Gumati Sentul, 14170109


.

















Juanda, 190109

2009 Bingung, Linglung


.

Niatnya tahun baru menjadi orang yang lebih kreatif ... sayang godaannya banyak banget. Berharap menjadi seorang pengidap insomnia, eehhh malah tidurnya kurang dari jam 9 mulu. Gilanya gue malah menjadi salah satu penikmat sinetron tv. Dan sekarang mau nulis apa juga gue bingung .... Jadilah hasilnya kayak gini linglung ....
Cuma bulan ini ada satu target yang ingin segera dipenuhi ... Oh Bama Campaignnya harus selesai ... Semangat... semangat ... semangat .............

Juanda, 13 Januari 2008

New Year, HappY??!!!


.

Tahun baru, resolusi baru.

Aku terjepit. Napasku sesak minta ampun. Tanganku menggapai apa saja. Tak ada toleransi sedikit pun disini. Kerumunan orang-orang saling mendorong. Tubuh kecilku terhuyung kedepan ke belakang tak tentu arah. Anak-anak menangis. Suara teriakan berseliweran di telinga. Nafsi-nafsi. Hukum rimba berlaku, yang kuatlah yang bertahan. Selainnya tinggal menunggu malaikat maut memanggil. Inikah akhir riwayat hidupku?

Ngeri. Aku bergidik. Ini tragedi. Langit muram menyeramkan. Meluncurkan titik-titik kondensasi yang serupa anak panah mengkocarkacirkan umat dibawahnya. Sungguh buruk. Airmataku meleleh bercampur air hujan yang mengenai wajah pasrahku. Tenggorokanku kering, panas. Jari-jari kasat mata melingkar di leherku. Makin lama makin menekan batang tenggorokku hingga aku tercekat tak bisa bernapas. Tuhan, jangan biarkan aku mati dulu. Masih banyak yang belum aku lakukan. Untuk dunia, umat, orang tua bahkan untuk diriku sendiripun, tak seujung kuku. Setidaknya jangan biarkan aku mati dengan cara seperti ini. Terlalu tragis. Menjadi korban, mayatku terkapar di tengah jalanan beraspal atau membusuk di selokan setelah sebelumnya jatuh terjungkang terdorong lengan-lengan kasar. Esok paginya, di tengah libur nasional, siaran tv tidak saja memberitakan event semalaman menyambut tahun baru tapi juga berita tentangku. Namaku akan berderet di antara nama-nama lain. Bukan sebagai nama pemenang undian sabun colek, tapi sebagai korban sebuah tragedi.

Aku menutup mata. Mencoba berharap ini hanya mimpi. Ketika kelopak mata ini membuka, aku telah berada di tempat tidur hangatku. Bukan di tengah lautan manusia seperti saat ini. Sumpah serapah sebelumnya meluncur dari bibirku. Menyalahkan segalanya yang bisa disalahkan. Menyalahkan Uda, menyalahkan sopir bajaj, hujan, jalanan, langit, pohon, tahun baru, menyalahkan angka 1, menyalahkan angka 2008 serupa angka buatan hantu belawu saja bagiku, menyalahkan deretan patung kuda yang terhampar di tengah persimpangan jalan besar ibu kota ini- patung itu, tiba-tiba terlihat sangat buruk tidak ada nilai seninya, membuang-buang anggaran negara saja. Aku menggerutu. Juga menyalahkan Ungu.

Malam tahun baru. Ini pelajaran penting.

”Besok siang singgah ke rumah ya?” Kuingat uda menyunggingkan senyum terindah waktu itu. Seharusnya aku sudah bisa membaca sebuah pertanda. Setidaknya dari wajah Uda yang kurang lebih mirip Pasha Ungu itu. Uda meminta aku untuk berkunjung ke rumahnya di Sabang, jalan Jaksa, tepat 31 Desember 2007.

Pukul tujuh malam aku pamit pulang dari rumah Uda, menumpang sebuah bajaj. Setelah sebelumnya hampir puluhan abang bajaj menolak mentah-mentah mengantarkan ke arah Senen dengan berbagai alasan. Alhamdulillah, ada satu yang mau.

