Mas Dafi dotkom


.

"Mas Dafi ... mas Dafi, ada? Apa masih belum masuk?" Wanita itu celingak celinguk. Ia bertanya, suaranya nyaring, cara bicaranya cepat-cepat seperti orang buru-buru ingin buang hajat. Tak ada jawaban, padahal tak mungkin tidak seorang pun yang tak mendengar. Kami pura-pura tuli. Kompak untuk satu ini. Yayi menyikutkan lengannya. Aku memandingi ia yang mulai bertingkah. "Mas Dafi ... Mas Dafiiiiii." Godanya setengah berbisik. Aku menahan geli. Geli untuk dua kata ini, Mas Dafi.

satu minggu yang lalu. "Mas Dafi, bisa kan ngerjainnnya? Bisalah, pasti Mas Dafi mengerti, orang Mas Dafi kerjanya juga di Bank. Studi2 macam ini sudah makanan sehari2 bukan?" Seru wanita itu, masih tetap dengan nada cepat2 dan penuh percaya diri. Yayi menyenggolkan lengannya. Ia memperlihatkan kesepuluh jarinya. Sembari tertawa geli. Aku paham betul, angka 10 itu pastilah hitungan dua kata "Mas Dafi" yang sudah berkali2 keluar dari bibir wanita setengah baya di depan kami ini.

Mas Dafi, siapa yang tidak mengenalnya. Paling tidak untuk kelas ini saja. Yang penting terkenal, ceritanya. Di zaman yang katanya edan ini, popularitas sedikit menolong bagi siapa saja. Katanya, mau jadi bupati atau walikota saja harus gandeng artis buat jadi wakilnya. Setidaknya bisa membantu, karena artis banyak dikenal. Hitungannya biaya bisa sedikit lebih ditekan. Cerdik kan. Artis apa saja, yang penting populer. Nah, begitu pula dengan Mas Dafi. Disebut berkali2 diruang kelas ini cukuplah membuat kami terhipnotis.

Voluntir menjawab soal, Mas Dafi. Mahasiswa dengan nilai tertinggi, Mas Dafi. Ketua kelas, Mas Dafi. Potokopi, Mas Dafi. Hapus papan tulis, Mas Dafi. Menenteng laptop, Mas Dafi. Penerangan di kelas bermasalah, Mas Dafi. Ac tewas, Mas Dafi. Ada yang pilek, sesak napas, muntah2, mual, tetap nama Mas Dafi yang disebut. Entah apa korelasinya. Hingga lantai kotor, bangku peyot, gedung amblas, Mas Dafi ada disitu. Mungkin itulah akibat asupan kata yang berlebihan hingga siswa tidak bisa membedakan Mas dafi sebagai mahasiswa atau kacung. Kasihan.

"Kita itu ngeblur kali yah. Ga nyata. Kok yang dipanggil Mas Dafi terus. Payah." yayi bersungut2. Aku ikut. Mas Dafi bukan segala2nya toh?! Peristiwa2 besar seperti gempa, tsunami, tornado, tak ada kaitannya dengan namanya mAs Dafi. Cukup saja di ruangan kelas ini. Karena prestasinya dan bentuk fisik yang diatas rata2, ia menjadi terkenal.

"Nanti kesimpulannya Mas Dafi yang buat ...."
"Ini periodenya harus dikali dengan rasio yang ada, begitu yah mas Dafi yah."

Kondisinya ruangan kelas penuh oleh puluhan mahasiswa. Tapi cuma Mas Dafi yang tidak absen dimata dosen kami itu.

"MAs .... Mas .... MAs Dafiiiiiii. Jangan pergiiiiiiiii, Mas Dafiiiiiii ........ Mas dafi, jangan tinggalin yayi sendiri ...... Mas Dafiiiiiiiiiiiiii." Yayi bergumam, bibirnya mencong kanan kiri. Kelopak matanya masih menutup rapat, dengan bola mata yang liar bergerak. Tangan terangkat seperti deklamator berorasi. Sungguh hebat, Mas Dafi terbawa hingga ke dalam mimpi.

Kupandangi Yayi lekat. Komat-kamit kuberkonsntrasi penuh. Memanjatkan doa sekhusuk2nya. Aku menyapu wajahku yang sudah merona merah lada. Malu bukan main. Kuinsut tubuhku diam2 membelah kerumunan penumpang. Aku kabur, meninggalkan Yayi yang terbengong2. Sebait doa kupersembahkan untuk Yayi yang malang.

"Tuhanku, tolong lindungi yayi. Cukupkanlah Mas Dafi hanya tenar di kelas kami, jangan juga dikereta ekonomi ini. Amiiiin"


Juanda, 21 Des 2010