Rabu, 04 November 2009

Negeri Para Bedebah

Karya Adhie Massardi*

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan


Oktober-November 2009
*) Adhie Massardi adalah mantan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Kamis, 29 Oktober 2009

Bukan Drama Asia !!!

Jeju island terlihat cerah. Matahari bersinar terik, tapi tak menyengat. Semuanya tampak nyaman dan hangat. Saat ini Seoul musim semi. Bunga sakura warisan Nipon tumbuh sehat di pinggiran jalan, menambah keromanisan negeri ini.


"Ji woo .... "

" Ya ..."

" Ji woo ... "

" Ya ..."

" Chou Ji woo."

"Emmmh ... we? Kenapa? "
" Tidak, aku hanya ingin mencoba mengingat namamu."

Gadis bernama Ji woo itu tersenyum. Disampingnya, seorang lelaki muda. Sama dengan JI woo, masih terbalut dalam seragam sekolah berwarna gelap. Memang tak seharusnya mereka disini. Tunggu sajalah esok, sebuah hukuman telah disiapkan oleh Tuan Muka Penuh bagi mereka berdua.

"Ji woo suka salju. Karena ia akan mencicipi butiran salju itu seperti ice cream. Emm."

Gadis itu tersipu. Ia menutup bibirnya dengan kedua telapak tangannya. Bola matanya berputar-putar jenaka. Lembutnya salju seakan terasa nyata dibibirnya saat ini. Tiba-tiba ia merindukan musim dingin.

"Ji woo tak suka Soju. Karena ia bukan gadis pemabuk yang menyebalkan."

Ji Woo, gadis muda itu. Bibirnya mengerucut, kedua pipinya mengembung. alis matanya menukik naik. Wajah yang jenaka. Membuat semua orang yang melihat akan tertawa terpingkal-pingkal. JI woo dengan satu gelas Soju, mabuk, sangat buruk sekali.

"Ji woo menyukai warna putih, karena putih adalah salju. Tapi entah kenapa ia selalu memakai sarung tangan musim dingin berwarna pink."
Gadis muda itu susah payah menahan tawa. Tampaknya lelaki disampingnya itu tak sembarang, ia tahu segala hal tentangnya. Tak perlulah ia menyesali tindakannya untuk kabur saat jam pelajaran sekolah masih berlangsung. Ikut bersama lelaki muda itu. Lihatlah dimana ia saat ini, Jeju Island, surga terindah yang pernah ada.

"Ji woo, suka melukis wajah. Karena ia ingin selalu mengingat setiap orang. "

Gadis muda itu terdiam. Wajahnya datar tak terbaca.

"Ji woo, adalah penipu. Karena ia selalu menutupi kesedihannya dengan menangis dibelakang tembok sekolah."

Gadis muda itu mengalihkan pandangannya ke arah lelaki muda itu. Sebentar. Ia kemudia tertunduk. Diam. Hanya helaan napasnya saja yang terdengar.

”Ji Woo, aku akan selalu mengingat namamu, 10, 20, 100 tahun hingga di kehidupan yang akan datang sekalipun.”

Tanah Basah. Negeri para peri bersayap tipis. Sibaklah kelopak mawar maka kau akan temukan makhluk mungil nan rancak itu terlelap disana. Negeri para kurcaci. pagi dan petang melantunkan mars penyemangat. Yeho ... yeho ... yeho ...

Bersambung ...

Minggu, 18 Oktober 2009

PERTAMA (JIlid atu)

Ngomongin yang pertama ga bakalan ada habis-habisnya. BAyangin aja, dari kita kecil ampe dewasa, ribuan bahkan jutaan hal-hal yang berbau pertama *bukanpertamax...* selalu ada. Namanya juga kehidupan. Ga mungkin kan kita mengenal, tahu, ngerti atau pun mengalami sesuatu tanpa disertai kata “untuk pertama kalinya”. Misalnya nih, ulang tahun pertama, pacar pertama, cinta pertama, malam pertama ... ups kebablasan.