Dan sekarang aku terjebak. Bajaj yang kutumpangi tak sedikirpun bergerak. Suara mesin nyinyirnya terkeok. Juga terjebak di tengah tumpukan ratusan kendaraan lainnya. Dari atas kulihat ratusan manusia menggantung pada KRL yang melaju. Serupa semut yang menggerayangi tumpukan gula. Dijalanan manusia tumpah ruah. Bergerak kesegala arah. Sayup-sayup terdengar alunan lagu yang liriknya tak asing di telinga. Pasha Ungu. Ada konser mereka di Monas menyambut tahun baru 2008. Orang-orang ini hampir separuhnya adalah calon penonton konser itu. Bergerak ke arah Monas, memenuhi jalanan, melumpuhkannya entah sampai kapan.

Tidak mungkin duduk manis menunggu hingga pagi di tengah macet yang tak ada ujung ini. Apalagi di dalam bajaj yang abangnya tak putus-putusnya menggerutu, menyesal sepenuh hati telah menerima tawaranku sebelumnya. Aku memilih meninggalkan bajaj dan menempuh perjalanan, berbasah-basah di tengah hujan. Penderitaanku belum selesai. Ada ribuan, oh tidak ratusan ribu mungkin jutaan manusia di tengah jalanan ini. Menyelip diantara kendaraan yang tak bernyawa sementara.

Aku menepi hingga ke trotoar. Disinilah puncak penderitaanku. Aku terapit diantara kerumunan manusia. Terdorong-dorong. Berpikir mungkin ini pulalah yang persis dirasakan oleh para penerima zakat di Pasuruan, terdorong, tersungkur, terjerambab, jatuh mencium tanah dan tubuhnya terinjak-injak demi tiga lembar sepuluh ribuan.

Aku berhenti menyumpah-nyumpah. Akan bertambah buruk cerita kematianku, bila diakhir hayatku pun bibirku masih mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Bukankah di setiap doaku aku inginkan mati secara husnul khatimah.


Desember 2008. Tahun Baru, undangan baru ....

”Besok singgah ke rumah ya.” Uda berkacak pinggang membelakangiku. Wajah pasha ungunya luput dari penglihatanku. Tak bisa kubaca pertanda apa ini?

Mungkinkah?!!

Jakarta, 30 Desember 2008

Lelaki tua dan Kucing


.


Di pojok taman itu. Setiap pagi, setiap hari. Lelaki tua dan kucing. Tiga, empat, lima ... eenam, tujuh , tidak sampai sebelas kucing liar. lelaki itu duduk berjongkok, menghampiri satu persatu binatang kesayangan nabi Allah itu. serupa seorang ayah yang sedang membagi jatah roti untuk 10 orang anaknya. Semua harus kebagian, sama rata. Dari yang sulung hingga juru kunci si bungsu putih yang sedari tadi mengeong paling nyaring. Tabiat manja yang umum melekat pada mereka. Mengelus2kan kepalanya ke tungkai kaki lelaki tua itu. Mengiba. Berharap tak cuma sepotong makanan yang didapat tapi juga sebuah elusan tangan keriput lelaki tua itu, tanda sayang.

Seperti simbiosis mutualisma. Mereka saling membutuhkan satu sama lain. Di tengah perangai manusia kota yang kadang tak santun. Mengecilkan arti mereka. Adalah mereka hadir dalam dimensi yang mereka buat sendiri. Komunitas yang terabaikan. Terpinggirkan. Jalanan, kotor, liar, keras, jijik, kumuh. Deret nasib yang sama inilah yang mungkin menyatukan mereka.

Mungkin lelaki tua itu sangat nyaman bertukar cerita dengan 10 kucingnya. Ia sesekali tersenyum bahkan tertawa beberapa detik setelah mendengar eongan si tengah berbulu kuning. Ia paham betul, tabiat dan tingkah polah mereka.

Eeooooooooooooooooong ... eongggggggggggg ... eeeeeeeoooooooonggg ....
Entah dari mana 10 kucing itu berasal
pun lelaki tua itu ...

Eooooooooooooooong ... eeeoooooong ... eeeeoooooong

Pagi ini ... Kawan
Di pojok taman, kulihat lelaki tua itu mengeong.

Juanda, 2 Des 08

Maryamah Karpov (Ending yang mengecewakan!!!)


