2008 serupa angka buatan hantu belawu saja bagiku, menyalahkan deretan patung kuda yang terhampar di tengah persimpangan jalan besar ibu kota ini- patung itu, tiba-tiba terlihat sangat buruk tidak ada nilai seninya, membuang-buang anggaran negara saja. Aku menggerutu. Juga menyalahkan Ungu.

Malam tahun baru. Ini pelajaran penting.

”Besok siang singgah ke rumah ya?” Kuingat uda menyunggingkan senyum terindah waktu itu. Seharusnya aku sudah bisa membaca sebuah pertanda. Setidaknya dari wajah Uda yang kurang lebih mirip Pasha Ungu itu. Uda meminta aku untuk berkunjung ke rumahnya di Sabang, jalan Jaksa, tepat 31 Desember 2007.

Pukul tujuh malam aku pamit pulang dari rumah Uda, menumpang sebuah bajaj. Setelah sebelumnya hampir puluhan abang bajaj menolak mentah-mentah mengantarkan ke arah Senen dengan berbagai alasan. Alhamdulillah, ada satu yang mau.

Dan sekarang aku terjebak. Bajaj yang kutumpangi tak sedikirpun bergerak. Suara mesin nyinyirnya terkeok. Juga terjebak di tengah tumpukan ratusan kendaraan lainnya. Dari atas kulihat ratusan manusia menggantung pada KRL yang melaju. Serupa semut yang menggerayangi tumpukan gula. Dijalanan manusia tumpah ruah. Bergerak kesegala arah. Sayup-sayup terdengar alunan lagu yang liriknya tak asing di telinga. Pasha Ungu. Ada konser mereka di Monas menyambut tahun baru 2008. Orang-orang ini hampir separuhnya adalah calon penonton konser itu. Bergerak ke arah Monas, memenuhi jalanan, melumpuhkannya entah sampai kapan.

Tidak mungkin duduk manis menunggu hingga pagi di tengah macet yang tak ada ujung ini. Apalagi di dalam bajaj yang abangnya tak putus-putusnya menggerutu, menyesal sepenuh hati telah menerima tawaranku sebelumnya. Aku memilih meninggalkan bajaj dan menempuh perjalanan, berbasah-basah di tengah hujan. Penderitaanku belum selesai. Ada ribuan, oh tidak ratusan ribu mungkin jutaan manusia di tengah jalanan ini. Menyelip diantara kendaraan yang tak bernyawa sementara.

Aku menepi hingga ke trotoar. Disinilah puncak penderitaanku. Aku terapit diantara kerumunan manusia. Terdorong-dorong. Berpikir mungkin ini pulalah yang persis dirasakan oleh para penerima zakat di Pasuruan, terdorong, tersungkur, terjerambab, jatuh mencium tanah dan tubuhnya terinjak-injak demi tiga lembar sepuluh ribuan.

Aku berhenti menyumpah-nyumpah. Akan bertambah buruk cerita kematianku, bila diakhir hayatku pun bibirku masih mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Bukankah di setiap doaku aku inginkan mati secara husnul khatimah.


Desember 2008. Tahun Baru, undangan baru ....

”Besok singgah ke rumah ya.” Uda berkacak pinggang membelakangiku. Wajah pasha ungunya luput dari penglihatanku. Tak bisa kubaca pertanda apa ini?

Mungkinkah?!!

Jakarta, 30 Desember 2008

Lelaki tua dan Kucing


.


Di pojok taman itu. Setiap pagi, setiap hari. Lelaki tua dan kucing. Tiga, empat, lima ... eenam, tujuh , tidak sampai sebelas kucing liar. lelaki itu duduk berjongkok, menghampiri satu persatu binatang kesayangan nabi Allah itu. serupa seorang ayah yang sedang membagi jatah roti untuk 10 orang anaknya. Semua harus kebagian, sama rata. Dari yang sulung hingga juru kunci si bungsu putih yang sedari tadi mengeong paling nyaring. Tabiat manja yang umum melekat pada mereka. Mengelus2kan kepalanya ke tungkai kaki lelaki tua itu. Mengiba. Berharap tak cuma sepotong makanan yang didapat tapi juga sebuah elusan tangan keriput lelaki tua itu, tanda sayang.

Seperti simbiosis mutualisma. Mereka saling membutuhkan satu sama lain. Di tengah perangai manusia kota yang kadang tak santun. Mengecilkan arti mereka. Adalah mereka hadir dalam dimensi yang mereka buat sendiri. Komunitas yang terabaikan. Terpinggirkan. Jalanan, kotor, liar, keras, jijik, kumuh. Deret nasib yang sama inilah yang mungkin menyatukan mereka.

Mungkin lelaki tua itu sangat nyaman bertukar cerita dengan 10 kucingnya. Ia sesekali tersenyum bahkan tertawa beberapa detik setelah mendengar eongan si tengah berbulu kuning. Ia paham betul, tabiat dan tingkah polah mereka.

Eeooooooooooooooooong ... eongggggggggggg ... eeeeeeeoooooooonggg ....
Entah dari mana 10 kucing itu berasal
pun lelaki tua itu ...

Eooooooooooooooong ... eeeoooooong ... eeeeoooooong

Pagi ini ... Kawan
Di pojok taman, kulihat lelaki tua itu mengeong.

Juanda, 2 Des 08