Eiiiiiiiiit ... tapi jangan pernah anggap enteng ya segala hal yang bernama Pertama. Kenapa? Ya pasti karena dia bukan yang kedua, ketiga atau keseratus. Trus? Emmm, pertama itu spesial, bukan karena ia terbuat dari campuran telur, tepung, irisan daging, bawang, wortel. Bukan martabak!!! Tapi segala sesuatu yang pertama akan selalu terekam kuat dalam memori otak kita. Tul kan, tul dong???

TING TING DUL .... penting-penting jadul ato boleh juga Things jadul (kerennya). Apa tuuuuh?He. Ini adalah benda2 atau barang2 yang menurut gue memenuhi kriteria untuk disebut pertama.


1. The blue one

Ini adalah buku raport pertama gue, Raport SD. Bangga buka main, karena inilah buku resmi pertama gue yang diakui oleh Negara. Negara loh, ga main-main kan? Berarti buku ini juga diakui oleh lingkup kepresidenan dan mentri2nya pada waktu itu.

2. Poto apa voto?


Ini adalah poto hitam putih gue yang pertama kalinya dibuat diatas bumi ini. Poto ini ditempel di buku raport SD gue dan disampingnya tertera nama gue juga untuk pertama kalinya, SALAH ejaan. Hurup V pada nama gue berganti P. Ga ava2, karena gue yakin 100% guru gue ga suka PITNAH. Ups satu lagi, PUTRI nama belakang gue ditulis PUTRA. Hehehe. Orang tidak akan jatuh pada lubang yang sama kan. gue yakin guru gue bukan tukang gali sumur. Makanya ia ga salah. Sayangnya guru gue lupa, mengganti nama gue menjadi nama laki-laki sama aja nantangin Fir’aun. Makanya gue hapus kaki A kedua menjadi I.


3. Motivator



Sebelum adanya Mario Teguh, I Gede Prama, AA Gym,

mamah dedeh, gue udah punya motivator sendiri. Lihat dibuku raport ini. Inilah kata2 motivasi pertama kalinya yang gue terima dari seseorang yang juga bukan sembarang. Guru gue. Tepatnya guru pertama gue. Guru yang mengajarkan gue apa itu huruf dan angka. Hingga dari huruf dan angka itu gue mengenal dunia. Terimakasih yang tak terhinggaku untukmu ibu Ros.

Dan disana juga tertera tandatangan beliau untuk pertama kalinya. Plus tanda tangan bapakku tercinta.


4. Jube.


Bukan Jupe ya sekali lagi bukan. Jube adalah komputer pertama gue. Gue beli dari hasil keringat gue sendiri, bau dong beli pake keringat? Duit sendiri, maksudnya. Nama aslinya sih Zubaidah, Siti Zubaidah binti Marjuki. Tapi biar keren gue panggil Jube. Laporan sampai saat ini baru rusak satu kali. Tapi udah ok, kecuali speakernya yang udah tewas. Jadiiiii ... Klo mau nonton DVD pake bahasa tubuh eh musti liat gerak mulut sama gerak tubuhnya. Capek!


5. Sauqi


Ni bocah adalah ponakan pertama gue. Sekarang udah 12 tahun, SMP tepatnya. Adanya dia di dunia ini membuat status gue naik level menjadi tante2. TANMUD. Tante imut.Weiiiks. Kabarnya Sauqi adalah nama seorang penyair islam dari Arab sana. Tapi panggilannya Ido. Tanya kenapa? Ya karena itu nama belakangnya. Walaupun tidak menjadi penyair, setidaknya suatu hari nanti gue berharap ia bisa menjadi orang besar. “Do, mau jadi apa ?” SPIDERMAN itu jawabnya lima tahun yang lalu.


6. Eitoku Case















Ini adalah tulisan pertama gue yang dimuat di majalah. Teens tepatnya. Happy sich, sampai gue ga tau lagi harus ngomong apa2 lagi. Speechless.


7. Klo ada duit kuganti.


Jeng jreeeeng, benda ting ting dul terakhir yang gue cantumin buat PERTAMA jilid satu ini *Lagi musim jilid2an sekarang* adalah laptop .... Hehehe, engga dong, orang gambarnya jelas gitu masak dibilang laptop? Yap TELEPON RUMAH. Gaban Ring-Ring, namanya. Karena bagi gue ukurannya cukup besar dan berat banget buat ngangkatnya klo bunyi. Berat bukan karena gagangnya 1 ton. Tapi keberatan pantat. hehehe, alias Malas.