.

Dua hari yang lalu, buku itu masih terbungkus rapi dalam balutan plastik tipis. Kutatap lama. Kutimbang2, tak jauh beda ketebalannya dengan kakak sulungnya Laskar Pelangi. Rasa penasaran tentu saja berdenyut2 di otakku. Bagaimana ending dari perjalanan panjang kisah seorang Ikal. Sampul depan tetap konsisten memampang gambar seorang gadis yang sedang memegang sebuah biola. Ada tambahan kata2 dibuku itu. Tak cuma Maryamah Karpov. Ada deret kata baru yang dibubuhkan dibawahnya. Mimpi2 LIntang. Terdengar cukup menarik buatku. Setelah cukup lama, dari dua buku sebelumnnya (sang pemimpi dan edensor) tokoh yang bernama LIntang absen. Dan kali ini malah namanya nyata2 diukir dibawah judul buku terakhir ini. Aku berpikir awam, di buku ini Lintang akan kembali dikupas tuntas.

Ternyata persepsi awamku salah besar. Hampir separuh buku telah ku baca. Sayang tokoh lintang masih belum kutemukan. Aku seperti seorang pendatang baru di tanah asing yang menumpang sebuah bis dan diajak berkeliling2 tanpa tahu sebenarnya kemana tujuan akhirnya. Sebentar kemudian aku mulai menemukan tokoh Arai. Sayang ia hanya muncul sebentar. Aku merasa tokoh arai mati dalam buku ini. Seakan numpang lewat saja. Menutup kisah arai dengan mendepaknya keluar dari area cerita. Memaku tokoh ini hingga tak bergerak leluasa. Aku tidak menemukan semangat seorang simpai keramat disana.

Penulis lebih banyak bercerita pada hal yang terkadang tidak terlalu penting. Penat mata ini. Akhirnnya tokoh2 dalam Laskar Pelangi hadir. Tidak ada yang surprise bagiku. Semua datar2 saja. Hingga tokoh Aling yang selama ini dicari ditemukan.

Dan tibalah pada endingnya, inilah yang paling menyesakkan dan membuat aku kecewa. Ikal memilih Aling sebagai sebuah pilihan hidup selanjutnya, dibandingkan mengikuti keinginan ayahnya. Bukankah penulis sering menggaungkan kalau, ayahnya adalah ayah juara satu di dunia. Dan bukankah ini adalah sebuah memoar. Rasanya pembaca akan sangat mengerti sekali bila cinta ikal dan aling memang tak pernah bisa bersatu. Wallahualam... Semua kembali kepada penulis yang punya hak sepenuhnya atas tulisannya.


Juanda, 1 Des 2008

Aktor Korea Versi Kenez


.

Anyong ha seo ....
Aktor korea terkeren versi Kenez. Jeng ... jeng .. jreeeeeeeeeeenggggg. Penting ga sich? Tanya kenapa?

Empat aktor terkeren :
4. Kim Jae Won. Mainnya oke banget dalam romance bersama Kim ha Neul. Kocak, romantis dan juga sediiiiih banget .... Punya gelar Mr. killing smile. Senyumnya boooo ... Mama mia ???!!!!


3. Jang Dong Gun. Actingnya keren abis di All About eve bersama Chae Rim. Pernah dinobatkan sebagai aktor pemilik bibir terseksi di Korea sana. Menurut gue tidak cuma bibir, tatapan matanya juga booo ... Menohok ... heheheh


2. Kwan Sang Woo. Weleh2 kalau yang ini aktingnya main dimana aja tetap keren. Benar2 totalitas. Mau romantis yang sedih, ayuuuh. Mau kocak juga okeh. Siiip lah pokoke. Dan yang paling menyihir gue adalah matanya. Walahhhh, ga nahan .... tu ... tu ... tu ... iyakan? Iya dong. Tul kan? Tul dong ....



Dan akhiirnya yang menempati posisi pertama adalah ......
1. Bae Yong Jun. Bermain apik ... pik ... pik. Luar biasa terutama di serial Winter Sonata. Sampai sekarang lom ada tandingannya. Walau udah mulai tuir tapi yang muda2 masih lom bisa menggeser posisinya di hatiku .... hehehhe. Sarangeoooo, uppa .....
Bagi yang ga sepaham gpp. Toh ini cuma versi Kenez kok. Suka2nya gue aja milih ... Menurut mu?!!!

Juanda, 24 Nov 08

Janji Joni (bukan Jini .... hik3)


.

Adakah janji seperti janji milik Joni? Seorang pengantar roll film dari satu bioskop ke bioskop lain dalam waktu yang relatif singkat. Before time not on time, sebuah konsekuensi dan tanggung jawab besar yang harus dipikulnya. Melenceng sedikit, seluruhnya bisa kacau. Untunglah ia adalah Joni, peran yang dimainkan oleh Nicholas Saputra. Bukan Toni, Jeni apalagi Jini (kalau yang ini perlu mediasi paranormal). Kenapa untung Joni? Karena Joni tak pernah ingkar janji (serupa merpati saja ... hehehhe). Janji Joni adalah sebuah judul film besutan anak negeri. Jujur aku sendiri belum pernah sama sekali menontonnya. Ada interest tersendiri dari film ini. Kata "Janji Joni". Wondering?! Apakah Joni seorang yang menepati atau malah ingkar janji. Simple sekali idenya. Namun cukup menggelitik saya. Tanya kenapa?

Siang bolong di Atrium Senen
Seorang wanita paruh baya duduk pewe' di sebuah kolam kecil melingkar di depan pintu masuk. Lidahnya menjilat-jilat ice cream choco top. Sangat konsentrasi. Gerakannya pun teratur dari atas kebawah. Tak ubahnya seperti jilatan anjing saat membasuh bulu2nya. Disampingnya tak jauh beda, seorang wanita paruh baya yang umurnya kutaksir sebaya. Ia lebih memilih ice cream cone, tentunya dengan harga yang lebih murah karena tanpa lumuran coklat. Memang tidak ada yang istimewa dengan 2 wanita paruh baya tsb. Tapi perbincangan diantara keduanya membuat aku tergoda untuk menguping (gubrak ...)

"Gimana nich, gue dah iya in lagi. Rencananya nanti sore dek Wahyu bakal datang ke rumah." Wanita penjilat ice cream choco top mengerutkan keningnya. Matanya masih tak lepas dari gunungan es krim yang mulai lumer. Kembali asyik menjilat dengan gerakan yang sedikit berbeda. Maju mundur.

"Gampanglah itu. Cari alasan aja, beres kan?! Emmmh ... bilang aja lo ga' bisa pergi bareng dia karena harus pergi melawat, ada kerabat yang meninggal keeeee .... " Ice cream putih di tangan wanita paruh baya kedua itu sudah tampak seperti daratan. Rata. Meninggalkan dua tiga kali jilatan lagi. Setelah itu tamatlah riwayatnya. Hanya batangan kerucut serupa corong minyak yang tersisa. Lumayanlah masih ada yang bisa digigit.

"Kemana?"Kali ini wanita paruh baya pertama memalingkan kepalanya ke kawan disampingnya itu.

"Ke Bogor. Biar jauhan dikit. Jadi pulangnya lama. Trus mau ga mau janjinya dibatalin. Gitu ..." Saran wanita paruh baya ke dua.

"Bogor? Aku kan ga punya kerabat disana."

"Ya udah Tangerang ..." Pilihan tepat untuk tempat2 yang nun jauh dari Jakarta. Kenapa tidak sekalian aja bilang ke LOndon aja ya, pikirku biar jauhan dikit.

"Pinteerrrr, tar gue telp dulu. Gue mau bilang wahyu klo janjinya dibatalin aja karena harus ngelawat ke Tangerang ... hehhehe ..."

Congrat ... Sebuah janji telah diingkari. Sebegitu mudah, enteng sekali. Hanya dengan menyulapnya dengan embel2 alasan yang dibuat2. Mungkin wanita itu perlu berkaca pada Joni. Betapa ia memegang kata-kata yang pernah diucapkannya. Janji adalah hutang. Mungkin karena Joni selalu menepati janjinya maka ia difilmkan. Sayang, coba kalau wanita paruh baya penikmat ice cream choco top itu memegang teguh janjinya. Mungkin kisah hidupnya sudah difilmkan ... Miris

Juanda, 21 Nov 08