Coba tebak oi oi siapa dia???

Telepon pertama dirumah ya?Bukan! Atau ditelp ini Dude Harlino pernah masuk karena salah sambung untuk pertama kalinya? Bukan!!! Atau ini telp pertama yang berhasil nembus quiz di tv ya? Engga laaah!!!! Atau ini telp pertama yang dibuat Graham Bell? Bukaaaaaaaaan!!!

Gue mau buat pengakuan dosa. Gaban Ring-Ring adalah telepon rumah pertama gue yang pernah mengalami KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Wahhh serius nig kasus. Sekarat di TKP. Lebam2. Identifikasi polisi menyebutkan, berdasarkan hasil visum keadaan Gaban Ring2 cukup parah.

Gaban Ring2 adalah telepon pertama yang gue banting sampai gagangnya rusak. Gue menyesal. Tulus dari dalam hati. Walaupun ia tak sepenuhnya gugur, bisa terima telp masuk tapi tak bisa dipakai untuk menelepon keluar, gue merasa berdosa. ia seperti seorang yg cacat. Satu pelajaran penting yang bisa gue ambil. Jangan memperturutkan emosi dan kemarahan. karena semua akan akan si2 ketika sadar itu datang.

Walau suatu hari nanti gue punya uang dan membeli yang baru menggantikan Gaban Ring2, tapi tak akan bisa menghapus kesalahan gue. Sorry Gaban Ring2, sorry Graham Bell ....


Ting Ting Dul Jilid satu nya sekian dulu ya. Tar klo ada rejeki, umur, jodoh dan waktu disambung lagi deh. Klo kamu juga punya sesuatu yang berbau pertama boleh dishare juga. Dadaaaaaaa, CILUKBAAAAAAA ...

Selasa, 08 September 2009

Sadis

Hanya padanya kugadaikan sumpahku. Tidak untuk Banih, Mantik apalagi Lani.

Gadis hitam manis. Lani, sejak kutahu ia telah terpilih, ia berwajah sehat walafiat. Steril dari kuman. Senyum mengembang dipipi tembemnya. Dulu ia bukan siapa-siapa, tak hidup, hanya berbayang, yang kadang terasa ada dan membuatmu menengok cukup sekali kebelakang. Tak penasaran sepenuhnya.
Bukan karena aku membenci atau iri padanya. Saat ini wajah bulat melonnya sepenuh pandang. Mengganggu bukan main.
Berkali-kali aku berpikir dan sebuah pertanyaan besar memenuhi otak kecilku. Tak pernah terjawab. Betah bersemayam hingga kini. Mengapa wanita ini hadir dalam perjalanan hidupku? Durasi pelakonannya hanya sekian detik namun aku merasa perannya tak bisa dianggap remeh. Bahkan bisa saja ialah penjahat sesungguhnya.

Mantik lain lagi. Perannya lebih halus. Ia mengenalku dengan sedikit kepentingan. Lumayan, transparan tak terlalu menyakitkan. Mengingatnya aku seolah menjelma menjadi seorang tua yang bijak bestari. Duduk tepekur menunggu antri sungkeman anak menantu yang minta doa restu. Khidmat mendengar petuahku seolah ia adalah pemuda yang telah penuh ilmunya dan siap turun gunung. Baginya aku adalah tetua, penuh pengalaman, sakti, petuahku adalah mantra pembasmi kutukan, dalilku adalah undang-undang. Mungkin seperti itu, kaliii!!!!
Mantik adalah rat-rata.

Dan Banih. Ia adalah seingatku saja. Tak banyak yang kutahu dan ingin kuketahui tentang dia. Rambutnya pirang, kuning seperti rambut jagung. Kulitnya juga kuning. Ia suka sekali menggunakan asesoris berwarna kuning. Anting kuning, gelang kuning, sepatu kuning, tas kuning. Giginya sedikit menguning, bukan karena terkena lunturan dari asesoris yang dipakainya, tentunya. Sepertinya di masa kecilnya ia adalah seorang yang penyakitan. Terpaksa meneguk antibiotik demi melanjutkan hidup.
Ia tipe-tipe pesolek. Aku yakin ia bukanlah sebuah ancaman besar. Hanya kameo.

KAy ... Kurang lebihnya, ialah pemangku sumpah itu. Banih, Mantik dan Lani bukan apa-apa. Kay, Ia mengenalku baik sekali.
Gadis ini luar biasa baik sekali. Setidaknya bagiku. Karena satu perihal yang inginku kabarkan padamu kawan ...

Dengan sadarku, aku adalah Mantik, atau Banih atau juga Lani bagi Kay .... Sadis


Juanda, 00092009

Kamis, 18 Juni 2009

I Have a dream

Mimpi adalah kunci, bagi kita menaklukan dunia ... Berlarilah .... nanananananna ....
Ini mah lirik lagunya Nidji Laskar Pelangi, tentang mimpi di dunia nyata. Tapiiii, kali ini gue mau cerita tentang mimpi di duniaaaaa ... apa ya ? Dunia maya bukan ... dunia akhirat juga bukan ... dunia dalam berita apalagi tambah deh ngaconya, apa dunia dani ya (Biar ada pasangan buat mayanya ... hehehe).
Nih gue mau cerita macam ragam mimpi gue, buat perbandingan aja buat yang baca. Apakah mimpi-mimpi kita itu temanya hampir sama alias ga jauh beda. Baik itu settinganny, jalan ceritanya, watak tokoh2nya maupun endingnya.... gubrak!!! Dah kayak mau bikin film aja ... sekalian aja budgetnya berapa ... hehehe
1. Mimpi terbang, inilah mimpi yang sering banget menghampiri gue di tengah malah (yakin banget ngimpinya jam 12 teng). Prosentasenya hampir mencapai 50 s/d 60% dari total mimpi2 gue. Setiap gue mimpi terbang, jangan kalian membayangkan gue terbang kayak superman. Gue cuma ngambang gitu di udara. Semakin tinggi ... tinggi ... dan enakbanget rasanya. Badan gue ringan seperti bumi kehilangan gravitasi.
2. Mimpi telat, nah mimpi kayak gini rata-rata 20 s/d 30%. Mimpinya gue telat kesekolah padahal bentar lagi ada ujian, dan gue telat karena hal sepele KEHILANGAN KAUS KAKI. Telat apalagi ya? Telat datang bulan ... wah ini sich engga dong. Emmm, telat kesekolah doang deh kayaknya. Kalo mimpi telat ke kantor dan gue krasak krusuk sih ga pernah tuh mimpinya. Mungkin karena gue sering telat di kehidupan nyata makanya proposalnya ga diusulin buat gue impiin malamnya ... wekekeke
3. Mimpi gelap, nah ini juga pernah. Biasanya dalam mimpinya gue pulang kemalaman dari suatu tempat. Gue lewatin jalanan yang gelaaap banget. Kadang gue lari .... takuuuut banget soalnya ga ada yang bisa dilihat. Prosentasenya 5 s/d 10%
4. Mimpi dikejar2 penjahat. Nah ini jarang sih, biasanya gue mimpi kayak gini karena kecapekan atau lagi ga enak badan. Dalam mimpi gue berantem tuh sama penjahatnya, kayak gue jagoan benaran ... karate, kungfu, silat, taekwondo dkk gue pake tuh buat menghajar penjahatnya. Alhasil bangun2 badan gue rontok, kayak habis digebukin orang sekampung. Ngilu2 Prosentasenya 3 s/d 8% dech
5. Mimpi lihat langit. Langit disini yang gue mimpiin bermacam ragam, maksudnya gue pernah mimpi lihat langit bolong trus terjadi hujan meteor dari angkasa luar sana. Trus gue mimpi di langit itu ada gambar2, kayak tulisan2 arab, letusan kembang api ... pokoknya indah banget deh
Klo kakak gue pernah mimpi lihat makhluk mengerikan yang keluar dari atas langit ... Nah mimpi kayak gini biasanya cuma 3 s/d 8% juga.
6. Mimpi setan atau hantu. Wah yang ini jarang banget. Mungkin karena gue rajin doa sebelum tidur kali ya ....
7. Mimpi dikejar orang gila, ini juga jarang. Mana ada orang gila dikejar orang gila ... loh?!!!!!
8. Mimpi jalan-jalan, jarang juga nih ... Kalau bisa mimpi jalan2 gue pengen jalan2 ke jepang, korsel, swiss, mekah, medinah ... keliling dunia. Berapa kali mimpi dong ya kalau kayak gitu? Trus budgetnya ????
9. Mimpi sama kekasih hati ..... Emmmmm ??? Ada ga ya? Emmmmmm ada sih ... Tapi kalian jangan mikir yang aneh2 dulu. Yang pasti mimpinya lulus sensor kok, jadi dijamin halal ups ga neko2 loh ... suerrrr dah

Sebagian besar 9 ini deh yang sering gue mimpiin... Walaupun sebenarnya masih banyak kali ya. Cuma ga ingat kali . Soalnya yang pernah gue baca kalau manusia itu ketika bangun hanya bisa mengingat 50% mimpinya, bahkan 5 menit setelah itu ia akan banyak lupa dengan mimpinya sehingga hanya mengingat potongan2 kecil saja dari mimpinya.
Nah, bagaimana dengan kalian? Apa rata2 sama ga ya?


Juanda, 19062009

Kamis, 28 Mei 2009

Once In a Live Time (Ga lagi-lagi dech!!!)

“Ih mba, satpam aja ga ada yang berani patroli malam-malam ke tempat itu.” Wajah lelaki muda sedikit menegang. Mencoba meyakinkan. Tak usah susah payah dia berargumen , aku juga percaya. Apalagi dilihat dari wajah lelaki muda itu, sepertinya ia sudah ditakdirkan untuk selalu berkata benar, menjunjung tinggi dasar Negara, berKTP dan tak akan terlibat tindak pidana apapun. Paling parah yang pernah diperbuatnya mungkin hanya kentut diam-diam dan tidak mengaku setelah penciuman sekitarnya terpolusi. Wajahnya, gurat yang gampang sekali untuk dibaca. Wajah orang Indonesia pada umumnya, a man in the street, you know!

“Syukurlah, tapi ga lagi-lagi dech.” Aku terengah-engah. Jari jemariku masih terasa gemetar dan memang gemetar. Kejadian yang baru aku alami adalah sebuah takdir buruk. Bila mengambil perbandingan maka akan muncul angka 1 berbanding 100. Karena ini memang langka terjadi di dunia. Ketika bola golf terlempar di tengah padang yang luas, dan ”puuuk” bola kecil itu mengenai jidat nong nongmu. Bukankah itu sebuah kesialan? Kenapa harus jidatmu, masih banyak tempat lain tempat bola itu mendarat, bukan? Pohonkah, tanahkah, batukah atau terlempar jauh ke angkasa luar sanakah. Seperti itulah perumpamaannya. Tiga hal saja yang mungkin bisa menjadi penyebab utama kesialan ini terjadi padaku. Pertama, faktor kurang inteleknya aku sebagai korban, lebih jelasnya kebodohan atau ketololanku sendiri, internal problem, you know! Faktor kedua adalah karma. Aku percaya karma. Simplenya kalau kau berbuat jahat cepat atau lambat kau akan terkena ganjarannya juga. Mungkin dosa di masa lampau dibalas dengan ini. Seperti suatu waktu aku telah berlaku jahat karena berghibah. Hasilnya batang hidungku hampir patah karena menyenggol tiang palang kereta. Itulah peringatan dibalik karma.

Faktor ketiga datang dari luar, lingkungan. Yup, bisa keisengan seseorang atau keisengan makhluk kasat mata. Xixixixixixi. Iam not kidding, you know.

Hari itu, 28 Mei 2009 untuk pertama kalinya setelah sekian lama tak menginjakkan kaki tepat ketika sidik jariku menempel pada mesin absen pukul delapan kurang. Butuh perjuangan yang keras untuk mendengar kata thank you dari mesin absen pada jam segitu. Perutku sakit. Wajar sekali karena tadi pagi aku belum ke toilet seperti pagi-pagi biasanya. Buru-buru ke kantordemi sebuah kata thank you. Toilet lantai dua tak bisa dipakai karena sedang dibersihkan. Sedangkan toilet bawah penuh terisi, mungkinkah semua orang sepertiku yang tak sempat p****p hanya karena mengejar waktu, hingga seluruh toilet terisi penuh pagi ini?

Toilet lantai 3 gedung baru, belum ada penghuninya. Emmm, maksudku belum semua karyawan dipindahkan kesana karena tak sepenuhnya selesai direnovasi. Apalagi kata-kata lelaki muda berKTP itu terngiang-ngiang di telingaku. Ih mba, satpam aja ga ada yang berani patroli malam-malam ke tempat itu.”

”Tapi toiletnya udah berfungsi kok.” Sebuah pesan yang kuingat. Kuseret langkah kesana. Berat memang, karena aku adalah si komplikasi. Penyakit penakutku akut, hayalan hororku luar biasa, nama-nama hantu kukantongi. Tapi perut dan hasrat untuk p****p lebih kuat. Ya sudahlah aku disana.

Singkat cerita si komplikasi ini menemui karmanya, dipermainkan oleh kekurang intelekannya dan terakhir diisengi what ever, karena kau tahu, AKU TERKUNCI DI DALAM TOILET. Mendorong pintu setan itu dengantenaga kuda. Mengetok-ngetok dan memanggil siapa saja yang mungkin kebetulan kesasar lewat ke sana. Panas bukan main. Memang tak sampai lima menit aku terkurung disana. Karena kau tahu, bukan tenaga kuda atau teriakan minta tolong yang dibutuhkan saat itu juga. Tapi ketenangan, don’t be panic, you know!

Pintu terbuka, walaaaaaaaaaah. sebegitu mudahnya. Tak ada pangeran penyelamat, atau paling tidak OB.

Satu yang pasti. Ini peringatan dibalik karma. Saranku janganlah kau berghibah, mengunyah petai atau jengkol ketika hendak diwawancarai atau hal bodoh dan buruk lainnya. Karena lambat laun semua akan dibalas.

Percaya padaku, kalau tidak kau akan terkunci didalam toilet. YOU KNOW!

Rabu, 27 Mei 2009

Fabio Rosa II (Tikus Buluk Hamelin)


”Ayahnya dokter Nawir M Hatta. Sungguh kau tidak mengenalnya? Rasanya namanya sudah terkenal dimana-mana.” Kedua alisnya bertaut. Bola matanya tak berkedip sedikitpun menatapku. Tatapan itu seolah sebuah sindiran bagiku, Apa yang kau tahu kawan, selain berbual, membuat bola-bola dari lumpur, bermain air di musim hujan., mengupas kulit tebu dengan gigimu atau memanjat pohon ceery untuk sekadar melihat sosok ibumu yang bersengai di bawah terik matahari di tengah sawah sana. Tidak ada. Kau itu nol, PIKIRKU.

Cukup sudah. Bukankah mengenal atau tidak dokter itu bukan hal yang penting. Mungkin sudah ratusan atau ribuan orang telah berobat dan berhasil beliau sembuhkan., tapi bagiku dia bukan siapa-siapa. Kami sekeluarga jarang sekali berobat ke dokter. Panas-panas sedikit amak langsung membuatkan obat pandeso, yaitu sebutir kunyit, air dan beberapa butir beras yang diletakkan dalam sebuah piring kecil. Kemudian kunyit itu dioleskan ke kening, tangan dan kaki. Pada obat tersebut dibacakan doa-doa khusus. Airnya dioleskan ke bagian kepala. Terakhir ubun-ubun kami ditiup tiga kali. Kunyit yang telah diolehkan tersebut kemudian dibuang sebagai simbol penyakit tersebut juga akan hilang terbuang bersama kunyitnya. Luar biasa memang. Setelah didesokan kunyit, kami kembali sehat. Jadi tak ada kata dokter dalam keluargaku. Tapi kalau sudah tak tertangani, biasanya paling banter kami sekeluraga berobat ke puskesmas. Ditangani bidan-bidan desa yang hebat luar biasa.

”Emmm, ya sudah kalau kau tidak mengenalnya. Kau tahu, dokter Nawir itu mengenal baik keluargaku. Ada waktu bila ibu bekerja dan mengajakku bersamanya ke rumah sakit, aku sering bersua dengan dokter Nawir. Pun halnya dengan Efar.” Aku mendengar nada suara Fabio berubah saat nama Efar meluncur dari bibirnya. Persis seperti saat aku mengucapkan nama Habibie. Tahukah kau, aku adalah penggemar berat lelaki pintar itu. Gerak matanya yang susah ditangkap serupa menangkap belut, merupakan isyarat ketajaman otaknya. Pameo bagi keluarga kami untuk ukuran kepintaran seseorang, bila ia ingin pandai maka tirulah Habibie.

Fabio mengagumi Efar. Sah-sah saja bukan. Tuan muda oryza sativa itu memang pantas dikagumi siapa saja. Ia bak pangeran muda yang mengundang gadis manapun berdecak kagum. Gadis-gadis itu datang berkerumun serupa tikus-tikus di negeri Hamelin, tersihir oleh tiupan seruling lelaki misterius. Dan Efar adalah lelaki misterius itu.

Efar dan Fabio adalah selebritas SMP Negeri tercinta. Manusia-manusia rancak yang selalu punya akses ke semua jaringan. Orang-orang akan menaikkan daun telinga hanya demi mendengarkan omongan mereka yang bukan apa-apa, tak pentinglah, tak akan merubah dunia sekalipun. Penyakit hatiku terkadang kambuh melihat manusia macam mereka. Bertolak belakang denganku yang nyaris invisible.

Siang itu kulihat Fabio terlihat murung. Ia tidak ceria seperti biasanya. Bandana merah muda dengan sebuah boneka kecil yang menjuntai di pinggirnya terlihat indah menempel di rambutnya. Keningnya yang biasa tertutup oleh poni terlihat putih bersih tersibak oleh bandana merah muda itu. Ada rambut-rambut halus dipinggirannya. Banyak sekali. Sesekali bergerak lembut mengikuti arah angin yang mempermainkannya. Betapa cantiknya gadis berkumis tipis yang ada dihadapanku ini. Apa gerangan yang ada di pikirannya saat ini. Tega sekali manusia yang telah membuat cela di hatinya.

”Dis ... Efar .... ” Tangis Fabio meledak. Ia tergugu. Ia memelukku erat. Aku merasa sesak, gelungan tangan Fabio seolah mencekik batang leherku. Membuat napasku tersengal. Linangan air mata Fabio seolah racun yang siap merembes ke dalam pori-poriku dan membuat ngilu seluruh sendi tubuhku sebelum membuatku terkapar lemah. Isak Fabio terdengar seperti dentuman mortir yang memecahkan anak telingaku. Fabio telah patah hati. Dan itu karena cinta. Cinta pertama untuk tuan muda oryza sativaku.

“Gimana, kau mau terima dia kan?” Rahmat mengulum senyum. Sore itu aku menjelma menjadi seekor tikus buluk tak tahu diri yang tersihir oleh tiupan seruling lelaki misterius di tanah Hamelin. Kepalaku seperti terlepas dari perintah otak, induk semangnya. Mengangguk pasrah atas sebuah permintaan. Permintaan seorang pendeta pemberkat pernikahan, Rahmat. Ia melobiku untuk sebuah perkara. Mengajukan sebuah proposal. Berisikan sebuah hati yang diperuntukkan bagiku. Dialah Tuan muda oryza sativa.

Sebuah hal yang tidak mungkin termaafkan. Fabio idolaku, sahabat terbaikku, pahlawan penjaga bualan Simpsonku, telah kukhianati. Cinta itu menghampiri kami berdua tapi tak terlalu mau berbaik hati, karena hanya memberikan sebuah nama, tanpa ada pilihan lain. Bi, Maafkan aku ... Maaf .....

Jakarta,24052009